Bos Binance: Saya Tak Paham Trading Bitcoin

Fenomenal! Dengan tanda seru yang bisa Anda tambahkan sendiri, barangkali kata itu layak disematkan kepada Changpeng Zhao (CZ). Betapa tidak. Pada 1 Juli 2017 ia mendirikan bursa kripto, Binance. Namun, dalam waktu sekitar enam bulan atau sejak Januari 2018, Binance sudah menjelma menjadi bursa kripto terbesar di dunia hingga saat ini. Mengutip data Coinmarketcap, volume perdagangan kripto yang difasilitasi Binance selama 30 hari terakhir hingga Selasa (12/3) mencapai sekitar US$22,6 miliar.

Trading Bot
Bisnis bursa aset kripto sangat menjanjikan saat ini. Hal itu juga mendorong banyak pelaku lain di sektor serupa untuk memudahkan perdagangan Bitcoin dan aset kripto lain.

Salah satu yang sedang menonjol saat ini adalah trading botEra Bitcoin yang legal“. Dilansir dari Snipp.org beberapa waktu lalu, Era Bitcoin memiliki tingkat keberhasilan hingga 97 persen. Trading bot ini bisa dipadukan dengan Binance.

“Hasil ini menunjukkan bahwa dimungkinkan untuk mendapatkan keuntungan yang cukup di setiap sesi perdagangan,” sebut Snipp dalam kajiannya.

Juga disebutkan, bahwa melalui pengujian kami Snipp, tampak bahwa algoritma pada Era Bitcoin ini mirip dengan platform perdagangan valuta asing.

“Caranya adalah dengan memberdayakan analisis terhadap sejumlah besar data dalam hitungan detik,” sebut Snipp lagi.

CZ Kaya Raya
Menjadi startup kripto paling bernilai, Binance menjadikan CZ terkenal dan kaya raya. Pada Februari 2018, Forbes menempatkannya di urutan ketiga dalam daftar “Orang Terkaya di Bisnis Mata Uang Kripto”. Pada September 2018, kekayaan bersihnya diperkirakan mencapai US$1,4 miliar. Mengutip Forbes, per Selasa (12/3/2019) total kekayaannya mencapai US$1,2 miliar. Ya, terpaut separuh lebih berbanding kekayaan Jogi Hendra Atmaja bos Grup Mayora, Indonesia, yang mencapai US$3,1 miliar.

Pekerja McDonald’s
Pada tahun 1977, CZ lahir di Provinsi Jiangsu, Tiongkok. Jiangsu adalah wilayah terpadat di Tiongkok dengan populasi lebih dari 79 juta jiwa. Beribukota Nanjing, Jiangsu memang pemimpin di sektor keuangan, pendidikan, teknologi dan pariwisata.

Pada akhir 1980-an, bersama keluarganya, CZ pindah ke Vancouver, Kanada. Kepindahan itu bukanlah karena keinginan sendiri, tetapi karena ayah CZ, seorang profesor di Tingkok dicap sebagai “intelektual borjuis” dan diasingkan dari negaranya. Di masa remaja, CZ membantu menghidupi keluarganya dengan mengerjakan sejumlah pekerjaan di industri jasa, termasuk menjadi karyawan di McDonald’s. Karena memang meminati perkembangan teknologi informasi, Zhao memutuskan mengambil jurusan ilmu komputer di Universitas McGill di Montreal, Kanada.

Setelah lulus, Zhao mulai bekerja di Bursa Efek Tokyo selama 4 tahun, mengembangkan perangkat lunak perdagangan efek. Dari Tokyo ia hijrah ke New York bekerja di Bloomberg Tradebook sebagai pengembang perangkat lunak perdagangan berjangka.

Pada tahun 2005 ia balik kampung, lalu pindah ke Shanghai untuk mendirikan Fusion Systems bersama 5 orang sahabat-sahabatnya. Sampai sekarang perusahaan itu masih beroperasi. Produk peranti lunak perusahaan CZ ini dikenal handal karena tercepat untuk menangani frekuensi tinggi perdagangan saham.

Setelah 8 tahun di Fusion Systems, pada tahun 2013 ia mulai terlibat di berbagai proyek kripto. Itu pun gara-gara pada tahun 2008 ia sering mengobrol soal Bitcoin dengan Bobby Lee (pendiri bursa BTC China) dan Ron Cao, salah seorang investor di BTC China. CZ juga sempat berlabuh di Blockchain.info (sekarang Blockchain.com) dan pernah menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) di bursa kripto OKCoin. Perjumpaannya dengan Vitalik Buterin sejak tahun 2013 di Las Vegas, dan tentu saja dengan pegiat kripto lainnya, menambah semangat CZ berenang di samudera baru itu.

