Menakar Kenaikan Harga Bitcoin Setelah Bitcoin Halving 2020

Kenaikan harga Bitcoin setelah Bitcoin halving terjadi sebanyak dua kali. Berdasarkan konsep, bahwa sejarah akan berulang, mungkinkah Bitcoin Halving 2020 (ketiga) pada Mei 2020 mampu melejitkan Bitcoin melampaui, setidaknya US$20 ribu? atau Rp2,9 miliar?

Tulisan ini telah diperbarui di bagian sub judul Skenario Terbalik. Lihat di bagian bawah.

Harga Bitcoin cenderung naik setelah dua halving sebelumnya.

Halving Pertama
Pada Bitcoin halving Pertama, 28 November 2012, harga Bitcoin sekitar US$12. Kenaikan harga terbentuk satu tahun sebelum halving, di mana 1 BTC berharga sekitar US$2,5. Lalu, 6 bulan berikutnya naik menjadi US$5.

Harga Bitcoin menguat secara besar-besaran hanya 6 bulan setelah halving. Bitcoin menguat 1025 persen menjadi sekitar US$125 per BTC.

Kenaikan harga Bitcoin satu tahun sebelum halving pertama, 28 November 2012.

Dari tanggal halving pertama hingga berpuncak pada November 2013 (sekitar 1 tahun), harga Bitcoin menguat sebesar 9.666 persen menjadi sekitar US$1160 per BTC.

Jadi, tren naik yang dimulai pada November 2011, hingga puncaknya pada November 2013, harga Bitcoin menguat 46.400 persen!

Pada akhir 2013, skandal penggelapan Bitcoin oleh MtGox di Jepang menyebabkan nilai Bitcoin hilang lebih dari 80 persen. Ini juga merupakan awal dari bearish panjang bagi Bitcoin. Butuh hampir dua tahun lamanya.

Penurunan harga Bitcoin yang disebabkan oleh skandal MtGox di Jepang.

Halving Kedua
Halving kedua terjadi pada 9 Juli 2016. Saat itu 1 BTC bernilai sekitar US$650 atau naik sekitar 5.400 persen dibandingkan harga pada halving Pertama.

Tren naik harga Bitcoin mulai terbentuk sekitar 9 bulan sebelum halving. Sekitar 1 tahun sebelum halving 1 BTC bernilai sekitar US$275 dan 6 bulan sebelum halving, 1 BTC bernilai sekitar US$380.

Pemuncakan harga Bitcoin di US$20.000 setelah halving Kedua. Harga itu merupakan harga Bitcoin tertinggi sepanjang masa.

Kenaikan gila-gilaan terjadi selama 18 bulan, di mana Bitcoin menguat sekitar 3.085 persen dari tanggal Halving Kedua, menjadi sekitar US$20.000 per BTC pada medio Desember 2017. Kenaikan itu berlangsung sekitar 18 bulan dan memuncak pada akhir 2017.

Dari tren naik yang dimulai pada Oktober 2015, hingga puncaknya pada Desember 2017, harga BTC menguat 6.666 persen!

Penurunan harga dan retrace (pembalikan arah harga) berlangsung panjang. Ini terjadi setelah mencapai puncak harga dan mirip dengan Halving Pertama. Bitcoin turun hampir 85 persen selama 12 bulan setelah mencapai puncaknya pada 2017, hingga Bitcoin mencapai titik terendah sekitar US$3100 pada Desember 2018.

Halving Ketiga
Halving Ketiga diperkirakan akan jatuh pada 14 Mei 2020. Sejak Bitcoin mencapai titik terendahnya di US$3.100 pada Desember 2018, Bitcoin naik hingga US$7.200 per Januari 2020 ini.

Jika kita mengikuti pola dua halving sebelumnya, maka rata-rata kenaikan harga Bitcoin setelah halving adalah 3.000 persen. Jika menggunakan harga support adalah US$7.200, maka, harga Bitcoin berpotensi naik menjadi US$216.000 (Rp2,9 miliar).

Kesimpulan
1. Halving adalah faktor terpenting dalam mengukur potensi kenaikan harga Bitcoin, melebihi harga tertinggi sebelumnya.

2. Bitcoin cenderung memulai kenaikan harga baru setidaknya satu tahun sebelum halving. Lalu melanjutkan penguatan itu setelah halving, yang berlangsung setidaknya selama satu tahun juga.

3. Harga berbalik arah (retrace) setelah siklus harga baru terbentuk. Pembalikan arah itu rata-rata terjadi selama satu tahun. Tercatat, Bitcoin pernah kehilangan nilainya hingga 80 persen pada masa pembalikan arah itu.

4. Bitcoin selalu membentuk harga terbaru tertinggi setelah halving. Namun, secara historis, untuk mencapai itu, perlu beberapa bulan setelah tanggal halving.

5. Bitcoin naik setidaknya rata-rata 3.000 persen setiap setelah halving. Jika menggunakan asumsi itu, dengan harga acuan US$7.200 per BTC, maka Bitcoin bisa mencapai US$216.000 (Rp2,9 miliar) per BTC, paling tidak satu tahun setelah halving Mei 2020, yakni Mei 2021 atau beberapa bulan setelah Mei 2021.

Skenario Terbalik
Namun, tak salah mempertimbangkan pendapat lain, bahwa harga naik setelah Halving adalah pandangan yang spekulatif, karena tidak mempertimbangkan banyak faktor.

Pertama, pada dua Halving pertama Bitcoin masih belum terlalu popular seperti sekarang. Artinya pemainnya tidak terlalu banyak dan bentuk pasarnya tidak sejamak saat ini, karena selain ada spot market, ada pula pasar derivatif seperti di Bitmex, CME, Bakkt dan banyak lagi. Pasar derivatif di Bitmex misalnya rentan memanipulasi harga di spot market, sehingga memunculkan kepanikan besar-besar dalam aksi jual.

Kedua, Bitcoin belum pernah mengalami kontraksi besar-besar dalam krisis ekonomi besar dan berskala global. Ini terjadi pada 12-13 Maret 2020, pasar aset kripto anjlok lebih dari 40 persen dalam waktu singkat.

Ketiga, kendati rebound kurang dari sepekan sejak tanggal itu, penambang Bitcoin sejatinya masih merana, karena minimal harga pasar Bitcoin setidaknya di rentang US$7.200.

Keempat, ketiga Halving pada Mei 2020 nanti, penambang Bitcoin berharap harga Bitcoin jauh lebih tinggi daripada harga saat ini agar tetap bertahan.

“Dengan asumsi itu, setelah Halving Mei 2020 nanti, kami memperkirakan biaya kotor produksi per Bitcoin adalah US$12.000-15.100. Jadi harga pasar harus terjaga di rentang itu,” jelas TradeBlock dalam laporan terbarunya.

Mempertimbangkan pernyataan Gabriel Rey CEO Triv juga tak ada salahnya. Dia bilang begini, “Jika harga Bitcoin tidak naik melampaui harga tertinggi sepanjang masa (US$20.000) setelah halving hingga tahun 2021, bahkan malah turun harganya, maka saya rasa ekosistem aset kripto juga akan gagal dan banyak perusahaan kripto akan memutuskan untuk gulung tikar. Pasar jadinya kehilangan kepercayaan diri. [Coinmonk/Red]

Terkini

Warta Korporat

Terkait