Morgan Stanley: Kripto Jadi Alat Pembayaran Semakin Luas

Dalam laporan terbaru yang dirilis Kamis (21/04/2022), Morgan Stanley berkata kripto semakin menjadi alat pembayaran yang diterima secara luas.

Kendati demikian, masih sedikit masyarakat yang memakai kripto untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Sebab, biaya transaksi masih tinggi dan pedagang belum banyak yang menerima kripto.

Kripto Kian Luas Sebagai Alat Pembayaran 

Raksasa perbankan tersebut menyatakan, perusahaan pembayaran Strike belum lama ini mengumumkan kemitraan dengan penyuplai point-of-sales NCR dan layanan pembayaran Blackhawk Network.

Kemitraan tersebut berarti sejumlah besar toko-toko dan restoran di AS akan segera dapat menerima Bitcoin (BTC). Rancangan sistem pembayaran Strike memanfaatkan Lightning Network untuk memroses transaksi.

Dikutip dari Coindesk, Morgan Stanley berkata kemitraan dengan toko-toko fisik merupakan pencapaian lebih penting bagi evolusi penggunaan BTC sebagai alat pembayaran.

“Pasalnya, lebih dari 85 persen penjualan di AS terjadi di toko dibanding secara online,” jelas Morgan Stanley.

Biaya mengirim transaksi Bitcoin memakai Lightning Network hampir nol. Hal ini berarti lebih praktis untuk melakukan pembayaran kecil memakai Bitcoin dibanding kartu debit seperti pada umumnya.

Riwayat volatilitas harga barang bila diukur memakai BTC turut menjadi hambatan penggunaan aset digital. Tetapi Morgan Stanley berargumen, kemampuan pedagang untuk menerima kripto, baik melalui kartu kripto atau terminal pembayaran yang ada saat ini, dapat berakibat kepada turunnya volatilitas dalam digital aset.

Kripto sudah digunakan sebagai mata uang di dunia aset digital, jelas laporan tersebut. Ethereum (ETH) adalah aset kripto yang dominan dibutuhkan untuk membeli NFT. NFT adalah aset digital pada blockchain yang mewakili kepemilikan benda fisik atau virtual yang dapat diperdagangkan.

Seiring lebih banyak brand mencari cara beriklan di metaverse, maka akan ada peningkatan kebutuhan untuk menerima beragam metode pembayaran, termasuk kripto.

Berkas Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) AS yang diterbitkan pada Juni tahun 2021 mengungkap reksadana Morgan Stanley, Europe Opportunity Fund, memiliki saham Grayscale Bitcoin Trust (GBTC) setidaknya senilai US$880 ribu atau sekitar Rp12,8 miliar per April 2021.

Tidak hanya itu, pada pertengahan Maret tahun lalu, Morgan Stanley menjadi bank asal AS pertama yang menawarkan nasabah akses ke reksadana Bitcoin seperti FS NYDIG Select Fund, Galaxy Bitcoin Fund LP dan Galaxy Institutional Bitcoin Fund LP. [ed]

spot_img

Terkini

Terkait