Rabu, 24 April 2019

Kata Bung Dimaz

Penambangan desentralisasi terlihat lebih adil, karena mereka yang bermodal kecil pun masih punya kesempatan untuk meraup keuntungan. Namun demikian, pilihan untuk mendesentralisasi proses penambangan ini membuat kekuatan penambangan dalam sistem menjadi kecil, sehingga dapat dimanfaatkan oleh para peretas yang berkecimpung dalam dunia botnet untuk memperoleh keuntungan dengan mencemari komputer milik orang lain dan menjalankan kegiatan penambangan tanpa sepengetahuan si pemilik komputer.
Lightning Network (LN) kini menjadi idola baru di komunitas bitcoin. Tetapi jangan pernah terlena, karena LN bisa menjadi pedang bermata dua: memperkuat bitcoin sekaligus membunuh ekosistem bitcoin. Perlahan tapi pasti, LN akan menjadi masalah baru dalam bitcoin bila tidak ditangani dengan tepat. Atau mungkin kita harus mulai memindahkan kekayaan kita dari Bitcoin Core ke Bitcoin Cash?
Dengan kondisi yang ada sekarang ini, Ethereum masih amat sulit mendukung proposal feeless karena berbagai persoalan keamanan. Harapan sekarang ada pada Tron yang masih memberi kesempatan pada mereka yang membekukan transaksi untuk mendapatkan kesempatan mengeksekusi smart contract secara gratis, meskipun proyek besutan Justin Sun ini masih belum banyak mendapatkan panggung dalam segmen smart contract yang masih dikuasai Ethereum.
Selepas meluncurkan jaringan utam (mainnet) sendiri dan meninggalkan platform ERC-20, Tron memang dikenal sebagai platform yang amat menyerupai Ethereum. Tidak hanya dari segi fasilitas smart contract yang sama-sama menggunakan Solidity, namun juga ketersediaan fitur token, membuat Tron seolah-olah menjadi Ethereum versi kedua. Namun tentu saja ada perbedaan di antara keduanya. Jika di dalam Ethereum dikenal standar token ERC-20, maka di dalam Tron dikenal dua jenis token, yakni TRC-10 dan TRC-20. Keduanya memiliki karakteristik yang cukup berbeda.
Di masa depan kita bakal melihat kawin silang antara teknologi blockchain yang aman dengan cloud computing yang efisien. Blockchain dirancang sedemikian sehingga masing-masing node akan melakukan penghitungan yang berbeda-beda dan mengirim hasilnya ke blockchain pusat yang dikelola oleh beberapa node saja.
Bukan tidak mungkin, produk mata uang kripto di masa depan mengadopsi paham sentralisasi dan meninggalkan metode konsensus demi meningkatkan kapasitas sistem. Definisi blockchain memang sangat luas, sehingga barangkali saat bank-bank sentral dunia mengadopsi teknologi blockchain, sentralisasi akan diadopsi dengan sempurna dalam mata uang virtual modern mereka.
Konsensus ciptaan Satoshi Nakamoto (Nakamoto Consensus) ini sangat sederhana, tetapi juga berhasil membuktikan bahwa tanpa identitas yang jelas, demokrasi tetap dapat dilangsungkan. Lebih istimewa lagi karena Konsensus Nakamoto ini memperbolehkan siapapun bergabung dan meninggalkan sistem kapanpun diinginkan.
Meraba-raba perkembangan blockchain pada tahun 2019, apa sih yang ada di pikiran seorang pakar blockchain? Dimaz Ankaa Wijaya, peneliti pada Blockchain Research Joint Lab Universitas Monash, Australia punya jawaban yang mungkin bisa mencerahkan Anda. Berikut nukilan wawancara BlockchainMedia melalui Telegram siang tadi.
Sebenarnya berita peretasan bukanlah hal yang abnormal di era digital sekarang ini. Namun, hal yang menarik adalah munculnya nama situs nasional di berita kali ini: Bukalapak. Terkait dengan mitigasi risiko peretasan data, dapatkah blockchain memberikan solusi yang tepat?
Ketika uang fisik sirna dari muka bumi dan tergantikan dengan kode biner: satu dan nol, maka perpajakan juga dapat bertransformasi dari kantor-kantor fisik dan auditor berbiaya mahal menjadi kode-kode digital dengan toleransi kesalahan yang rendah. Di saat jenis transaksi ekonomi semakin didominasi oleh robot dan kecerdasan buatan, maka perpajakan juga harus merespon dengan Pajak Pintar. Blockchain menjadi salah satu alternatif solusi menarik untuk memastikan bahwa keuangan negara terjamin hingga seabad mendatang yang penuh dengan tantangan.