Mau Menambang Bitcoin? Pertimbangkan Ini Dulu

5642
Penambang kripto Rekeningku.com di Jakarta.

Menambang (mining) Bitcoin saat ini semakin susah, karena mining difficulty di blockchain Bitcoin sudah memuncak di besaran terbaru sepanjang masa, yakni lebih dari 7,93 triliun. Tren mining difficulty memang menaik sejak awal Januari 2019. Dari data yang diolah oleh BTC.com, perubahan mining difficulty berikutnya akan jatuh pada 10 atau 11 Juli 2019.

Menambang (mining) adalah unsur terpenting di blockchain Bitcoin. Berkat penambanganlah Bitcoin-Bitcoin baru tercipta dan masuk ke pasar. Mengingat proses penambangan melibatkan tenaga komputasi yang sangat besar, maka besaran mining difficulty harus dipertimbangkan matang-matang oleh para penambang (miner).

IKLAN

Ketika musim dingin kripto tahun 2018, para penambang Bitcoin mengalami kerugian besar-besaran. Hasil penjualan Bitcoin yang mereka tambang tidak cukup menutupi biaya operasional sehari-hari, termasuk tentu saja biaya listrik, upah karyawan, termasuk penaiktarafan (upgrade) perangkat keras. Alhasil, tak sedikit penambang yang terpaksa menggantungkan alat penambangannya alias bangkrut.

BERITA TERKAIT  Golden Cross! Bitcoin Tinggalkan Level US$7500

Mining difficulty adalah ukuran tingkat kesulitan untuk memverifikasi dan memvalidasi transaksi di setiap blok Bitcoin. Proses itu secara teknis direpresentasikan dengan persoalan matematis yang rumit. Setiap komputer atau sejumlah komputer penambang (pool) berlomba-lomba memecahkan persoalan itu. Jikalau berhasil, maka penambang mendapatkan imbalan berupa Bitcoin hasil transaksi pengguna, sekaligus “menciptakan” Bitcoin yang baru.

Periode waktu setiap blok dirancang setiap 10 menit, di mana setiap blok berisikan sejumlah transaksi dengan jumlah yang berbeda-beda. Setiap 10 menit (per blok), terciptalah 12,5 BTC yang baru. Akumulasi Bitcoin itulah yang diandalkan oleh para penambang untuk dijual guna menutupi biaya operasionalnya.

Ingat, dalam metode penambangan “pool“, 12,5 BTC itu dibagi-bagi kepada anggota “pool“, sesuai dengan tingkat kekuatan komputernya masing-masing. Saat ini diperkirakan jumlah anggota penambang Bitcoin yang menggunakan metode pool di seluruh dunia mencapai ratusan hingga ribuan. Sedangkan jumlah komputer yang digunakan untuk menambang Bitcoin mencapai jutaan unit dan jutaan unit lainnya untuk menambang jenis kripto lainnya.

Secara total, hash rate (kekuatan komputer penambang) di blockchain Bitcoin saat ini mencapai 57,11 Exa Hash (EH) per detik. Itu setara dengan 57.110.000.000.000.000.000 kalkulasi per detik. Para penambang dari Tiongkok memprediksi, angka itu akan meningkat hingga 70 EH per detik.

BERITA TERKAIT  Survei Terbaru: 10 Persen Orang Indonesia Punya Aset Kripto

Namun, melihat besaran hash rate di Blockchain Bitcoin juga meningkat, artinya jumlah penambang Bitcoin juga bertambah. Tren naik ini mulai terlihat setelah 15 Desember 2018, lalu ketika Bitcoin mulai menaik dari kisaran harga US$3.100 per BTC. [Naderob/red]

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini