Cocokologi: Whitepaper Bitcoin, Hari Ini 12 Tahun Lalu

Whitepaper Bitcoin yang ditulis oleh Satoshi Nakomoto, diumumkan terbit pada 31 Oktober 2008 silam. Tanggal itu menandai lahirnya sistem uang elektronik yang revolusioner, sekaligus jenis uang baru yang belum pernah ada sebelumnya dalam peradaban manusia.

I’ve been working on a new electronic cash system that’s fully peer-to-peer, with no trusted third party. The paper is available at: http://www.bitcoin.org/bitcoin.pdf,” tulis Satoshi Nakamoto di online forum Metzdowd, Jumat, 31 Oktober 2020, pukul 14:00 EDT (Eastern Daylight Time).

Sosok Satoshi, entah dia itu pribadi, sekelompok orang atau perusahaan, masih menjadi misteri hingga saat ini.

Ia sama misteriusnya dengan alasan mengapa dia memilih mengumumkan terbit whitepaper itu pada 31 Oktober.

Kita sah-sah saja menafsirkan itu bukan sebuah kebetulan, melainkan direncanakan untuk mendapatkan momen khusus dan spesifik, sekaligus menandai satu makna yang penting dan besar.

Itu sama halnya dengan blok perdana alias genesis block transaksi Bitcoin pada 3 Januari 2009, yang dikaitkan dengan krisis ekonomi global yang dimulai tahun 2008. Sebuah peristiwa besar yang sulit dilupakan.

Di genesis block itu Satoshi menulis: “The Times 03/Jan/2009 Chancellor on brink of second bailout for banks”.

Pesan itu mengacu pada judul utama surat kabar Inggris, The Times, soal dana talangan tahap kedua oleh Pemerintah Inggris kepada sejumlah bank, terkait krisis hebat yang melanda kala itu.

BERITA TERKAIT  Pertambangan Bitcoin di Kanada: Sudah Bangkrut, Berutang Rp140 Miliar Pula

Lantas mengapa Satoshi memilih tanggal 31 Oktober sebagai tanggal pengumuman diterbitkannya whitepaper itu? Kita penting mengajukan pertanyaan ini, karena tidak ada debat soal ini oleh Satoshi kala itu.

Penting pula diingat, bahwa paparan kami berikut ini sangat mudah ditafsirkan sebagai “cocoklogi”.

Seram Halloween, Lebih Seram Ekonomi
Tanggal 31 Oktober dikenal luas sebagai hari raya Halloween yang digelar di sejumlah negara di dunia, utamanya di wilayah Barat.

Kendati saat ini menjadi pop culture Halloween bersimbolkan “si labu seram berlampu” dan beraneka kostum mengerikan lainnya, Halloween dalam perjalanannya punya kaitan erat dengan ritual Kekristenan Barat.

Halloween atau Hallowe’en adalah kependekan dari “All Hallows’ Evening”, yang berarti Malam Hari Semua Orang Kudus. Sebutan lainnya adalah “Allhalloween“, “All Hallows’ Eve“, atau “All Saints’ Eve“.

Singkatnya, secara historis, Halloween adalah perayaan untuk mengenang orang-orang yang telah meninggal dunia, termasuk orang-orang Kristen yang kudus/suci (santo, santa), arwah orang-orang martir dan yang beriman.

Dari sana Anda bisa menafsirkan sendiri, bahwa Satoshi mungkin menggunakan hari Halloween sebagai penanda unik, sehingga lebih mudah diingat ataupun dikenang.

Atau pula sejumlah sifat dari Halloween itu memiliki kemiripan dengan situasi keuangan global di masa tahun 2008, termasuk potensi serupa di masa depan. Dan sekarang kita menghadapi situasi yang tak kalah peliknya, belum sembuh sakit tahun 2008, rapuh, lalu dihantam pandemi COVID-19.

Jadi, jikalau Halloween adalah “seram” dalam konteks kearwahan, klenik, “astral”, “hidup yang kekal”, maka keuangan global parah adalah “horor” yang tak kalah menakutkan dan menyengsarakan, bahwa membunuh.

Bisa pula ditafsirkan bahwa dunia memang perlu sistem uang yang baru, terpisah sebagian dari negara dan dikembalikan kepada orang-orang biasa.

Oleh Satoshi, mungkin pula ada pendekatan terhadap karakter orang-orang Kristen yang suci (terkait sejarah awal Halloween), bahwa pembuat kebijakan harus bersikap bijak dan berani untuk membela rakyat yang lemah.

BERITA TERKAIT  Bloomberg: Harga Bitcoin Berpotensi US$20 Ribu (Rp283 Juta) Tahun Ini

Protes Demi Perubahan
31 Oktober 1517 juga diperingati sebagai Hari Reformasi Protestan, yang berpangkal pada kritik Martin Luther terhadap praktik penjualan indulgensi oleh Gereja Katolik.

Kala itu Martin menerbitkan satu tulisan lengkap tentang protes dan kritiknya itu, yang dikenal dengan “95 Dalil“. Martin memang dikenal luas sebagai profesor cerdas di Universitas Wittenberg, Jerman, sekaligus ia sebagai imam Katolik.

Dalam beberapa segi yang kecil, tentu argumen tertulis Satoshi dan Martin punya motif yang teguh, sebuah antitesis dan keinginan untuk mengubah status quo yang mengekang masyarakat. Isi tulisan mereka senada, yakni sifat berani, kritis, agresif dan melawan.

Bulan Oktober Hanya 21 Hari, 21 Juta Pasokan Maksimal Unit Bitcoin
Pada tahun 1582 bulan Oktober hanya memiliki 21 hari di benua Eropa. Hal ini terjadi karena adanya kesepakatan para oleh dewan Katolik yang merupakan agama dengan penganut terbanyak di Eropa.

BERITA TERKAIT  Ripple Kucurkan Dana, MoneyGram Malah Pakai Teknologi Visa

Saat itu mereka tidak menggunakan tanggal 5 hingga 14, mengubah sistem Kalender Julian. Namun karena memicu protes dan kericuhan, akhirnya dikembalikan dengan sistem kalender saat ini.

Namun, peristiwa besar dan bersejarah “21 hari bulan Oktober” itu selayaknya sebagai penanda baru, alih-alih tafsir motif Satoshi dengan pasokan maksimal Bitcoin sebanyak 21 juta unit.

Namun yang pasti, hari ini kita menghadapi angka-angka cantik itu dengan beragam tafsiran yang menarik: “12 Tahun Whitepaper Bitcoin”, “21 Juta Unit Pasokan Maksimal Bitcoin”, “US$12.000 per BTC (lebih dari Rp120 juta) Sebagai Wilayah Penting Penguatan Baru yang Telah Tercapai, “Whitepaper Bitcoin sudah dirujuk lebih dari 12 Ribu Kali di Google”, termasuk “Rp200.100.000 per BTC (28 Oktober 2020)”.

Di penghujung artikel ini, saya ingin menitipkan sejumput hal yang bisa Anda tafsirkan sendiri atau bolehlah lakukan “cocokologi“: 1. Transaksi Bitcoin bersifat kekal, 2. Halloween merayakan keinginan hidup kekal, 3. Hal Finney, teman mining Satoshi Nakamoto “wafat abadi” di peti cryogenic. []

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO