Silang Pendapat soal Bitcoin sebagai Aset Safe Haven

Tak sedikit analis telah berulang kali menggambarkan Bitcoin sebagai aset safe haven. Namun, kemampuannya untuk menawarkan perlindungan selama periode gejolak pasar telah dipertanyakan, karena harganya telah bergerak seiring dengan aset berisiko seperti saham.

Baru-baru ini, Raja Aset Kripto itu menderita beberapa kerugian besar, jatuh hampir 20 persen dalam hitungan hari.

Saham juga mengalami kesulitan, dengan indeks utama mengalami penurunan yang signifikan.

Dow Jones Industrial Average, indeks acuan yang memuat 30 saham perusahaan besar, turun lebih dari 2.000 poin hari ini, penurunan terbesar dalam sejarah, menurut BBC.

Minyak, aset berisiko, juga mengalami hari yang berat, dengan minyak mentah US West Texas Intermediate turun lebih dari 24 persen, dilansir dari CNBC.

Di tengah kondisi ini, beberapa penghayat Bitcoin telah mulai menyuarakan keraguan tentang apakah Bitcoin memang memberikan cuan terbaik bagi investor selama masa gejolak ekonomi makro.

Sudut Pandang Analis
Dalam upaya menjelaskan korelasi baru-baru ini antara Bitcoin dan aset berisiko (saham), beberapa pengamat pasar menunjuk pada krisis likuiditas. Itu menekankan, bahwa kurangnya likuiditas dalam saham dapat menyebabkan masalah yang sama di pasar aset kripto.

Denis Vinokourov, Kepala Penelitian Bequant mengatakan soal likuiditas di ekuitas (pasar modal seperti saham), kemungkinan akan diterjemahkan ke dalam kondisi likuiditas yang memburuk di aset kripto, karena pelaku pasar akan dipaksa untuk menyesuaikan portofolio mereka dan berurusan dengan margin call, aset alternatif tidak mungkin diprioritaskan.

“Hal yang sama berlaku untuk komoditas seperti minyak dan emas. Peristiwa pasar dan likuiditas yang lebih luas saat ini adalah penyebab utama penurunan Bitcoin baru-baru ini.

Michael Conn, Pendiri Quail Creek Ventures menawarkan sudut pandang yang sama, bahwa “emas dan aset safe haven tradisional lainnya telah dijual baru-baru ini karena krisis likuiditas.

“Saya masih melihat Bitcoin sebagai aset safe haven ketika fundamental kembali ke pasar,” katanya.

Joe DiPasquale, CEO BitBull Capital senada, bahwa Bitcoin diposisikan sangat baik menjadi aset safe haven. Dia menambahkan, korelasi aset kripto sangat dinamis seperti sekarang, bergeser dari pasar modal ke emas, tergantung pada situasi yang lazim.

“Aksi jual kripto baru-baru ini, bersama-sama dengan pasar modal global, hanya mewakili keengganan risiko umum yang masuk ke kemungkinan krisis ekonomi, dan tidak serta merta membatalkan status safe haven Bitcoin,” kata DiPasquale.

Evan Kuo, Pendi Ampleforth memberikan sudut pandang yang berbeda.

“Saya tidak berpikir Bitcoin adalah aset safe haven. Saya pikir itu adalah aset risiko yang tidak berkorelasi, yang penting untuk dibedakan dari aset safe haven. Untuk melindungi dari kerugian, investor kemungkinan akan mundur lebih dulu ke dolar dan obligasi. Nantinya, jika mereka ingin menambah risiko yang tidak berkorelasi dengan faktor makro yang lebih luas, mereka harus mempertimbangkan Bitcoin karena potensinya untuk apresiasi,” katanya. [Forbes/red]

Terkini

Warta Korporat

Terkait