Sebagian dari Anda mungkin sudah lupa proyek blockchain-aset kripto TON-GRAM yang dulu diiniasi oleh Telegram pimpinan Pavel Durov. Setelah berseteru di pengadilan dengan SEC, ini kabarnya sekarang.

Pada tahun 2020, ketika COVID-19 mengamuk, Komisi Bursa dan Sekuritas (SEC) AS bekerja keras, memaksa Durov untuk menghentikan aksi kumpul dana mereka untuk aset kripto GRAM, bertenaga blockchain TON (dulu disebut Telegram Open Network).

Setelah usaha berbulan-bulan, pertempuran Durov melawan negara adidaya itu berakhir pada kekalahan Durov. Dia dan tim pun angkat tangan dan membayar dendanya, lalu menyerahkan proyek tersebut kepada komunitas yang berkenan.

Kini teknologi blockchain dan aset kriptonya masih berjalan di tepian namun enggan jatuh. Mungkin sudah kepalang basah. Ideologi open-source masih dipegang, dengan organisasi OpenLabs menjadi punggawanya. 

Apa yang terjadi selanjutnya dapat digambarkan sebagai semacam tantangan carte blanche, kekuasaan penuh bagi orang-orang di seluruh dunia untuk melanjutkan apa yang ditinggalkan Durov, yakni membuat blockchain generasi baru yang paling canggih, dengan cara yang benar-benar terdesentralisasi.

Dengan dukungan dari para penggemar aset kripto di seluruh dunia, pengembang yang diklaim andal, penyedia staking dan tempat bursa ternama, blockchain TON secara de facto diluncurkan pada Mei 2020. Berikutnya berubah label menjadi Free TON

Terpantau saat ini lebih dari 50 ribu wallet sudah terdaftar dengan rata-rata block 0,2 detik, satu kecepatan Free TON yang patut mendapat perhatian khusus. 

Pada prinsipnya TON diklaim tidak memiliki CEO sebagai pemimpin terpusat, apalagi sebagai koordinator. Tidak ada pula divisi humas dan pemasarannya, tidak ada konsultan.

Yang ada hanya komunitas, banyak berkumpul di grup-grup Telegram, yang memutuskan bagaimana jaringan akan berkembang.

Bos Telegram, Pavel Durov: Proyek Blockchain TON dan Kripto GRAM Mungkin Ditunda

Semua proposal dipublikasikan di forum khusus, tempat setiap anggota komunitas dapat memberikan komentar, mendiskusikan, atau mengkritik dokumen proposal itu.

Ketika diskusi selesai dan semua komentar inti dipertimbangkan, proposal akan dilanjutkan ke pemungutan suara berantai, “on-chain voting“.

Jika lebih dari 50 persen suara mendukung gagasan tersebut, maka proposal lolos pemungutan suara dan dilanjutkan untuk diterapkan. 

Tiada ICO dalam penerbitan aset kripto GRAM, sekarang disebut TON Crystal. Pasokan 5 milyar unit TON Crystal didistribusikan melalui tiga saluran.

5 persen untuk validator blockchain, 10 persen untuk pengembang dan 85 persen untuk anggota komunitas dalam membangun adopsi massal.

Alokasi itu didasarkan pada sistem meritokrasi, dinilai melalui kontes dan kolaborasi yang diajukan oleh anggota komunitas.

Ngebut 9 Bulan
Selama 9 bulan terakhir, Free TON telah dengan cepat mengembangkan teknologi Stack, tetapi ukuran komunitas dan tingkat keterlibatan mereka juga berkembang pesat. Jumlah kontes dan total workload beban kerja anggota awal menjadi sangat banyak. 

Hal ini mendorong komunitas meningkatkan model yang ada dan memperkenalkan sub-governances yang dapat membantu mendiversifikasi workload itu

Setiap sub-governances terdiri atas anggota komunitas yang berpikiran sama yang tertarik pada bidang tertentu apakah itu DeFi, desain, promosi, pengalaman pengembang, atau penulisan smart contract.

Ada juga sub-governances yang mengatur pekerjaan dengan komunitas aset kripto di negara atau bahasa yang berbeda.

Saat ini, ada 18 sub-governances yang aktif dan berjalan di Free TON dan yang baru cukup sering dibuat. 

Laju pengembangan blockchain Free Ton memang terkesan “di bawah tanah” tidak terlalu menonjol di media publik. Tetapi pengayaan wallet aset kriptonya tampil apik di aplikasi Telegram dan sudah bisa dibeli dengan USDT. [red]

BERITA TERKAIT  Proyek Libra-Facebook Itu Bagus, Tapi...

Protected with blockchain timestamps

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO