Bank Sentral Rusia Ingin Larang Kripto, Sejumlah Bank Segera Uji Coba Rubel Digital

Bank Sentral Rusia berniat serius memperluas dan mempertegas larangan terkait kripto di negaranya dan sejumlah bank di dalam negeri mengatakan bersiap mengujicoba rubel digital. Inikah respons terhadap disrupsi oleh blockchain-kripto?

Bank-bank di Rusia segera mengujicoba transaksi rubel digital dalam skala kecil untuk kali pertama. Ini adalah tahap kesekian kalinya, sejak tahun 2020, Bank Sentral Rusia (CBR) meneliti dan mengembangkan versi digital mata uang negeri beruang merah itu.

Masuk kategori Central Bank Digital Currency (CBDC), rubel digital tentu saja adalah respons sangat jelas terhadap disrupsi yang dihasilkan oleh blockchain-kripto dewasa ini. CBR sebelumnya hendak melarang kripto dalam skala luas.

Dilansir dari Kantor Berita Rusia, Tass, bank-bank di Rusia sedang bersiap untuk terjun ke tahap uji coba rubel digital dan beberapa sudah menguji transaksi dengan mata uang tersebut. Uji coba telah dimulai dengan pembayaran antara konsumen (C2C) dan Bank sentral berencana untuk memperluas uji coba ini di masa depan

Melibatkan 12 Bank, 1 Di Antaranya Berinvestasi di Perusahaan Kripto

Bank Sentral Rusia sudah menyelesaikan prototipe platform rubel digital pada Desember 2021 dan sekarang mulai bereksperimen dengan transaksi.

Sekitar 12 bank telah diundang untuk bergabung dalam tahap pertama ujicoba ini. Di antaranya adalah Promsvyazbank (PSB) dan Tinkoff Bank yang belum lama ini mengakuisisi Aximetria, perusahaan yang bergerak di bidang kripto. Bank besar Rusia lainnya, VTB, mengatakan infrastrukturnya siap untuk menguji coba rubel digital.

Bank lain yang ikut serta dalam uji coba tahap pertama adalah Ak Bars, Alfa-Bank, Dom.rf Bank, Gazprombank, Rosbank, Sberbank, Bank Soyuz, dan Transcapitalbank.

“Beberapa aspek uji coba adalah pengintegrasian dengan platform rubel digital (bank sentral) dan pengenalan layanan seperti membuka dompet melalui aplikasi selular dan transfer rubel digital antar individu,” sebut Tass melansir sejumlah sumber.

Menurut Vitaly Kopysov di SKB-Bank, rubel digital akan menjadi pendorong pengembangan layanan pembayaran nasional baru bagi warga negara dan perusahaan.

“Rubel digital akan memberikan dorongan tambahan untuk penciptaan layanan pembayaran digital offline, sehingga perusahaan atau toko, misalnya di daerah pelosok yang tidak punya akses Internet, tetap bisa menggunakannya,” sebut Kopysov.

Fitur seperti ini sudah ada sebelumnya pada teknologi yuan digital yang dikebut sejak tahun 2014 dan diujicoba sejak tahun 2020.

Aksi Pencucian Uang Yuan Digital, Polisi Tiongkok Ringkus 11 Tersangka

Larang Kripto, Bela Rubel Digital

Langkah terbaru bank sentral dan sejumlah bank di Rusia ini untuk pengayaan rubel digital, ditafsirkan sebagai respons yang semakin nyata terhadap terhadap disrupsi yang dihasilkan oleh blockchain-kripto dewasa ini.

Berkat teknologi blockchain, mengirimkan fiat money, seperti dolar AS dan euro tak lagi menggunakan layanan perbankan dan tidak perlu adanya bank sentral. Biayanya pun jauh lebih efisien dengan waktu yang lebih cepat dan tersedia kapan dan di mana saja.

Keunggulan seperti ini tentu saja meniadakan kendali sistem moneter oleh bank sentral. Bagi pemegang kuasa keuangan negara seperti ini, rubel digital adalah jawaban terhadap blockchain-kripto, berharap warga beralih ke rubel wujud baru ini, yang diklaim sama efisien.

Maka tidaklah heran, beberapa hari yang lalu Bank Sentral Rusia mengusulkan larangan luas dan tegas, terhadap semua entitas yang terkait kripto, termasuk bisnis penambangan Bitcoin yang kian menjamur di wilayah utara bumi itu, pasca Tiongkok “membumihanguskan” layanan terkait kripto dan tambang kripto di dalam negeri.

Bank Sentral Rusia sendiri mulai mempertimbangkan rubel digital sebagai bentuk CBDC pada tahun 2020. Kala itu masih banyak bank di dalam negeri yang menolaknya, karena dianggap justru mengurangi nilai bisnis perbankan, pasalnya rekening bank personal sangat memungkinkan berada di sistem bank sentral, bukan di sistem bank komersial.

Rubel Digital Ditentang Oleh Bank

Pada Januari 2021, bank terbesar di Rusia, Sber berpendapat bahwa rubel digital kelak merugikan bisnis perbankan hingga 25 miliar ruble atau sekitar US$34 juta.

Kepala Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina, membantah kekhawatiran tersebut. Ia mengatakan, pihaknya tidak melihat peluncuran rubel digital akan menyebabkan pengeluaran atau perubahan dana besar.

Sber menghitung bank bisa merugi hingga US$54 milyar dalam tiga tahun pertama sejak peluncuran rubel digital.

Akibatnya, bank-bank akan terpaksa menaikkan suku bunga sebesar 0,5 persen dan membatasi pinjaman bagi ritel dan UKM.

Menanggapi hal tersebut, Nabiullina tidak yakin asal-usul angka-angka itu dan menjelaskan perubahan suku bunga tidak disebabkan rubel digital, melainkan tingkat inflasi dan kebijakan moneter.

Pada tahap kedua di tahun ini juga, uji coba rubel digital akan digelar untuk transaksi antara individu swasta dan entitas perusahaan, termasuk konsumen-ke-bisnis (С2B), bisnis-ke-bisnis (B2B) dan transaksi binis-pemerintah (B2G).

Praktik CBDC Kian Luas

Praktik penerbitan CBDC sebagai bentuk lain dari uang negara kian meluas setelah teknologi blockchain membuktikan menjadi teknologi pembayaran yang jauh lebih cepat dan murah.

Berdasarkan data terkini dari Atlantic Council, saat ini ada sekitar 91 bank sentral yang tengah meneliti, mengembangkan dan mengujicoba mata uang digital mereka masing-masing.

bank sentral rusia rubel digital
Peta sebaran praktik CBDC oleh sejumlah bank sentral di dunia, termasuk Bank Sentral Rusia. Sumber: Atlantic Council.

Bank Indonesia pada tahun lalu misalnya sudah mengaungkan rencana penerbitan rupiah digital, setelah kelak penelitian dan pengembangan selesai.

Yuan digital termasuk pelopor di CBDC sejak tahun 2014, termasuk yang paling maju. Sedangkan The Fed, Bank Sentral Uni Eropa termasuk yang sangat lamban. Sedangkan Korea Selatan dan Jepang juga disebut lebih giat.

The Fed baru-baru ini menerbitkan kajian terbaru soal dolar digital. Seperti sebelumnya, mereka terkesan tak ingin terburu-buru dan masih perlu masukan dari publik dan Kongres. [ps]

Terkini

Warta Korporat

Terkait