Lowongan Kerja Blockchain Didominasi Perusahaan Tradisional

108
IKLAN

Kelesuan pasar kripto dan blockchain memang berdampak pada dirumahkannya sejumlah karyawan di industri ini. Tetapi lowongan pekerjaan di sektor ini ternyata terbuka lebar. Menurut informasi dari Glassdoor, Amerika Serikat adalah negara terdepan dalam hal peluang untuk pekerjaan di bidang blockchain, disusul oleh Inggris dan India.

Berdasarkan hasil penelusuran TheNextWeb, saat ini, Glassdoor menampilkan lowongan untuk 5.711 pekerjaan blockchain secara global. Separuhnya berasal dari AS, sebanyak 2.616. Inggris memegang posisi kedua dengan 1.015 lowongan terkait blockchain, sedangkan India membuka 257 lowongan.

Insinyur Blockchain adalah lowongan yang paling umum, tetapi belum jelas apa yang dimaksud dengan hal tersebut. Biasanya posisi insinyur (engineer) dapat mencakup berbagai macam tanggung jawab. Insinyur Blockchain Senior dan Pengembang Blockchain adalah lowongan kedua dan ketiga paling umum.

Posisi-posisi tersebut adalah jenis lowongan yang dicari oleh Facebook. Hal itu tidak mengejutkan, mengingat raksasa media sosial tersebut memiliki tim berisi 50 orang yang dikabarkan mengerjakan proyek rahasia terkait blockchain dan kripto.

Dari 10 perusahaan teratas yang membuka lowongan blockchain, hanya tiga berasal dari industri blockchain, yaitu Foris Limited, Crypto.com dan Wirex. Selebihnya merupakan perusahaan-perusahaan tradisional seperti IBM, Ernst & Young (EY), Oracle, Accenture, Deloitte dan PwC. Perusahaan-perusahaan tersebut umumnya dikenal tidak terkait dengan blockchain, tetapi mulai terjun ke sektor ini.

Baru-baru ini, EY meluncurkan alat akuntansi pajak kripto bagi investor, dan IBM telah mengerjakan solusi blockchain bagi perusahaan. Jika ditilik ulang, lowongan-lowongan tersebut bukan hal aneh.

Selain perusahaan-perusahaan tersebut, nama-nama terkenal di industri blockchain seperti Ripple dan ConsenSys juga muncul. Kendati demikian, dari 20 perusahaan teratas, kurang dari setengah yang merupakan startup khusus blockchain atau terkait kripto secara langsung.

Tampaknya seiring minat di pengembangan kripto menurun, minat institusi soal blockchain masih bertahan, dan banyak perkembangan yang terjadi di AS. Bisa jadi, minat institusi inilah yang akan mendorong pasar kripto keluar dari kelesuan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Laporan PwC tahun lalu menemukan Tiongkok adalah pengembang blockchain terbesar kedua setelah AS. Tetapi, diperkirakan pada tahun 2023 posisi itu akan berbalik dan Tiongkok akan menjadi negara yang memimpin pengembangan teknologi blockchain.

Perlu dicatat Glassdoor adalah situs berbahasa Inggris, sehingga mungkin berdampak terhadap data yang dikumpulkan. Tetapi kesimpulan yang dapat ditarik adalah AS masih mendominasi pekerjaan di bidang blockchain, dan hanya sebagian kecil lowongan yang terkait kripto. [thenextweb.com/ed]

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini