Sah! Telegram Pastikan Membuat Blockchain TON dan Kripto GRAM

Pada 8 Oktober 2019 Telegram akhirnya memastikan memang membuat blockchain sendiri bernama TON (Telegram Open Network), dengan aset kripto bernama GRAM. Informasi itu dijabarkan di situs web resmi Telegram di bagian Grams Wallet dalam hal term of services (ToS) untuk layanan Telegram.

“Dompet GRAM, baik aplikasi yang berdiri sendiri (standalone) ataupun yang tersemat di aplikasi Telegram disiapkan oleh kami, yakni Telegram FZ-LLC,” tercantum dalam ToS itu.

Berdasarkan penelusuran Redaksi, Telegram FZ-LLC yang dimaksud mengacu pada nama perusahaan Telegram, yang juga menerbitkan aplikasi mobile Telegram di Android. Ini menegaskan bahwa blockchain TON dan kripto GRAM adalah besutan Telegram sebagai entitas perusahaan teknologi.

Disebutkan di bagian “Transaction” bahwa wallet GRAM sebagai sebuah layanan harus divalidasi dan direkam di blockchain TON.

“Kami tidak mengendalikan jaringan blockchain TON sehingga kami tidak menjamin bahwa setiap transaksi yang Anda lakukan melalui layanan akan bisa divalidasi dan dikonfirmasi di blockchain TON,” tercantum di dalam ToS.

Di bagian “Credentials” pun ditegaskan bahwa Telegram tidak berhak mengakses atau menyimpan public key ataupun private key pengguna, termasuk kata sandi dan seed phrase wallet GRAM dan informasi pribadi penggunanya.

Aksi Bawah Tanah
Sejak awal tahun 2018 proyek TON ini bak berjalan di bawah tanah dan serba misterius, sehingga tak sedikit pula yang menyangsikan. Pasalnya, CEO Telegram Pavel Durov tidak pernah angkat bicara soal proyek ini. Kabar soal perkembangannya pun diwakili oleh TONLabs yang berbasis di Swiss, yang mengklaim sebagai “vendor” untuk semua proyek TON ini.

Alhasil proyek TON dan GRAM ini mengesankan bahwa memang Telegram yang menggagasnya, tetapi dalam perjalanannya dijalankan oleh pihak lain dan Telegram “punya jarak” dengan TON dan GRAM itu sendiri. Kesan sebagai “public blockchain” ditegaskan dengan cara ini.

Kemudian soal penjualan kripto GRAM yang berjalan di blockchain pun dilakukan bukan oleh Telegram sendiri, melainkan oleh GRAMAsia yang berbasis di Korea Selatan. Di situs web mereka mengaku sebagai pemegang kripto GRAM terbesar untuk wilayah Asia. Oleh GRAMAsia inilah public sale dilakukan di bursa kripto Liquid (Jepang) dan Tokenomy (Singapura).

Pun di awal-awal tahun 2018 tidak ada situs web resmi yang muncul, kendati publik bisa membaca whitepaper-nya dan sebuah video di Youtube sebagai penampakannya. Di masa itu publik juga masih meragukan kebenarannya.

Semakin Terang
Seiring berjalannya waktu, bak serpihan puzzle, kabar perkembangan blockchain TON dan kripto GRAM mencuat ke publik. Setidaknya yang paling awal dan lebih terang adalah diluncurkannya versi test net blockchain TON, lengkap dengan kode untuk menjalankan full node pada pekan kedua September 2019.

Kemudian menjelang akhir September 2019 Telegram secara resmi menggelar sayembara uji blockchain TON. Total hadiah yang ditawarkan mencapai Rp5,6 miliar.

Pada awal Oktober 2019, wallet GRAM pun dimunculkan kepada publik. Wallet ini khusus untuk “original investor” proyek blockchain ini yang telah mendapatkan surat elektronik sebelumnya. Dengan wallet itu, investor diminta untuk menyiapkan public key dan private key untuk akun TON mereka. Pada 16 Oktober 2019, investor akan mengirimkan GRAM ke wallet tersebut. Tapi investor harus menyertakan bukti sebagai “original investor” berupa “Token Purchase Agreement”.

Jadi, sudah terang benderanglah blockchain TON dan kripto GRAM oleh Telegram ini. Kita tinggal menanti kelanjutannya: senikmat apakah mengirimkan kripto GRAM di aplikasi Telegram. Dan mengingat ada fitur smart contract di blockchain TON, bukankah sangat masuk akal akan ada “stablecoin” bersatuan dolar AS yang bisa berjalan di atasnya. Ratusan juta pengguna Telegram menanti pasti. Dan di seberang sana proyek Libra oleh Facebook sedang “merana” di tangan penguasa.  [vins]

Terkini

Warta Korporat

Terkait