Analis on-chain XWIN Research Japan di CryptoQuant melihat bahwa lonjakan ketegangan geopolitik global hanya memicu volatilitas jangka pendek pada Bitcoin, tanpa mengubah arah struktural jangka panjangnya.
Analisis tersebut menelaah data Exchange Netflow pada tiga konflik besar, yakni invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022, perang Israel–Hamas pada 7 Oktober 2023, serta eskalasi Iran–Israel pada 13 Juni 2025.
Hasilnya menunjukkan adanya lonjakan arus masuk Bitcoin ke bursa dalam waktu singkat, mencerminkan kepanikan atau reposisi investor. Namun dalam tiga bulan berikutnya, arus dana kembali ke kisaran normal tanpa perubahan struktural signifikan pada volume perdagangan.

XWIN Research Japan menyatakan bahwa konflik militer memang memicu gejolak harga, tetapi tidak mengganggu fondasi jaringan.
“Sejarah menunjukkan bahwa likuiditas dan regulasi, bukan perang, yang menentukan arah struktural Bitcoin,” tulis XWIN Research Japan
Pernyataan itu menegaskan bahwa faktor likuiditas dan regulasi dinilai lebih menentukan dibanding perang dalam membentuk arah jangka panjang Bitcoin.
Geopolitik Bergejolak, Protokol Bitcoin Tak Berubah
Menurut XWIN Research Japan, Bitcoin tidak terikat pada stabilitas fiskal satu negara sehingga konflik antarnegara tidak mengubah jadwal pasokan maupun fungsi jaringannya. Berbeda dengan mata uang fiat yang terpengaruh langsung oleh kebijakan fiskal dan kondisi ekonomi domestik, Bitcoin tetap berjalan sesuai protokol terdesentralisasi.
Selain itu, meningkatnya partisipasi institusi dan produk seperti exchange-traded fund (ETF) disebut turut meredam dampak kepanikan. Guncangan akibat berita geopolitik lebih banyak terserap melalui pasar derivatif ketimbang memicu aksi jual besar di pasar spot.
Namun laporan tersebut juga menekankan bahwa faktor makroekonomi seperti perang dagang, kenaikan tarif, pengetatan likuiditas, serta kontraksi aliran dolar global memiliki dampak yang lebih nyata.
Kondisi tersebut memengaruhi pasokan stablecoin, tren Realized Cap dan alokasi modal global, yang pada akhirnya membentuk arah Bitcoin dalam jangka menengah.
BTC Uji Level Biaya Akumulasi Kritis
Di tengah dinamika geopolitik tersebut, analis di CryptoQuant lainnya, Darkfost, melaporkan bahwa struktur pasar Bitcoin melemah setelah harga bergerak di bawah adjusted realized price. Untuk kali pertama dalam siklus ini, harga BTC dinilai bertahan di bawah rata-rata biaya akumulasi yang telah disesuaikan.

Metode tersebut mengecualikan pasokan yang tidak aktif lebih dari tujuh tahun dan dikategorikan sebagai hilang atau tidak bergerak. Setelah penyesuaian, rata-rata biaya akumulasi seluruh pemegang berada di kisaran US$72.700. Bitcoin telah diperdagangkan di bawah level tersebut selama hampir satu bulan.
Secara historis, ketika harga Bitcoin bertahan di bawah level ini, pasar memasuki fase bearish yang berlangsung antara enam hingga 12 bulan.
Agar struktur pasar kembali menguat, harga perlu merebut kembali level tersebut sehingga lebih banyak investor kembali berada dalam posisi cuan dan cenderung menahan asetnya ketimbang menjual.
Pola Fraktal 2022 Berpotensi Terulang
Sementara itu, analis Lofty menyampaikan pandangan berbeda. Dalam analisis teknikal, ia memperkirakan hanya tersisa satu kali tekanan jual besar sebelum pembalikan arah terjadi. Analis ini melihat bahwa, Bitcoin berpotensi membentuk dasar atau bottom di sekitar US$50.000 dan mengulang pola fraktal seperti pada 2022.

Lofty menyarankan pelaku pasar untuk memosisikan diri sesuai skenario tersebut. Dalam proyeksi lebih lanjut, ia memperkirakan Bitcoin berpeluang melesat hingga melampaui US$150.000 apabila pola historis terulang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



