Bitcoin dan Negara Adi Kuasa

1806

Rapat dengar pendapat—saya lebih suka menyebutnya seperti itu—antara Senate Committee Amerika Serikat (AS) dengan Ketua Bank Sentral AS beberapa hari yang lalu, tak hanya mengantarkan kita kepada sudut pandang pemimpin negara adi kuasa itu tentang uang dan Bitcoin. Pertemuan tingkat tinggi itu sejatinya pula mengajak kita kembali mengunjungi hakikat dasar kekuasaan. Dan ini lebih seru daripada pernyataan Donald Trump.

IKLAN

Oleh: Vinsensius Sitepu
Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id

Kekuasan Coercive
Adalah Thomas Hobbes (1588-1679), filsuf dari Inggris dan pemikir utama tentang kekuasaan negara. Menurutnya, hakikat kekuasaan adalah ketika negara memiliki otoritas penuh untuk mengatur urusan dalam negerinya dan di luar negeri (sovereignty). Jadi, hakikat kekuasan terkait dengan aktor lain dalam tiga matra yang berbeda, yakni internal, eksternal dan teritorial (di wilayah jauh negara).

Tegas Hobbes, kekuasaan terbaik dan murni lahir dari posisi tunggal terhadap sovereignty  itu. Hobbes menyebut itu dengan istilah “The Leviathan”. Dalam khasanah teologi Yahudi, “Leviathan” atau “Livyatan” merujuk kepada monster yang datang dari laut, sebuah simbol kekuatan dan pemicu ketakutan.

Dalam pemikiran Hobbes juga tergantung kalimat yang sangat menarik, bahwa kekuasaan akan semakin kuat (cunning) karena bentuk dasarnya dapat berubah sebagai respons terhadap usaha kita untuk bebas darinya.

Saya tak akan membahas itu lebih lengkap. Namun, setidaknya Anda merasakan atau mengetahui sendiri bahwa arena kekuasaan dengan segala instrumen hukumnya, bersifat Coercive (memaksa; mengancam) dan relatif bertahan terhadap hal-hal baru yang dianggap membahayakan status quo.

Panggung dialektika
Rapat dengar pendapat itu menurut saya adalah panggung dialektika. Di sana bertemulah dua aras yang berbeda (tesis dan antitesis), lantas mencoba mencari sintesa (jalan keluar, solusi, pendekatan) terhadap sebuah persoalan, dalam hal ini adalah Bitcoin versus Amerika Serikat.

Petikan percakapan berikut ini saya tuliskan secara verbatim (murni yang diucapkan), dari siaran CNBC di Youtube.

Michael Dean Crapo Ketua Senate Committee yang memimpin rapat bertanya kepada Jerome Powell sebagai Ketua Bank Sentral Amerika Serikat alias The Fed: Are you aware of any other cryptocurrency proposals that are out there, other than Libra, something else globally that is being developed?

“Apakah Anda menyadari ada mata uang kripto selain Libra, yang digunakan secara global?” tanya Crapo.

Powell: I mean not really. There are companies that are looking at internal stablecoin type ideas to use with their customers. But, I’m not aware of anything that could potentially be quite so scalable so quickly, as this given the existing network that the company has.

“Tak seperti itu. Memang ada sejumlah perusahaan yang melihat ide membuat internal stablecoin bagi pengguna mereka. Tetapi, saya tidak melihat itu bertumbuh cukup cepat mengingat jaringan yang digunakan oleh perusahaan itu,” jawab Powell.

Bagi pegiat kripto ini sekadar menegaskan keberadaan stablecoin yang berpatok dolar, seperti USDT (dibuat oleh Tether di Hong Kong sejak tahun 2014) dan GUSD (dibuat oleh Gemini di Amerika Serikat). Kedua stablecoin itu sangat popular digunakan saat ini sebagai alat pembayaran “setara dolar AS” di dunia maya.

BERITA TERKAIT  Andai Blockchain Tanpa Konsensus

Mengirim dan menerima USDT misalnya jelas tidak perlu melalui sistem perbankan. Berkat blockchain, settlement (penyelesaian) hanya perlu 30-60 menit dengan fee transaksi 2-5 dolar. Bahkan USDT versi blockchain Tron berlangsung instan dengan fee transaksi gratis. Jadi, stablecoin yang berpatok dolar adalah representasi uang dolar AS (disimpan di bank) dalam wujud angka di jaringan blockchain. Trend stablecoin pun semakin menguat, termasuk yang dibuat oleh OKEx.

Keunggulan itu (terlepas dari kontroversinya) tentu saja adalah manfaat yang sangat besar, karena jauh lebih murah daripada menggunakan layanan perbankan biasa atau PayPal bahkan Western Union sekalipun. Bukankah manusia secara alamiah akan memilih hal yang lebih praktis daripada yang menyulitkan? Apakah itu menabrak peraturan, adalah masalah kedua.

Crapo: All right and to return to the question that senator Perdue had asked you about the impact of a crypto currency system on our reserve currency in the world, particularly in the United States reserve currency, which as as you both indicated in your conversation has. I think the United States has benefited from our currency being the world’s reserve currency. If a crypto currency system were to become prevalent throughout the globe, would that diminish or remove the need for a reserve currency in the traditional sense?

“Merujuk pada pertanyaan Senator Perdue tadi, soal dampak sistem mata uang kripto terhadap mata uang kita [dolar AS-red], yang digunakan secara global dan khususnya di Amerika Serikat dan kita mendapatkan manfaat dari itu. Jikalau sistem mata uang kripto digunakan secara luas dan mengglobal, apakah itu mampu menggantikan kebutuhan terhadap uang dolar?” tanya Crapo.

BERITA TERKAIT  Upbit Indonesia Perkenalkan Fitur Lightning Transfer

Powell: I think things like that are possible. But we really haven’t seen them. We haven’t seen widespread adoption. I mean, bitcoins is a good example. Really almost no one uses Bitcoin for payments. They use it more as an alternative to gold really. It’s a store of value. It’s a speculative store of value like gold. So we don’t have an that people, of course have been talking about this since cryptocurrencies emerged. But we haven’t seen it. But that’s not to say we won’t see it. And if we do see it yes. You could see a return to an era in the United States where we had many different currencies, and you know, in the so called I guess national banking era.

“Saya pikir hal seperti itu mungkin. Tetapi, kami tak melihat itu. Kami tidak melihat adopsi yang luas. Maksud saya, Bitcoin sebagai contoh yang baik. Hampir tak semua orang menggunakan Bitcoin sebagai pembayaran. Mereka menggunakan Bitcoin sebagai alternatif dari emas. Bitcoin dianggap sebagai store of value. Bitcoin juga spekulatif seperti emas. Namun, itu bukan berarti tidak bisa terjadi [sebagai alat pembayaran-Red]. Jikalau itu terjadi, maka kita kembali, ketika Amerika Serikat pernah memiliki banyak mata uang yang berbeda, yang kita sebut sebagai ‘national banking era’,” kata Powell.

Jawaban Powel kembali menegaskan realita di komunitas Bitcoin: contoh terbaik mata uang kripto adalah Bitcoin, tidak digunakan sebagai pembayaran, spekulatif, alternatif dari emas, dan sebagai store of value. Tetapi, Powell mungkin tak menyadari adanya teknologi Bitcoin Lightning Network, yang secara teknis bisa menjadikan Bitcoin sebagai alat pembayaran global, karena murah dan cepat.

Pokok di sini adalah Powel sebagai salah seorang representasi kekuasaan di Amerika Serikat menyadari nilai dari Bitcoin itu sendiri. Tentu ia menyerap fenomena itu dari lapangan. Tetapi, di titik ini, karena rapat itu disiarkan secara langsung oleh media ternama, ini sama halnya “iklan gratis” Bitcoin dan membuat Bitcoin semakin terkenal. Ini jelas memicu rasa ingin tahu banyak orang.

Multiple Currency

Menarik pula memaknai kalimat Powell: Namun, itu bukan berarti tidak bisa terjadi [sebagai alat pembayaran-Red]. Jikalau itu terjadi, maka kita kembali, ketika Amerika Serikat pernah memiliki banyak mata uang yang berbeda, yang kita sebut sebagai “national banking era”.

Dalam sejarah perbankan Amerika Serikat, National Banking Era merujuk pada periode antara pembentukan “nationally chartered banks” dan pendirian Federal Reserve alias bank sentral pada tahun 1863 hingga 1913. Selain istilah itu, ada yang disebut sebagai “the state, free atau banking era atau wildcat banking pada tahun 1837 hingga 1863. Itulah dua babak sistem perbankan Amerika Serikat.

Pada “free banking era”, sebelum perang sipil AS, sejumlah bank lokal di negara bagian diperbolehkan menerbitkan uang (bank note) sendiri dan terkadang sejumlah bank berperan layaknya bank sentral. Pada tahun 1797 ada  sekitar 24 bank dan bertumbuh menjadi 712 bank pada permulaan free banking era. Di masa itu sistem keuangan tidak terkendali, karena lama kelamaan ada uang yang tidak dipatik dengan aset asli, seperti emas, perak atau surat utang.

BERITA TERKAIT  Bitcoin Halving 2020, Hugo Prasetyo: Harga Bitcoin Mungkin Tak Naik Sampai 30 Kali Lipat

Kekacaubalauan itulah yang mendorong Amerika Serikat mendirikan Bank Sentral alias The Fed pada 23 Desember 1913 untuk mengendalikan sistem moneter nasional dan internasional, sekaligus menjadikan uang dolar sebagai mata uang tunggal di dalam negeri dan standar pembayaran global.

Jadi, ucapan “national banking era” menyiratkan pesan bahwa era masa kini, ketika ribuan kripto dianggap sebagai mata uang, merupakan guncangan terhadap sistem keuangan Amerika Serikat, sebuah kekacaubalauan episode kedua serupa seperti “free banking era’.

Tak heran Facebook dengan Libra-nya dianggap sebagai shadow banking atau “act like the fed”, terlebih-lebih Facebook punya massa pengguna yang tak sedikit dan punya masa lalu yang buruk gara-gara skandal Cambridge Analytica.

Lalu, jika di masa depan Bitcoin Lightning Network memungkinkan Bitcoin dijadikan sebagai alat pembayaran lintas negara karena lebih murah dan cepat, titik paling berbahaya adalah simpul (node) jaringan Lightning Network itu sendiri. Sebab simpul-simpul itu sangat mudah diserang dengan metode DDos (Distributed Denial of Service). Ini pernah terjadi pada 20 Maret 2018. Itu berdampak pada terhambatnya transaksi.

Di atas itu semua, ibarat sebuah drama politik, ini akan terus berlanjut dengan lobi-lobi kelas wahid, tetapi masih dalam kerangka kekuasaan negara yang memaksa. [red]

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini

Berita sebelumyaBursa Bitcoin di Jepang Diretas, Rp450 Miliar Melayang
Berita berikutnyaJelajah Bitcoin di Desa Gondo
Avatar
Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id, tertarik tentang teknologi komputer sejak duduk di bangku SMP, menulis artikel tentang teknologi blockchain dan bitcoin di media massa sejak 2014. Pada tahun 2015 bergabung sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) hingga sekarang. Sebelumnya di KabarMedan.com sebagai Managing Editor, Kontributor MetroTV dan Redaktur di Harian Global, Medan. Tahun 2001-2016 sebagai penulis lepas untuk Tabloid Komputer PCplus dan Majalah Info Komputer (Kelompok Kompas-Gramedia).