Setelah 4 tahun bekerja untuk perusahaan lain, pada tahun 2017 CZ meninggalkan OKCoin dan mendirikan Binance pada Juli 2017. Sebagian modal pendirian diperoleh dari Initial Coin Offering (ICO) Binance (BNB) yang mencapai US$15 juta dalam 20 hari. Kala itu aset kripto Binance masih menumpang di blockchain Ethereum buatan Vitalik. Dan CZ beruntung, dalam waktu sekitar enam bulan, ia mampu membawa  Binance menjadi bursa kripto raksasa di dunia berdasarkan volume perdagangan.

“Binance adalah puncak tertinggi hidup saya, setelah selama 20 tahun perjalanan membuat peranti lunak perdagangan saham dan aset kripto. Kami beruntung. Saya sebenarnya tidak paham cara trading yang benar. Saya trader yang buruk. Tetapi saya tahu benar bagaimana cara kerjanya sehingga saya bisa membuat peranti lunak yang tepat untuk trading. Saya ini ibarat seorang pembuat pedang bagi para pendekar,” kata CZ kepada Cointelegraph pada Oktober tahun lalu.

Pada September 2017 Pemerintah Tiongkok melarang perdagangan kripto di negara itu. Binance pun terpaksa angkat kaki dan pindah ke Jepang. Pada Maret 2018, Binance juga membuka kantor di Taiwan. Di bulan yang sama CZ berniat membuka kantor di Malta, setelah peraturan di Jepang dan Tiongkok semakin ketat. Kini Binance bermarkas di Hong Kong dan punya perwakilan di Singapura, London dan Shibuya, Jepang.

Pada April 2018, Binance menandatangani perjanjian kerjasama dengan pemerintah Bermuda dan Bursa Efek Malta beberapa bulan kemudian. CZ membantu Malta untuk mengembangkan platform perdagangan token sekuritas.

Kepakan sayap Binance tak berhenti. Pada 16 Januari 2019 lalu, perusahaan mengumumkan peluncuran Binance Jersey (Binance.je), bursa kripto yang fokus melayani pasar Eropa dengan menyediakan pair Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH) dengan euro (EUR) dan poundsterling (GBP).

Pada akhir Januari 2019, Binance juga mengumumkan kemitraan dengan perusahaan payment Simplex, yang memungkinkan pengguna membeli kripto dengan kartu kredit atau kartu debit berlogo Visa dan Mastercard.

Tak seperti bursa kripto kebanyakan, Binance mengembangkan teknologi blockchain sendiri, yakni Binance Chain yang versi test net-nya diluncurkan pada 20 Februari 2019 lalu. Sejatinya memiliki blockchain sendiri adalah cita-cita CZ, sejak Binance berdiri. Terhadap komunitas, tanpa menumpang blockchain lain adalah nilai tambah, karena mencerminkan keahlian dan keseriusan untuk bertumbuh.

“Sejak Binance dibuat, kami telah membayangkan pembuatan blockchain asli untuk platform kami,” tulis Binance dalam blog perusahaan pada 18 Februari lalu.

Tak hanya itu, untuk menegaskan keahlian tim Binance, CZ pun membuat Binance DEX, platform perdagangan desentralistik yang berjalan di atas Binance Chain. Ini memberikan alternatif kepada pengguna selain platform Binance biasa yang sentralistik. CZ tentu paham nalar para pengguna yang ingin punya kendali penuh atas semua aset kriptonya, karena mereka bisa menyimpan private key-nya sendiri. Artinya, jika pengguna kehilangan duit di Binance DEX, jangan salahkan CZ, karena ia tak menyimpan private key aset Anda.

“Binance Chain menyelesaikan transaksi nyaris secara instan, dengan rentang waktu antar blok hanya satu detik. Ini lebih cepat dibandingkan blockchain lain dan sama nyamannya dengan Binance yang biasa,” kata CZ kepada media belum lama ini.

Tapi cita-cita terbesar CZ adalah mengembangkan Binance Chain agar mampu menangani 40 ribu transaksi per detik. Angka itu jelas jauh melebihi kemampuan Visa, yakni rata-rata 24 ribu transaksi per detik. [jul]

Terkini

Warta Korporat

Terkait