Kata Bung Dimaz

Pengimplementasian blockchain dalam sistem pemilu bukan perkara mudah. Diperlukan riset yang lebih mendalam untuk mendapatkan sistem yang sempurna dari sisi teknologi, regulasi, dan dapat diaplikasikan dalam kondisi yang tidak ideal seperti yang ada di Indonesia. Bukan sekarang, mungkin nanti di masa mendatang.
Mata uang kripto merupakan sesuatu yang amat unik. Ketiadaan bentuk fisik bukan jadi penghalang dalam penciptaan nilai hingga puluhan juta dolar. Barangkali, mata uang kripto jadi tonggak revolusioner berikutnya dalam sejarah inovasi teknologi manusia.
Meskipun saat ini sudah ada peningkatan efisiensi dengan mengembangkan paradigma konsensus baru, tetap saja blockchain plus konsensus menghasilkan sistem yang amat sulit mengungguli kinerja perangkat basis data tradisional. Barangkali, setelah kita pahami bahwa konsensus bisa menjadi “duri dalam daging” sistem blockchain, di masa depan blockchain berbasis otoritas tunggal akan menjadi lebih tenar daripada blockchain berkonsensus.
Teknologi blockhain memang menarik. Tak sekadar dipakai untuk menjalankan mata uang kripto/aset kripto seperti Bitcoin, tetapi diharapkan mampu berkontribusi meningkatkan kapabilitas sistem elektronik di bidang-bidang lainnya.
Hadirnya mesin ASIC bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menyebabkan ketidakadilan karena pemodal bintang lima akan mendominasi sekaligus mengeliminasi para penambang kaki lima. Di sisi lain, mesin ASIC membantu peningkatan keamanan sistem dengan mereduksi potensi serangan hingga hampir mustahil dilakukan.
Konsensus ciptaan Satoshi Nakamoto (Nakamoto Consensus) ini sangat sederhana, tetapi juga berhasil membuktikan bahwa tanpa identitas yang jelas, demokrasi tetap dapat dilangsungkan. Lebih istimewa lagi karena Konsensus Nakamoto ini memperbolehkan siapapun bergabung dan meninggalkan sistem kapanpun diinginkan.
Di masa depan kita bakal melihat kawin silang antara teknologi blockchain yang aman dengan cloud computing yang efisien. Blockchain dirancang sedemikian sehingga masing-masing node akan melakukan penghitungan yang berbeda-beda dan mengirim hasilnya ke blockchain pusat yang dikelola oleh beberapa node saja.
Di tengah kegalauan para pegiat jual-beli aset kripto yang kadang untung dan banyak kali menanggung rugi, Tron menyeruak. Lesatan harga yang jauh meninggalkan mata uang kripto tua macam Bitcoin dan Ethereum membuat banyak mata terbelalak. Justin Sun sedang menyinari pasar mata uang kripto.
Serupa dengan bentuk objek bernilai lainnya, Bitcoin memiliki sisi gelap, salah satunya adalah sebagai alat mencuci uang alias (money laundering).
Sebenarnya berita peretasan bukanlah hal yang abnormal di era digital sekarang ini. Namun, hal yang menarik adalah munculnya nama situs nasional di berita kali ini: Bukalapak. Terkait dengan mitigasi risiko peretasan data, dapatkah blockchain memberikan solusi yang tepat?