Ini Kata Pakar Soal Blockchain pada Tahun 2019

222
IKLAN

Besok adalah hari terakhir kita meninggalkan tahun 2018 dan siap bersua dengan tahun yang baru. Meraba-raba perkembangan blockchain pada tahun 2019, apa sih yang ada di pikiran seorang pakar blockchain? Dimaz Ankaa Wijaya, peneliti pada Blockchain Research Joint Lab Universitas Monash, Australia punya jawaban yang mungkin bisa mencerahkan Anda. Berikut nukilan wawancara BlockchainMedia melalui Telegram siang tadi.

Apa pandangan Anda tentang teknologi blockchain pada tahun depan?

Saya pikir kecenderungan masih sama dengan tahun 2018. Public blockchain/cryptocurrency sudah lebih mature dengan berfokus pada peningkatan skalabilitas dan sejumlah fitur lainnya. Sementara, private blockchain mungkin masih dalam tahap pengembangan dan eksplorasi semata.

Public blockchain mana saja yang patut disoroti, yang memiliki keunggulan lebih berbanding public blockchain lainnya?

Menurut saya, yang sekarang berada di Top 20 versi Coinmarketcap.com. Stablecoin pun akan semakin jamak muncul, termasuk Security Token Offering (STO) akan menjadi salah satu hal menarik. Itu pun jikalau aturan dari pemerintah memang mendukung. Selain itu post-quantum coin masih dalam pengembangan, tetapi sepertinya tidak dalam waktu dekat. Sedangkan soal smart contract akan semakin mapan, dengan Ethereum, Tron dan EOS berdempetan merebut pasar. Dan yang paling saya soroti adalah NEO. Blockchain ini mungkin sudah tidak dapat ditolong.

Oh, ya, Ethereum dengan Constantinople-nya bagaimana. Apakah akan berdampak positif pada penambahan keunggulan smart contract-nya?

Saya tak yakin dengan rencana fork-nya. Karena ini berdampak pengurangan komisi para miner. Saya pikir di sini akan ada dua pilihan: gagal atau muncul koin baru.

Cardano (ADA) bagaimana?

Ya, kecuali Cardano. Saya nggak ngerti arah hidupnya ke mana.

Khusus jenis privacy coin, ada pandangan khusus?

Privacy coin seperti Monero, ZCash dan ZCoin mungkin akan mendapatkan tekanan lebih kuat dari regulator dan penegak hukum di banyak negara, tetapi tetap memiliki pasar masing-masing.

Maksudnya privacy coin tetap memiliki pasar masing-masing, karena memang sejumlah exchange yang centralized ataupun decentralized) masih me-listing-nya?

Ya, betul. Karena, privacy coin memang memiliki pasar dan penggemarnya sendiri. Meskipun itu bisa jadi masalah besar di antara para agen penegak hukum.

Dalam artikel yang ia tulis pada November 2018, Dimaz mengatakan, pada blockchain, metode-metode kriptografi seperti Fully Homomorphic Encryption (FHE) yang mulai populer sejak beberapa tahun belakangan ini terus dikembangkan agar data-data terenkripsi masih dapat diproses tanpa harus melalui proses dekripsi terlebih dahulu. Meskipun tentu saja diperlukan komputasi yang lebih besar untuk memproses data-data yang dienkripsi dengan teknik FHE, alternatif ini perlu dilirik sebagai salah satu solusi.

Teknologi blockchain memang sudah berusia satu dekade. Namun, hingga saat ini pengembangannya terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan fungsionalitas blockchain agar dapat diterapkan ke dalam berbagai sistem yang hingga saat ini masih.

“Dengan segala keterbatasan dan kebutuhan yang amat beragam, bukan tidak mungkin kita akan melihat bentuk blockchain yang jauh berbeda ketimbang blockchain yang kita lihat sekarang ini di dalam mata uang kripto. Namun, tentu saja, sistem ini masih jauh dari maturity, dan barangkali kita akan meraup potensi yang jauh lebih besar dengan sistem blockchain yang ada di masa depan,” tulis Dimaz yang telah menulis tiga buku bertema blockchain dan kripto ini. Dua di antaranya bisa Anda unduh di sini. [vins]

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini