spot_img
spot_img

Shiba Inu (SHIB) Bakal Terapkan DAO, Apa Itu?

Shiba Inu (SHIB) bakal terapkan DAO yang disebut-sebut sebagai katalis besar lainnya untuk kripto pesaing Dogecoin (DOGE) ini. Di sinilah konsep in code we trust benar-benar diterapkan.

Pada artikel sebelumnya, kami sudah menyebutkan beberapa hal yang harus Anda antisipasi untuk SHIB ini. Salah satunya adalah penerapan DAO lewat program Doggy DAO.

Ini adalah fitur baru yang cukup rumit dan dipersiapkan di masa depan, yakni penerapan decentralized autonomous organization (DAO), di mana (salah satunya) perkembangan ekosistem (organisasi) Shiba Inu ditentukan oleh anggota-anggotanya, yakni para “ShibaArmy” pemegang token SHIB.

Kepemilikan SHIB adalah hak suara untuk menentukan sejumlah perubahan mendasar di SHIB, termasuk di antaranya hak mengusulkan program baru hingga usulan mekanisme burn lainnya.

Apa Itu DAO?

Decentralized autonomous organization (DAO) atau organisasi otonom desentralistik adalah badan atau organisasi tanpa kepemimpinan sentral.

Pengambilan keputusan diatur oleh komunitas yang memakai serangkaian aturan tertentu ditegaskan dengan kode program lewat blockchain.

DAO adalah organisasi di Internet yang dimiliki dan dikelola anggotanya. Organisasi ini memiliki “perbendaharaan” yang hanya dapat diakses dengan persetujuan anggota. Keputusan diambil melalui proposal yang dipilih oleh anggota kelompok dalam kurun waktu tertentu.

Contoh DAO adalah jaringan freelancer di mana smart contract menggalang dana untuk membayar langganan peranti lunak, organisasi amal di mana anggotanya menyetujui donasi, atau modal ventura yang dimiliki sekelompok orang.

Partisipasi dalam DAO umumnya dilakukan melalui kepemilikan token. Peraturan ditegakkan oleh kontrak pintar yang dijalankan secara otomatis ketika kriteria terpenuhi.

Anggota yang memiliki bagian dalam DAO menerima hak suara dan dapat menentukan operasional organisasi atau menciptakan proposal pengaturan baru.

Mekanisme tersebut mencegah DAO dibanjiri proposal. Proposal hanya akan sah bila diterima oleh mayoritas pemangku kepentingan.

Semua ini dilakukan secara otonom dan transparan, siapapun dapat melihat kodenya dan juga mengaudit perbendaharaan melalui catatan blockchain.

DAO memiliki sejumlah keunggulan dibanding organisasi tradisional. Salah satunya adalah tidak perlunya kepercayaan antar pihak. Dalam suatu DAO, hanya smart contract yang perlu dipercaya. Di sinilah konsep in code we trust benar-benar diterapkan.

Transparan untuk Publik

Kode di smart contract tersedia secara publik dan dapat diujicoba sebelum diluncurkan. Setiap langkah DAO setelah meluncur harus disetujui oleh komunitas secara transparan dan dapat diverifikasi.

Tidak adanya hierarki dalam DAO berarti siapapun bisa menyarankan ide inovatif demi kemajuan organisasi. Dana anggota dapat dikumpulkan untuk investasi dalam startup tahap awal.

Kritik terhadap DAO

Kendati demikian, metode ini menuai kritik sebab dipandang tidak efisien. MIT Technology Review mengatakan keputusan keuagan penting sebaiknya tidak dilakukan oleh anggota massal.

Selain itu, sebab DAO tersebar di beberapa wilayah sekaligus, tidak ada kerangka legal. Masalah legal yang muncul akan membutuhkan solusi yang melibatkan berbagai hukum sesuai wilayah.

Jaringan Bitcoin adalah contoh DAO paling pertama. Tetapi, Bitcoin tidak digolongkan sebagai DAO menurut standar saat ini.

Bila memakai standar terbaru, Dash adalah DAO pertama yang sejati, sebab memiliki mekanisme pengaturan untuk penggunaan perbendaharaan.

Proyek-proyek sektor DeFi umumnya menggunakan DAO. Distribusi dilakukan melalui proses liquidity mining.

Pengguna menerima token sebagai imbalan, dan token itu digunakan untuk pemilihan keputusan.

DAO memiliki potensi untuk mengubah cara kerja pengaturan korporasi. Seiring konsep ini kian matang, semakin banyak organisasi dapat memakai model DAO untuk pengaturan aktivitas. [cointelegraph.com/ed]


spot_img

Terkini

spot_img

Terkait