Harga Bitcoin Meluruh, Tambang Bitcoin Ini Gulung Tikar Sementara

5731

Harga Bitcoin yang terus tertekan sejak Jumat, 12 Maret 2020 lalu, memaksa tambang Bitcoin, Digital Farm gulung tikar untuk sementara.

IKLAN

“Operasi penambangan Bitcoin, Digital Farms telah ditangguhkan tanpa batas waktu, terutama karena penurunan tajam dalam harga pasar Bitcoin,” sebut perusahaan dalam keterangan resminya, Rabu (18 Maret 2020).

Digital Farms, sebelumnya bernama Super Crypto Mining, dimiliki dan dikelola oleh perusahaan DPW Groups, yang terdaftar sebagai emiten di bursa saham Nasdaq.

Digital Farms menggunakan alat tambang buatan sendiri, AntEater, hasil kerjasama dengan Samsung.

Pada Mei 2019, Digital Farms mendapatkan lahan seluas 18.8061 meter persegi di Amerika Serikat untuk menambang Bitcoin. Mereka mendapatkan akses daya listrik sebesar 28 megawatt dan infrastruktur untuk mendukung hingga 300 megawatt.

Hengkangnya Digital Farms dari arena pertambangan Bitcoin, kurang dari 60 hari sebelum momen Bitcoin Halving pada Mei 2020 nanti.

Bitcoin Halving diyakini oleh beberapa pihak sebagai momen pelecut harga Bitcoin, karena laju produksi Bitcoin melalui imbalan kepada para penambang berkurang separuh, dari 12,5 BTC per block menjadi 6,25 per block.

BERITA TERKAIT  Fakta di Balik Bithumb yang Diretas

Karena Bitcoin semakin langka dan penggunaannya semakin luas, ketika permintaan melonjak, maka diharapkan harganya akan naik. Itu jikalau dicerminakan terhadap dua Halving sebelumnya yang mencetak kenaikan rata-rata 3 ribu persen, beberapa bulan setelah tanggal Halving.

Namun, beberapa pelaku aset kripto percaya bahwa Bitcoin Halving III pada Mei nanti, akan berdampak kecil terhadap harga Bitcoin. Penuh ketidakpastian.

Pun “neraka jahanam” itu terjadi terjadi pada 12-13 Maret 2020. Bitcoin anjlok luar biasa ke US$3.600. Harga Bitcoin pun terpangkas hingga 50 persen dari harga sebelumnya.

Penurunan besar harga Bitcoin kemudian menyebabkan ketidakstabilan penghasilan para penambang. Sebagian besar penambang malah mencecap kerugian. Hanya penambang-penambang bermodal segunung yang mampu bertahan dengan cara menutupi kerugiannya.

Pada 12 Maret 2020 misalnya, Mining pool F2Pool melaporkan bahwa pendapatan harian mereka tergerus, sama seperti pada November dan Desember 2018.

Menurut BlockTrade pada 23 Maret 2020, dengan harga saat ini, keuntungan penambang adalah negatif. Idealnya dengan imbalan per blok 12,5 BTC, maka harga Bitcoin setidaknya berada di kisaran US$7.300. Dengan harga Bitcoin, katakanlah sekitar US$6.300, maka keuntungan penambang Bitcoin rata-rata minus 16 persen.

BERITA TERKAIT  G20 Sepakat Atur Kripto, Berita Baik Atau Buruk?

“Nah, setelah Halving, ketika imbalannya menjadi 6,25 BTC per block, maka biaya produksi satu unit Bitcoin adalah US$12.000-15.100. Dengan kata lain, harga pasar Bitcoin juga harus berada di rentang itu agar penambang Bitcoin bisa terus bertahan,” kata BlockTrade.

Terpantau petang ini di bursa aset kripto Binance, pukul 15:44 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$6.254. Raja Aset Kripto itu naik tipis 2,45 persen, setelah anjlok dari US$6.656 menjadi US$6.073 (8,77 persen), dalam kurang dari 5 jam. [Cointelegraph/BlockTrade/red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO

Berita sebelumyaMengapa Bank Indonesia Melarang Bitcoin?
Berita berikutnyaCara Beli dan Jual Emas Digix (DGX) di Tokocrypto
Avatar
Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id, tertarik tentang teknologi komputer sejak duduk di bangku SMP, menulis artikel tentang teknologi blockchain dan bitcoin di media massa sejak 2014. Pada tahun 2015 bergabung sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) hingga sekarang. Sebelumnya di KabarMedan.com sebagai Managing Editor, Kontributor MetroTV dan Redaktur di Harian Global, Medan. Tahun 2001-2016 sebagai penulis lepas untuk Tabloid Komputer PCplus dan Majalah Info Komputer (Kelompok Kompas-Gramedia).