Bitcoin Melejit US$14 Ribu di Hari Ultah ke-12, Apa Sebab?

Petang hari ini, 31 Oktober 2020 harga Bitcoin melejit menembus US$14 ribu per BTC atau setara dengan Rp205 juta. Penguatan fantastis itu bertepatan dengan hari ulang tahun terbitnya whitepaper Bitcoin, yang ke-12. Ada kekuatan di balik itu yang perlu kita cermati, khususnya soal faktor “Network Effect”, tak sekadar potensi inflasi.

Terpantau di Binance, pada pukul 17:06 WIB hari ini, Raja Aset Kripto itu memuncak di US$14.097 per BTC, melejit cepat dari US$13.411, pukul 10:25 WIB.

Tercapainya wilayah itu, dalam skala harian (1D), memastikan ia sukses melewati resisten US$13.970.69 (26 Juni 2019). Dengan demikian, pasar membidik wilayah atas berikutnya, US$16 ribu (Rp233 juta) per BTC.

Ketika artikel ini ditulis, setelah menyentuh kisaran US$14.100, Bitcoin langsung terkoreksi cepat hingga US$13.574, lalu memantul cepat ke US$13.947.

Cocokologi: Whitepaper Bitcoin, Hari Ini 12 Tahun Lalu

Likuiditas Fiat Money
Sehari sebelumnya, sebenarnya tanda-tanda penguatan itu mulai tampak, setidaknya setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mengirimkan sinyal akan memberikan dana stimulus moneter tambahan pada Desember 2020. Upaya itu dilakukan ECB guna mengantisipasi dampak buruk gelombang kedua COVID-19.

Inilah yang memantik anggapan akan semakin besarnya pasokan uang fiat ke dalam ekonomi, yang selanjutnya membawa ke pelemahan nilai tukar euro. Inilah yang dibaca oleh pasar akan membludaknya likuiditas dan menambah permintaan terhadap saham, termasuk Bitcoin, atau malah sebaliknya, dominasi arus euro malah lebih sedikit ke pasar saham.

Pengumuman ECB itu menyusul keputusan di Prancis dan Jerman untuk memberlakukan lockdown nasional-langkah yang amat besar yang menyebabkan kontraksi besar di ekonomi pada awal tahun ini dan mengancam tekanan ekonomi lebih lanjut.

“Presiden ECB Christine Lagarde mengirimkan pesan yang sangat jelas bahwa stimulus lebih lanjut akan diumumkan pada Desember, dan akan ada paket tindakan lain,” kata Kepala Penelitian Makro UniCredit Marco Valli, dalam sebuah catatan, seperti dilansir dari CNBC, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Stimulus Picu Kenaikan Bitcoin
Narasi besar, bahwa pasokan fiat money yang besar akan melonjakkan permintaan terhadap Bitcoin kerap dikumandangkan oleh Chamath Palihapitiya yang pernah berlabuh di Facebook sebagai eksekutif senior. Kini dia memimpin perusahaan ventura, Social Capital di AS.

BERITA TERKAIT  Mengaku Diretas, Raiblah Rp98 Miliar dari Dompet Ini

Baginya lagi, seperti yang dilansir dari CNBC, 6 Oktober 2020 lalu, Bitcoin tidak bertaut pasar saham, karena didukung oleh sistem yang sepenuhnya berbeda infrastruktur keuangan negara saat ini.

Bank Sentral AS (The Fed) dan Departemen Keuangan AS telah memulai program stimulus besar-besaran tahun ini, menyuntikkan triliunan dolar ke sistem keuangan dalam upaya untuk mengimbangi kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

Intervensi pasar sebesar itu memang belum pernah terjadi sebelumnya ini, yang turut mendorong pasar saham ke rekor tertinggi padahal jumlah pengangguran meningkat. Ini satu hal ganjil, bahwa faktor fundamental telah lama absen terhadap peningkatan nilai saham itu. Itu pula telah memicu kekhawatiran di antara beberapa investor, bahwa serangan inflasi yang parah akan terjadi.

Di sisi lain, per 11 Oktober 2020 saja, harga Bitcoin yang telah melejit lebih dari US$10.000 sejak awal September, telah melonjak ke US$11.000. Kita juga menyaksikan wilayah US$12.000 dengan sangat mudah dilampaui pada 21 Oktober 2020, lalu sehari setelahnya menjadi US$13.000, kemudian hari ini, 31 Oktober 2020 melonjak hingga US$14.000.

Di antara itu dipicu pasti oleh keputusan Square dan MicroStrategy sebagai perusahaan publik ternama yang berinvestasi ke Bitcoin. Alasan mereka senada, mengamankan nilai keuangan perusahaan, akibat fiat money yang membanjiri ekonomi.

Jikalau Anda suka melihat fenomena unik kenaikan Bitcoin di tengah kelesuan ekonomi dan goncangan politik, Anda bisa membaca artikel kami ini. Silahkan bisa Anda gunakan sebagai pendekatan dan acuan.

BERITA TERKAIT  Perdagangan Aset Kripto di Indonesia Dilindungi oleh Negara

Network Effect
Narasi itu tidak serta merta disepakati oleh pelaku lain di pasar yang sama, setidaknya oleh ByteTree dalam kajian terbarunya Oktober 2020 ini.

Bagi ByteTree, peningkatan nilai Bitcoin di usia muda ini, bukan karena faktor eksternal, seperti pasokan fiat money yang semakin banyak, imbal hasil obligasi, geopolitik dan inflasi.

Baginya, peningkatan nilai dan harga Bitcoin lebih karena “Network Effect”, di mana pertumbuhan nilainya berbanding lurus sebanyak dua kali lipat dengan ukuran jaringan, yang ditentukan oleh peningkatan jumlah partisipan di dalam jaringan itu.

Dalam hal ini, “inter-transaksi” Bitcoin, berkat keunggulan relatifnya dengan aset bernilai lainnya adalah bentuk “jaringan komunikasi-interaksi” yang aktif.

“Saat jaringan Bitcoin membengkak, maka harganya pun melonjak. Tapi, saat harga jatuh pengaruh eksternal menjadi lebih penting. Pun demikian, kurangnya arus kas (likuiditas) tidak berarti suatu aset tidak dapat bernilai, termasuk itu saham, komoditas ataupun karya seni. Mereka semua memiliki dinamika pasar yang dinamis, yang menunjukkan nilai mereka,” tulis ByteTree.

Lanjutnya, dalam hal Bitcoin, nilainya sebanding dengan ukuran jaringan. Jika orang membeli Bitcoin tetapi tidak pernah menggunakannya, maka jaringan pada akhirnya akan luluh, likuiditas pun mengering, dan investor akan kecewa.

“Namun, selama use case-nya dan penerapannya tumbuh, kedalaman pasar akan tetap kuat, jaringan akan tumbuh, dan harga akan naik. Jadi, Bitcoin menguat karena mencerminkan pertumbuhan dalam ekonomi digital,” sebut ByteTree.

Network Effect adalah teori yang dipopularkan oleh Robert Metcalfe (penemu Ethernet) pada tahun 1980-an di bidang jaringan elektronik.

Kini lazim disebut sebagai Metcalfe’s Law, ia menegaskan perkembangan jaringan komputer atau perangkat lain yang bisa saling terhubung merepresentasikan nilai dari jaringan itu sendiri.

BERITA TERKAIT  Palang Merah Italia Galang Dana Bitcoin Tekan Virus Corona

Dampak komunikasi dari jaringan itu, katanya, adalah kuadrat dari jumlah node (simpul) pada jaringan itu sendiri. Misalnya di dalam jaringan elektronik ada 10 simpul (komputer, telepon, mesin faksimili), maka nilai inherennya adalah 100 (10×10).

Internet misalnya adalah contoh terbaik. Pada awalnya kemunculannya pengguna Internet tentulah sangat sedikit, termasuk ketika awal pengembangannya di internal militer Amerika Serikat dan sejumlah kecil peneliti lintas perguruan tinggi.

Tetapi, nilai kecil itu didistribusikan kepada publik, efeknya bisa Anda rasakan sekarang: Facebook, Twitter, eBay dan lain sebagainya, karena semakin banyak orang membuat konten, mengembangkan teknologinya dan lain sebagainya.

Motifnya tunggal: ada manfaat sosial dan bisnis di dalamnya, tetapi ditegaskan oleh efek jaringannya yang tanpa batas lintas benua. Singkatnya Metcalfe’s Law adalah penakar kapasitas, dampak dan nilai sebuah jaringan.

uncaptioned

Konsep itu kemudian diadopsi di ranah ekonomi, sehingga mampu menggambarkan fenomena eBay. Situs itu mungkin bukan cara yang keren untuk melakukan lelang, tetapi popularitasnya tak menurun dan menarik bagi banyak orang.

Karena eBay punya resep khusus untuk mempertahankan itu, maka kekuatan jaringan kian memperkokoh eBay untuk menjawab persaingan. Secara singkat Metcalfe’s Law adalah pendekatan atau alat ukur terhadap kapasitas jaringan.

Kajian cukup serius soal Network Effect pada Bitcoin ditulis oleh Timothy Peterson, Pendiri perusahaan Cane Island Alternative Advisors, LLC  pada tahun 2017 dalam Metcalfe’s Law as a Model for Bitcoin’s Value di jurnal Alternative Investment Analyst Review.

Petersen menyimpulkan bahwa  Bitcoin (besaran supply [yang terbatas] dan demand terhadap Bitcoin) sesuai dengan teori Metcalfe’s Law (khususnya sesuai dengan prinsip utamanya, yakni homogeneity of the transactions), di mana semakin banyak partisipan di dalamnya, akan terus meningkatkan nilai Bitcoin. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO