Jelajah Bitcoin di Desa Gondo

Hash Rate Bitcoin yang meningkat sejak awal tahun 2019 menandakan kembalinya miner (penambang) Bitcoin. Ini tentu diiringi semakin meningkatnya transaksi Bitcoin dan kenaikan harganya, baik di spot market dan berjangka. Di Gondo, Swiss yang dingin “a new gold rush” mulai membuncah setelah lebih dari setahun penambangan Bitcoin kurang bergairah, sebagai akibat menurunya nilai Bitcoin sejak Desember 2017.

Sistem uang elektronik peer-to-peer Bitcoin memang dirancang untuk meniru (mimics) mekanisme penambangan emas di dunia nyata. Menambang emas sunggguhan perlu modal yang besar untuk membeli segala macam perlengkapan dan menggaji pekerja. Mengingat jumlah emas sangat langka, semakin dalam tanah digali, maka semakin sulit ia diperoleh dan tentu saja perlu tambahan modal lagi. Di penambangan Bitcoin juga perlu modal besar untuk membeli ASIC mining berikut membayara biaya listrik yang tak kecil.

Adalah Gondo, sebuah desa nan mungil di dataran tertinggi Pegunungan Alpen, Swiss. Pada abad ke-17 demam emas melanda seisi negara gara-gara tambang emas Kaspar Stockalper. Banyak orang kota pindah ke desa itu. Namun, ketika emas dari perut bumi Gondo habis, pada tahun 1800-an tambang itu akhirnya ditutup. Populasi warga pun menciut, kini menjadi hanya 50 jiwa. Bandingkan dengan data per 2008 masih 111 jiwa.

200 tahun kemudian, Gondo dilanda demam serupa, tapi kali adalah “emas digital”, yakni Bitcoin. Penambang Bitcoin dari kota pun menggelar segala perlengkapannya di Gondo, menghuni sebuah bunker khusus. Gondo menarik karena suhu di Alpen sangat dingin dan berbiaya listrik yang murah, sangat cocok dengan penambangan Bitcoin.

Menurut laporan Wired baru-baru ini, penambang Bitcoin pertama yang mendarat di sana adalah Alpine Tech. Di bunker itu mereka memasang lebih dari 900 kartu grafis (GPU) untuk menambang Bitcoin dan Ether. Kendati Alpine Tech bermarkas di Gondo, perusahaan itu punya sejumlah tempat penambangan lain di beberapa negara di Eropa.

Fotografer asal Italia, Claudio Cerasoli mengabadikan penambangan Bitcoin itu dengan kameranya. Katanya kepada Wired, “Kendati mata uang kripto seperti Bitcoin sarat dengan teknologi tinggi, tapi ada bagian kecil darinya yang bersifat seni.”

Penambangan Bitcoin memang perlu energi yang sangat besar. Berdasarkan penelitian oleh Universitas Cambridge, diperkirakan konsumsi energi penambangan Bitcoin di dunia dalam setahun, nilainya setara energi listrik yang dikonsumsi oleh negara kecil Swiss. Negara ini pun dikenal sangat ramah kripto. Tak heran Facebook-Libra Association yang membuat mata uang kripto Libra didirikan di Swiss, sekaligus merupakan tempat lahir David Marcus, Manager Divisi Blockchain di Facebook.

Berikut foto-foto hasil bidikan Cerasoli, berjudul “L’oro di Gondo” yang dikutip dari situs pribadinya.

Hasil bidikan Cerasoli pada hakekatnya memadu dua masa yang berbeda, tetapi dengan satu tujuan serupa: menjelajah dunia yang baru menggunakan cara-cara yang inovatif, seraya mengguncang status quo. [red]

 

spot_img

Terkini

Terkait