Pasar Bitcoin Tetap Kuat di Tengah Gejolak Global, Ini Datanya

Pasar Bitcoin (BTC) menunjukkan ketahanan yang relatif kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Meskipun tekanan geopolitik dan gejolak pasar keuangan internasional terus meningkat, harga Bitcoin berhasil menembus kembali level US$71.000 dan merebut kembali area psikologis US$70.000, didukung oleh arus dana institusional serta dominasi pembeli di pasar derivatif.

Analis on-chain Darkfost di CryptoQuant dalam analisisnya menyebut bahwa pergerakan tersebut terjadi ketika sejumlah faktor makro global justru menimbulkan tekanan pada pasar tradisional.

Ketegangan yang melibatkan Iran dilaporkan meningkat, sementara alur perdagangan energi global menjadi semakin rumit. Pada saat yang sama, harga gas di Eropa melonjak lebih dari 70 persen, sedangkan pasar saham Korea Selatan dilaporkan jatuh hingga 12 persen dalam satu hari.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Namun di tengah kondisi tersebut, pasar Bitcoin justru menunjukkan stabilitas yang relatif lebih baik dibandingkan sebagian aset berisiko lainnya. Menurut Darkfost, kenaikan harga terbaru Bitcoin juga didukung oleh aliran dana yang konsisten ke produk investasi institusional.

“Jika arus dana ETF terus berlanjut dan volume pembelian di pasar derivatif tetap dominan, maka reaksi kenaikan jangka pendek pada Bitcoin bukanlah sesuatu yang mengejutkan,” ujar Darkfost.

Taker Buy Sell Ratio Bitcoin

Selain faktor ETF, aktivitas perdagangan derivatif juga memberikan sinyal positif bagi pasar Bitcoin. Darkfost mencatat bahwa indikator Taker Buy Sell Ratio di Binance mencapai 1,18, yang merupakan level tertinggi sepanjang tahun ini.

BACA JUGA:  CME Group Jajaki Tokenisasi untuk Pasar Keuangan Institusional

Indikator tersebut mengukur perbandingan antara volume pembelian agresif dan penjualan agresif dalam order book derivatif.

Menurutnya, nilai di atas 1 menunjukkan bahwa pembeli mulai mengambil kendali atas perdagangan derivatif selama fase koreksi yang terjadi sebelumnya.

Bahkan dalam beberapa periode perdagangan terbaru, volume pembelian taker dilaporkan sempat melampaui US$1 miliar per jam, yang turut mendorong harga Bitcoin kembali menembus level US$71.000.

Arus Masuk ETF dan Aktivitas Derivatif Dorong Pasar Bitcoin

Data yang dianalisis Darkfost juga menunjukkan bahwa pasar Bitcoin menerima lima hari berturut-turut arus masuk dana (inflow) ke Bitcoin ETF spot. Aliran dana yang stabil ini dipandang sebagai indikator penting bahwa investor institusional masih mempertahankan minat terhadap Bitcoin meskipun situasi makro global sedang tidak stabil.

Inflow ETF tersebut dinilai berperan sebagai penopang sentimen pasar Bitcoin karena memberikan tambahan likuiditas dari investor besar. Ketika dana institusional terus masuk, tekanan jual di pasar spot cenderung lebih mudah diserap oleh permintaan baru.

Kombinasi antara inflow ETF dan dominasi pembeli di pasar derivatif menciptakan sinyal bahwa pasar Bitcoin masih memiliki fondasi permintaan yang cukup kuat. Kondisi ini sering dianggap sebagai faktor penting yang dapat memicu pergerakan harga lebih lanjut dalam jangka pendek.

BACA JUGA:  Rugi Investasi Kripto, Pria Korsel Diduga Racuni Rekannya

Struktur Teknikal BTC Masih Berpotensi Rebound

Dari sisi teknikal, analis kripto GainMuse menilai bahwa Bitcoin saat ini sedang berupaya melakukan pemulihan setelah mengalami tekanan penurunan yang berkepanjangan. Dalam analisis pada time frame 16 jam, harga BTC sedang membentuk pola symmetrical triangle setelah fase penjualan yang cukup tajam.

Analisis Bitcoin BTC

Struktur tersebut menunjukkan kondisi kompresi harga BTC yang sering muncul sebelum terjadi pergerakan besar. GainMuse menilai bahwa apabila pembeli mampu mendorong harga menembus batas atas pola tersebut, Bitcoin berpotensi mencoba rebound menuju garis tren resistance menurun.

Dalam skenario tersebut, level teknikal penting yang perlu diperhatikan berada di sekitar support US$68.000 dan resistance US$75.000, dengan potensi ruang kenaikan menuju area US$80.000 jika momentum bullish berhasil terbentuk.

Namun analis tersebut juga memperingatkan bahwa jika harga kembali jatuh di bawah support triangle dan gagal mempertahankan zona tersebut, tekanan bearish pada pasar Bitcoin dapat berlanjut.

Data On-Chain Tunjukkan Zona Akumulasi Historis

Sementara itu, analis kripto Ali Martinez menyoroti indikator on-chain popular MVRV Pricing Bands sebagai salah satu alat untuk memahami siklus jangka panjang pasar Bitcoin.

BACA JUGA:  Wintermute Luncurkan Trading Emas Saat Pasar Kian Ganas

MVRV Band BTC

Berdasarkan data Glassnode, Martinez menjelaskan bahwa selama lebih dari satu dekade terakhir harga Bitcoin secara historis selalu menemukan titik terendah di antara band 1,0 hingga 0,8 pada indikator tersebut.

Dalam grafik yang ia bagikan, band 1,0 berada di sekitar US$54.559, sementara band 0,8 berada di kisaran US$43.647.

Sepanjang sejarah pasar Bitcoin, sejumlah fase bear market besar seperti pada tahun 2015, 2018, serta koreksi tajam pada 2020 dan 2022 menunjukkan pola serupa, di mana harga berulang kali membentuk titik dasar di rentang band tersebut sebelum memulai siklus kenaikan baru.

Di sisi atas indikator, Martinez memperkirakan band 2,4 berada di sekitar US$130.942, sementara band 3,2 berada di kisaran US$174.589. Dalam siklus sebelumnya, area tersebut sering kali berfungsi sebagai zona di mana pasar Bitcoin mulai memasuki fase euforia.

Berdasarkan data tersebut, zona US$43.647 hingga US$54.559 secara historis dipandang sebagai area akumulasi makro yang penting bagi pasar Bitcoin.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait