Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Bagi investor, kondisi ini memicu kekhawatiran, terutama setelah periode kenaikan yang tinggi sebelumnya. Namun, di balik penurunan tersebut, ada pola yang sebenarnya sudah berulang sejak lama.
Menurut Oscar Darmawan, pergerakan harga BTC saat ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Ia menilai, apa yang terjadi sekarang justru merupakan bagian dari siklus alami yang sudah terprogram dalam sistem Bitcoin itu sendiri.
Penurunan Harga Bitcoin Merupakan Siklus Berulang
Dalam podcast di kanal YouTube Theresa Learns yang diunggah pada Sabtu (21/03/2026), Oscar Darmawan menjelaskan bahwa Bitcoin memiliki pola pergerakan yang cenderung berulang setiap empat tahun.
Siklus kenaikan dan penurunan harga Bitcoin berkaitan erat dengan mekanisme halving, yang secara otomatis mengurangi suplai baru ke pasar.

Jika melihat ke belakang, pola serupa pernah terjadi pada 2012, 2016–2017, 2020, hingga 2024. Dalam setiap siklus tersebut, harga Bitcoin biasanya mengalami kenaikan, diikuti oleh fase koreksi .
“Kalau harganya sudah tinggi sekali, memang harus turun. Apa yang naik pasti akan turun,” jelasnya.
Dalam konteks saat ini, tahun 2026 dinilai sebagai fase setelah halving, di mana tekanan harga mulai terlihat. Dengan kata lain, penurunan ini bukan anomali, melainkan bagian dari siklus yang terus berulang.
BTC Bisa Turun ke US$45.000, Tapi Ada Batas Psikologis
Lebih lanjut, pendiri Indodax tersebut juga mengungkapkan skenario pergerakan harga dalam fase penurunan ini. Dalam kondisi terburuk, ia menilai harga Bitcoin berpotensi turun hingga kisaran US$45.000-US$50.000.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa menembus level US$50.000 mungkin bukan hal yang mudah. Ada faktor biaya produksi atau mining cost yang menjadi semacam “lantai” alami bagi harga Bitcoin.
“Kalau mendekati US$50.000, biasanya akan ada dorongan beli karena dianggap murah,” ujarnya.
Menurutnya, biaya produksi mining Bitcoin di beberapa wilayah seperti Eropa dan Asia Tengah berada di kisaran tersebut. Hal ini menciptakan area support yang cukup kuat untuk menahan penurunan.
Oscar Darmawan Prediksi Harga Bitcoin Bisa Turun ke US$45.000
Dengan demikian, meskipun skenario penurunan harga Bitcoin ke angka US$45.000 masih mungkin terjadi, level tersebut diperkirakan tidak akan ditembus dengan mudah tanpa tekanan besar.
Tanpa Likuiditas Besar, Harga Bitcoin Sulit Bangkit
Selain siklus halving empat tahunan, Oscar Darmawan menyoroti faktor lain yang tak kalah penting, yaitu likuiditas. Ia menilai pasar kripto saat ini masih sangat bergantung pada aliran dana, terutama dari institusi besar.
Meski minat terhadap Bitcoin terus meningkat, aliran dana dari sektor finansial tradisional belum sepenuhnya masuk secara optimal. Hal ini membuat pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap tekanan.
“Kripto itu sangat bergantung pada likuiditas. Untuk jadi benar-benar mainstream, dana dari dunia finansial harus masuk lebih besar,” jelasnya.
Dalam kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, likuiditas cenderung tertahan. Akibatnya, tekanan terhadap harga Bitcoin pun menjadi lebih terasa.
Meski saat ini berada dalam fase penurunan, pendiri Indodax tersebut tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. Ia melihat pola yang sama akan kembali berulang seperti siklus-siklus sebelumnya.
Jika mengikuti pola tersebut, fase penurunan ini berpotensi berlangsung hingga periode tertentu sebelum harga BTC mulai stabil dan kembali naik menjelang siklus berikutnya, yang diperkirakan akan menguat kembali pada 2028.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


