Kisah Halving dan Kenaikan Harga Bitcoin

Bitcoin Halving pada Mei 2020 adalah peristiwa sangat istimewa, karena Halving terjadi hanya setiap 210.000 block atau setara dengan 4 tahun sekali. Bagi saya, itu bisa melejitkan harga Bitcoin (BTC) di masa depan, karena pasokan Raja Aset Kripto itu lebih langka 50 persen daripada sebelumnya. Saya meramalkan harga Bitcoin akan meningkat signifikan secara perlahan tapi pasti, setidaknya setelah kuartal ketiga tahun 2020.

OLEH: Sumardi Fung
Pendiri dan CEO Rekeningku.com

Bitcoin Halving adalah mekanisme baku di sistem blockchain Bitcoin, karena penciptanya, Satoshi Nakamoto menganut corak pikir deflation economics. Baginya, aset berwujud digital atau bisa berperan juga sebagai bentuk uang baru elektronik, harus kian langka dalam jangka waktu tertentu, selayaknya pasokan emas melalui proses penambangan.

Maka, setiap 210.000 block di blockchain Bitcoin, pasokan aset kripto Bitcoin, melalui imbalan kepada para penambang, dikurangi sebanyak separuh. Kelangkaan itu juga akan berdampak pada menurunnya tingkat inflasi Bitcoin.

Bitcoin Halving III yang diperkirakan akan terjadi pada pertengahan Mei 2020 nanti, jatuh pada block transaksi ke-630.000. Ketika itu imbalan Bitcoin kepada para penambang berkurang dari 12,5 BTC per block menjadi 6,25 BTC per block. Periode antar block rata-rata 10 menit.

Laju inflasi Bitcoin terkait Halving.

Jadi, pasokan Bitcoin setelah Halving menjadi lebih langka daripada sebelumnya. Kalau saat ini jumlah Bitcoin yang ditambang adalah 1.800 BTC per hari, maka setelah Halving hingga 4 tahun berikutnya hanya 900 BTC per hari. Demikian seterusnya setiap 4 tahun sekali di sejumlah Halving berikutnya, sampai 21 juta Bitcoin habis ditambang, sebagai jumlah maksimal Bitcoin.

Saat ini, 14 April 2020 pukul 12:37 WIB jumlah Bitcoin yang beredar (sudah ditambang) adalah 18.323.700 BTC. Jadi yang belum ditambang adalah 2.676.300 BTC. Jadi, sejak Mei 2020 sampai 4 tahun berikutnya, Bitcoin yang ditambang hanya 1.296.000 BTC.

Dengan kelajuan produksi seperti itu, maka tingkat inflasi Bitcoin berkurang dari sekarang 3,65 persen per tahun menjadi 1,80 persen per tahun setelah tanggal Halving III. Inflasi yang kecil bermakna peluruhan nilai Bitcoin juga semakin kecil.

Dinamika harga Bitcoin pada dua Halving sebelumnya.

Sebaliknya yang terjadi dengan uang fiat alias uang yang diterbitkan oleh negara termasuk rupiah. Inflasi uang fiat dalam jangka pendek naik turun dan terasa kecil. Tetapi dalam jangka sangat panjang atau dalam situasi krisis, nilainya bisa sangat-sangat mengenaskan. Inilah yang menjelaskan mengapa nilai uang Rp5000 saat ini pernah sanggup membeli satu dus mi instan di masa lalu.

Jadi ringkasnya, Bitcoin Halving bertujuan menjaga pasokan Bitcoin agar tidak terlalu banyak di pasar. Inilah yang menjelaskan mengapa harga Bitcoin terus naik dari waktu ke waktu, ketika demand (permintaan) semakin banyak, meskipun ada lonjakan naik turun di antaranya.

Secara historis kenaikan harganya adalah bertahap, tidak langsung, tetapi naik beberapa bulan setelah tanggal Halving. Maka, janganlah berharap harga Bitcoin bisa naik melampaui all time high US$20.000 (seperti Desember 2017) pada tahun ini.

