Jelang Akhir Maret, Harga Bitcoin Melonjak Jadi US$47.700, Inikah Penyebabnya?

Pada artikel 23 Maret 2022 kami memproyeksikan bahwa harga Bitcoin (BTC) berpotensi melonjak mulai akhir Maret 2022. Dan pagi hari ini, Senin (28/3/2022), harga kripto nomor wahid ini sukses mencetak US$47.700 melampaui level 2 Januari 2022 di time frame harian. Berikutnya menuju US$50 ribu? Dan apa saja penyebabnya?

“Dengan kecenderungan indikator MACD saat ini, maka potensi dimulainya bull run Bitcoin setidaknya dimulai pada 28 Maret 2022 atau 4 April 2022 mendatang, dengan garis MACD mencoba menembus ke atas garis sinyal MACD dan harga BTC mencoba merangsek di atas MA 50,” tulis Redaksi Blockchain media.id pada 23 Maret 2022.

Ketika itu, histogram MACD berwarna merah pudar sudah mulai muncul sejak 31 Januari 2022 dan terus memendek hingga 21 Maret 2022. Ini adalah tanda kuat akumulasi memang berlangsung cukup panjang sekitar 8 minggu pada time frame mingguan.

Histogram merah pudar yang terus memendek akan diikuti dan beralih dengan histogram hijau pekat, yang menandakan harga berbalik arah.

Dan hari ini, Senin (28/3/2022) membuka awal pekan menjelang akhir bulan, histogram MACD, mingguan sudah berwarna hijau pekat (lihat grafik di bawah). Sebelumnya, munculnya histogram seperti ini pada 16 Agustus 2021, ketika harga Bitcoin mingguan ditutup positif dari US$44.281 menjadi US$50.275.

Penegasan positif lainnya adalah ketika garis MACD (biru) sudah menyilang dan berada di atas garis sinyal MACD (jingga).

Berdasarkan indikator Moving Average juga menunjukkan sinyal positif, di mana candlestick berada di atas MA 50, menegaskan kenaikan pekan sebelumnya (lihat grafik di bawah).

Posisi candlestick seperti ini terakhir terlihat pada 6 Desember 2021 namun dalam trend turun sejak November 2021.

Sedangkan pada tren sebaliknya, terjadi pada 26 Juli 2021 yang sukses mengantarkan Bitcoin mencetak harga tertinggi sepanjang masa, US$69 ribu (8 November 2021).

Masih pada time frame mingguan, berdasarkan indikator Parabolic SAR dan RSI sinyal positif kian mengental (lihat grafik di bawah). Parabolic SAR masih memunculkan sinyal kenaikan yang dimulai sejak 28 Februari 2022 (sebagai local support terbaik). Sedangkan RSI, garis RSI naik ke wilayah 53 (di atas nilai median) di atas garis sinyal yang merupakakan hasil kontribusi sejak masuk ke wilayah 43 sejak 7 Maret 2022.

Secara teknikal, berdasarkan RSI harga yang masuk di atas wilayah 50 menunjukkan sentimen bullish di antara trader. Pola RSI serupa seperti ini terjadi pada 26 Juli 2021 ketika BTC diperdagangkan di kisaran US$43 ribuan lalu memuncak di US$69 ribu pada pekan pertama November 2021.

Dengan capaian US$47.700 pada hari ini, maka resisten besar berikutnya adalah US$49.200 yang bisa membuka pintu menuju US$50 ribu lagi.

Harga Bitcoin Melonjak, Spekulasi Faktor Penyebab

Kenaikan signifikan Bitcoin juga diikuti oleh kripto lain, Polkadot (DOT) naik 7 persen dalam 24 jam, Dogecoin (DOGE) naik 6 persen, Solana (SOL) naik 5 persen, Avalanche (AVAX) naik 4 persen, XRP naik 3  persen dan Cardano (ADA) naik 3 persen.

Kenaikan Bitcoin sebagai “penentu arah” kripto lainnya setidaknya didorong oleh beragam sebab yang cenderung spekulatif, mulai dari inflasi di Amerika Serikat yang kian tak terbendung, walaupun sudah ada kebijakan penaikan suku bunga acuan The Fed. Bank Sentral AS itu diperkirakan akan menaikkan lebih besar dalam tempo lebih cepat lagi.

Pun lagi spekulasi bahwa belanja US$1,5 triliun pada pekan lalu dianggap sebagai masuknya lagi dolar AS ke dalam pasar sehingga pasar lebih likuid.

Hal lainnya adalah akumulasi Bitcoin oleh Terra Foundation terus berlanjut. Saat ini nilainya mencapai US$1 miliar dari sasaran jangka pendek adalah US$3 miliar dan jangka panjang adalah US$10 miliar.

Mengingat korelasi pasar saham dan pasar kripto memuncak positif pada akhir 2021 lalu, selama sepekan berturut-turut pada Maret 2022, indek S&P 500 telah meningkat selama dan korelasi Bitcoin dengan saham berada pada level tertinggi 17 bulan.

Saldo Bitcoin di bursa juga berada pada titik terendah dalam lebih dari tiga tahun menurut Glassnode, menandakan peningkatan permintaan dan minat untuk memindahkan Bitcoin dari bursa ke coldwallet.

Faktor mungkin lainnya adalah hasil survei oleh bank multinasional Goldman Sachs menunjukkan, bahwa 60 persen klien yang menjadi responden ingin meningkatkan investasi kripto mereka. Sejak tahun Goldman Sachs gencar menyiapkan produk investasi bernilai kripto kepada kliennya.

Sebuah survei yang diperoleh media siber The Block dari raksasa perbankan investasi Goldman Sachs menunjukkan bahwa investor terus optimis tentang kripto.

Bahkan Rusia terbuka menerima Bitcoin (BTC) untuk ekspor sumber daya alam. Hal tersebut disampaikan Ketua Komite Energi parlemen, Pavel Zavalny, dalam konferensi pers pada Kamis (24/03/2022).

Dorongan lainnya datang dari raksasa keuangan BlackRock. CEO BlackRock, Larry Fink, berkata konflik Rusia-Ukraina dapat mempercepat aset digital/kripto sebagai alat untuk menyelesaikan transaksi internasional. Sebab, konflik tersebut mengakhiri globalisasi yang melaju selama tiga dekade terakhir. [ps]

spot_img

Terkini

Terkait