Demi Bitcoin, Bitmex Akhirnya Pakai Sistem Satelit

1603
Adam Back, CEO Blockstream.

Blockchain Bitcoin sangat tergantung dengan jaringan Internet. Jikalau Internet padam, maka jalur satelit luar angkasa jadi alternatif supaya transaksi berjalan normal. Itulah yang digunakan oleh bursa aset kripto Bitmex, bekerjasama dengan Blockstream, buatan Adam Back.

“Kami telah memasang sistem satelit Bitcoin buatan Blockstream. Itu adalah cara untuk mengunduh dan memverifikasi blockchain Bitcoin melalui satelit, tanpa perlu Internet. Koneksi satelit memang memiliki bandwidth yang cukup agar node (simpul) Bitcoin tetap selaras,” sebut Bitmex dalam blog-nya, 14 September 2020.


Bitmex mengakui perlu perlengkapan khusus yang dibeli pihaknya dari Blockstream, meliputi Blockstream Satellite Pro Kit dan Blockstream’s Flat-Panel Antenna.

“Paket perlengkapan itu cukup mahal, hampir US$1200,” sebut Bitmex.

Mereka juga mengakui tak menemui kendala khusus ketika pemasangan. Hanya perlu beberapa jam saja, sebut Bitmex.

“Secara prinsip, kami hanya perlu memasang parabola (satelit bumi) lalu mengarahkannya ke arah yang benar ke arah langit tempat satelit Blockstream berada di luar angkasa. Parabola dihubungkan ke  laptop bersistem operasi Linux dan menjalankan beberapa perangkat lunak Blockstream, termasuk software Bitcoin Core 0.19.1,” kata mereka.

Menurut mereka, bagian yang paling menantang adalah penyelarasan antena parabola ke satelit geostasioner di luar angkasa.

BERITA TERKAIT  Adam Back: Harga Bitcoin Bisa Mencapai US$300 Ribu (Rp4,2 Miliar)

“Hanya perlu waktu sekitar 15 menit untuk menyelaraskannya. Syukurkan kondisi cuaca cukup mendukung,” jelasnya.

Manfaat Satelit Bitcoin
Satelit luar angkasa untuk Bitcoin sangat penting agar mempermudah dan mempercepat proses sinkronisasi data blockchain yang lebih dari 300 GB. Tanpa koneksi ke Internet, satelit bisa mencakup wilayah yang lebih luas, sekalipun di tempat terpencil.

Satelit sendiri menggunakan gelombang radio khusus, dipancarluaskan dari luar angkasa, lalu ditangkap oleh satelit di bumi.

Sejatinya, setiap dompet (wallet) Bitcoin yang Anda gunakan terhubung dengan satu atau beberapa komputer yang berisikan data blockchain Bitcoin (full node). Penambang Bitcoin juga perlu mengunduh itu. Komputer itu menyimpan data mulai dari genesis block (perdana) pada tahun 2009 hingga yang terkini.

Data di setiap block itu adalah data transaksi lintas wallet, lintas address. Menggunakan akses Internet biasa, Anda bisa mencoba mengunduhnya menggunakan Bitcoin Core. Dengan kecepatan unduh rata-rata 15 Mbps, sinkronisasi bisa selesai kurang lebih dua minggu.

Awal Mei 2020 lalu, Blockstream mengumumkan peningkatan kinerja satelit blockchain Bitcoin-nya. Jikalau sebelumnya untuk sinkronisasi data di awal perlu terhubung ke Internet, maka peningkatan terbaru itu memungkinkan sepenuhnya tanpa Internet sama sekali. Soal kecepatan diklaim 25 kali lebih cepat daripada sebelumnya.

“Pada versi pertama, untuk melakukan sinkronisasi, mengunduh semua data Bitcoin memerlukan koneksi Internet di langkah pertama. Sekarang di versi kedua ini, sepenuhnya tanpa Internet,” sebut Blockstream.

Donatur Bitcoin
Proyek satelit Bitcoin buatan Blockstream tergolong proyek prestius oleh Adam Back, pakar kriptografi berpengaruh. Makalah Adam Back, “Hashcash – a denial of service counter-measure” (2002), adalah salah satu rujukan whitepaper Bitcoin oleh Satoshi Nakamoto.

BERITA TERKAIT  Pecahnya Bubble Mata Uang Kripto dan Blockchain yang Tiada Berguna

Blockstream dan Bitmex juga dikenal sebagai donatur utama pada pengembangan blockchain Bitcoin. Mereka menggelontorkan uang kepada sejumlah developer inti Bitcoin, termasuk menjaga perkembangan software Bitcoin Core, sebagai inti dari Bitcoin.

Blockstream juga dikenal mengembangkan protokol Lightning Network (LN) sebagai Layer 2 blockchain Bitcoin. Protokol itu memungkinkan transaksi Bitcoin menjadi instan, lebih murah dan lebih tersamarkan.

Dimaz Ankaa Wijaya, peneliti blockchain di Australia pernah memaparkan kecurigaannya soal besarnya keterlibatan dana Blockstream di wilayah Bitcoin.

“Dengan biaya gaji pengembang hampir sejuta dolar, bukankah logis jika kita curiga Blockstream dan perusahaan lainnya punya kepentingan yang kuat terhadap arah pengembangan Bitcoin? Bagaimana jika pada akhirnya Bitcoin dikondisikan sedemikian rupa untuk memberikan keuntungan kompetitif (competitive advantage) pada perusahaan-perusahaan itu? Jika sentralisasi terjadi pada pola pengembangan perangkat lunak Bitcoin, maka pantaslah kita bertanya, masihkah Bitcoin menyandang gelar sebagai sistem terdesentralisasi?” katanya.

Wahana Konspirasi
Blockstream sendiri diduga kuat memiliki tautan erat dengan Bilderberg Group yang beranggotakan, di antaranya adalah Federal Reserve (Bank Sentral AS) dan Master Card. Bilderberg Group disebut-sebut berinvestasi sangat besar di Blockstream melalui sejumlah perusahaan.

Dan publik pun mengetahui bahwa Blockstream sendiri adalah salah satu portofolio perusahaan ventura asal Singapura, East Ventures, yang didirikan oleh Willson Cuaca. East Ventures juga berinvestasi di Indodax asal Indonesia.

Pecinta teori konspirasi Jeff Berwick pernah menyebutkan bahwa tubuh Bitcoin disusupi oleh perusahaan-perusahaan kapitalis besar.

BERITA TERKAIT  Gubernur Bank Sentral Inggris Usulkan Pembuatan Uang Digital Berbasis Blockchain sebagai Pesaing Bitcoin dan Dolar AS

Dia menyebutkan bahwa perusahaan asuransi AXA berinvestasi sangat besar di Blockstream. Kepala AXA dan Bilderberg Group dipimpin oleh orang yang sama, yakni Henri de Castries. Bitcoin.com (dikeloal oleh Roger Ver), pernah melansir artikel Berwick itu, tapi kini tidak dapat diakses lagi. [red]

 

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO