Oktober 2019, Vexanium Perkenalkan Teknologi Blockchain di 3 Kampus di Surabaya

1024
Danny Baskara, CEO Vexanium.

Sebagai blockchain publik pertama di Indonesia, Vexanium ingin membuat perubahan besar di Indonesia dengan teknologi dan ekosistem blockchain yang terpadu. Langkah utama untuk mewujudkan misi itu adalah mendidik masyarakat tentang teknologi blockchain.

“Salah satu target penting untuk misi pendidikan ini adalah mahasiswa, karena di tengah persaingan yang ketat ini, pengetahuan tentang teknologi blockchain dapat menjadi bekal yang sangat penting bagi mereka,” kata Edward Gustaff Community Manager Vexanium kepada BlockchainMedia Jumat (28/09).


Vexanium akan menggelar acara “Vexanium Goes to Campus” pertamanya pada 1-4 Oktober 2019 di 3 universitas berbeda di Surabaya, yakni Universitas Airlangga, Universitas Dinamika dan Universitas ITS.

Di bawah bendera PT. Wujudkan Mimpi Indonesia, Vexanium dirintis pada tahun 2018. Ketika itu Vexanium masih menggunakan blockchain Achain. Namun, seiring dengan perkembangan industri blockchain, Vexanium merasa perlu membuat teknologi blockchain sendiri, tanpa bergantung sepenuhnya dengan blockchain yang lain.

BERITA TERKAIT  Bos SBI: Semua Bank di Jepang Disarankan Pakai Ripple

Sejak 26 Juni 2019, barulah Vexanium merampungkan sebagian teknologi blockchain-nya dan resmi hijrah dari Achain. Setelah 19 April 2019 Vexanium pun meluncurkan versi test net (uji coba) blockchain Vexanium sehingga dapat diakses oleh publik.

“Ya, saya dan tim Vexanium merasa lebih baik memiliki blockchain sendiri agar kami lebih lincah bergerak. Lagipula akan ada banyak sejumlah fitur yang bisa dilahirkan, misalnya tentu saja untuk tokenisasi dan lain sebagainya,” kata Danny Baskara ketika ditemui di acara BlockCommunity di Hotel Le Polonia, Medan, Sabtu (30/3).

Kata Danny, ada empat hal utama dengan Vexanium memiliki main net blockchain sendiri. Pertama, kemudahan pengembangan smart contract yang dilengkapi dengan panduan berbahasa Indonesia. Kedua, keamanan karena menggunakan algoritma konsensus DpoS (Delegated Proof of Stakes). Ketiga, skalabilitas dengan kecepatan 1.500-2.000 transaksi per detik. Keempat, hadirnya pendekatan baru soal pengembangan arsitektur aplikasi.

“Syukurlah, sejak proyek Vexanium diluncurkan pada tahun 2018 lalu, publik menyambutnya hangat. Ini tercermin dari mobile app Vexgift yang telah diunduh lebih dari 30 puluh ribu. Ada juga BlockSaku yang diperuntukkan bagi perdagangan sejumlah aset kripto, reward dan manajemen aset kripto,” ujarnya. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO