Kinerja Bitcoin Positif pada Desember 2022?

Memasuki Desember 2022, kripto wahid Bitcoin menunjukkan kinerja positif. Melalui akun Twitter, Santiment menyampaikan laporan bahwa BTC melonjak naik pasca Federal Reserve mengumumkan kemungkinan akan menaikkan suku bunga, tetapi lebih kecil daripada sebelumnya.

Melansir Watcher.Guru, platform analisis on-chain mencuit, harga BTC naik 1 persen menjadi US$16.982 atau sekitar Rp265,3 juta.

TradingView Chart

Perusahaan Santiment menimpali, pasar mungkin menghadapi bullish yang kuat menjelang pertemuan FOMC 13-14 Desember 2022.

IKLAN

Perlu dicatat bahwa hasil rapat bank sentral (FOMC) sering memicu volatilitas di pasar crypto

Baik Bitcoin, maupun Ethereum, bereaksi dengan menyaksikan lonjakan signifikan pasca pertemuan FOMC. Selain itu, FOMC biasanya mempengaruhi selera risiko investor.

Sebelumnya, Watcher. Guru mengutip Ketua Federal Reserve, Jerome Powell bahwa pihaknya mengisyaratkan potensi penurunan kenaikan suku bunga selama bulan Desember. 

Dalam pertemuan kedelapan dan terakhirnya pada 2022, Federal Reserve kemungkinan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin lagi, atau 0,5 poin persentase.

IKLAN

Selama pertemuan terakhirnya di tahun 2022, Powell mencatat bahwa Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin atau 0,5 poin persentase.

Suku bunga jangka pendek akan meningkat sebesar 50 basis poin ke kisaran target 4,25 hingga 4,50 persen.

Setelah Naik ke US$17.000, BTC Turun ke US$16.959

“Saat ini agak stabil di sekitar US$16.000. Turun dari US$17.000 adalah resisten yang layak, karena arus masuk modal baru tidak besar. Akan ada banyak periode ‘stabilisasi’ dan lebih banyak trader meninggalkan sentimen short terhadap BTC,” kata Edward Moya, Analis OANDA, kepada MarketWatch, Kamis (1/12/2022).

Moya mengatakan data pekerjaan bulanan di AS Oktober 2022 yang dirilis pada hari Jumat akan menjadi data penting bagi Bitcoin dan aset kripto secara umum, bahwa apakah pasar tenaga kerja akan mengalami perlambatan yang lebih luas.

Data terkini CME FedWatch Tool menyebutkan sentimen pasat sepakat dengan besaran suku bunga acuan The Fed hanya sekitar 50 basis point pada Desember 2022.

“Masuk akal untuk memoderasi laju kenaikan suku bunga kami saat kami mendekati tingkat pengekangan yang akan cukup untuk menurunkan inflasi,” kata Powell.

Spekulasi atas kenaikan suku bunga yang lebih kecil meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah dua laporan inflasi berturut-turut yang lebih rendah dari perkiraan oleh Departemen Tenaga Kerja AS memberi para gubernur bank sentral sedikit kelegaan bahwa tekanan harga mulai mereda.

Dia menambahkan, waktu untuk memoderasi laju kenaikan suku bunga mungkin akan datang segera setelah pertemuan FOMC pada Desember mendatang.

Ketua Fed juga mengatakan tingkat terminal akan lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya dalam proyeksi ekonomi terbaru oleh FOMC pada September, yang memproyeksikan tingkat suku bunga setinggi 5 persen.

“Tingkat suku bunga akhir harus agak lebih tinggi dari yang diperkirakan pada saat pertemuan September dalam ringkasan proyeksi ekonomi,” kata Powell.

Sebagaimana dilaporkan Santiment, Bitcoin bergerak dari level terendah US$16.755,88 ke level tertinggi US$17.194,06. 

Pada saat artikel ditulis, BTC diperdagangkan seharga US$17.150,52 dengan kenaikan harian 1,72 persen.

Ethereum [ETH], crypto utama terbesar kedua juga tampaknya juga menunjukkan kenaikan. Altcoin naik 1,57 persen dan diperdagangkan seharga US$1.286.

Besaran suku bunga yang lebih kecil daripada sebelumnya akan berdampak pada koreksi dolar AS secara global yang pada ujungnya dapat memicu aksi beli lanjutan baik di pasar saham ataupun kripto.

Namun, patut dicatat, bahwa target inflasi The Fed adalah 2 persen secara tahunan yang diproyeksi dapat dicapai pada tahun depan atau lebih cepat, jika data ekonomi lain menunjukkan nada positif. Inflasi tahunan di AS per November 2022 adalah 7,7 persen.

Trading Ecomics memprakirkan inflasi AS akan melandai sebesar 7,4 persen pada Desember 2022 . Tahun depan per laporan kuartal akan mencapai 6,9 pada kuartal pertama. Diikuti kuartal kedua, ketiga dan keempat, masing-masing sebesar 5,4 persen, 4 persen dan 1,9 persen.

Indeks dolar AS menurun sejak Oktober 2022 seiring inflasi AS yang melandai, namun belum mencapai sasaran 2 persen.

Indeks dolar menahan penurunan baru-baru ini di bawah 105 pada Jumat (2/12/2022) dan berpotensi mengakhiri minggu ini dengan nilai lebih rendah. Pasalya investor bersikap hati-hati menunggu laporan pekerjaan November 2022, yang akan menjadi rilis pekerjaan bulanan terakhir sebelum FOMC pada 13-14 Desember 2022.

Greenback turun sekitar 1 persen pada Kamis setelah inflasi AS melambat ke tingkat terendah sepuluh bulan pada Oktober 2022. Sementara itu aktivitas manufaktur AS turun lebih dari yang diharapkan pada November. [ab]

spot_img
spot_img

Terkini

Terkait