Kisah Bitcoin pada Halving Pertama
Secara historis dari dua Bitcoin Halving sebelumnya, ada korelasi erat antara momen itu dengan kenaikan harga Bitcoin. Pada Bitcoin Halving Pertama, 28 November 2012, harga Bitcoin sekitar US$12.

Kenaikan harga terbentuk satu tahun sebelum Halving, di mana 1 BTC berharga sekitar US$2,4 (28 November 2011). Lalu, 6 bulan berikutnya naik menjadi US$6,49 (28 Juni 2012). Harga Bitcoin menguat secara besar-besaran hanya 6 bulan setelah Halving (Mei 2013), sekitar 916 persen menjadi sekitar US$122 per BTC.

Dari tanggal Halving Pertama hingga berpuncak pada November 2013 (sekitar 1 tahun), harga Bitcoin menguat sebesar 8.255 persen menjadi sekitar US$999 per BTC.

Jadi, tren naik yang dimulai pada 28 November 2011, hingga puncaknya pada November 2013, harga Bitcoin menguat 41.525 persen!

Pada akhir 2013, skandal penggelapan Bitcoin oleh MtGox di Jepang menyebabkan nilai Bitcoin hilang lebih dari 80 persen. Ini juga merupakan awal dari bearish panjang bagi Bitcoin. Butuh hampir dua tahun lamanya.

Halving Kedua Lebih Luar Biasa
Halving Kedua terjadi pada 9 Juli 2016. Saat itu 1 BTC sekitar US$653 atau naik sekitar 5.341 persen dibandingkan harga pada Halving Pertama (US$12).

Tren naik harga Bitcoin mulai terbentuk sekitar 9 bulan sebelum Halving (9 September 2015). Sekitar 1 tahun sebelum Halving (9 Juli 2015), 1 BTC sekitar US$268 dan 6 bulan sebelum Halving (Januari 2016), 1 BTC sekitar US$449.

Kenaikan gila-gilaan terjadi selama 17 bulan, di mana Bitcoin menguat sekitar 2.862 persen dari tanggal Halving Kedua (US$653 per BTC), menjadi sekitar US$19.345 per BTC pada 16 Desember 2017 sebagai harga tertinggi sepanjang masa. Inilah harga yang kelak harus dilampaui oleh Bitcoin untuk membuktikan keunggulannya.

Maka, dari tren naik yang dimulai pada 9 September 2015 (US$237), hingga puncaknya pada 16 Desember 2017, harga BTC menguat 8.062 persen.

Penurunan harga dan retrace (pembalikan arah harga) berlangsung panjang. Ini terjadi setelah mencapai puncak harga dan serupa dengan Halving Pertama. Bitcoin pun turun 83 persen selama 12 bulan setelah mencapai puncaknya pada 16 Desember 2017 (US$19.345), hingga Bitcoin mencapai titik terendah sekitar US$3.232 pada 15 Desember 2018.

Kesimpulan
Pada Halving Ketiga tahun ini, saya meramalkan harga Bitcoin akan meningkat secara perlahan tapi pasti, setidaknya setelah kuartal ketiga berakhir (Oktober-Desember 2020).

Hanya saja, grafik yang terlihat mungkin tak akan berbentuk linear, tapi akan banyak aksi profit taking di antaranya, karena sekarang pasar aset kripto sudah tidak seperti dulu sebelum tahun 2018.

Sekarang ada pasar margin dan futures market yang mulai marak sejak tahun 2018. Pelakunya juga semakin banyak, sehingga tidak mungkin bisa naik terus tanpa turun, karena adanya aksi taking profit yang kian sering.

Jadi berinvestasi di aset kripto, khususnya Bitcoin, adalah investasi jangka menengah atau jangka panjang untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi. [*]

Terkini

Warta Korporat

Terkait