Sejumlah Konferensi Blockchain Batal Akibat Wabah Virus Corona

3348
Konferensi Token 2049 tahun 2019 lalu di Hongkong.

Sejumlah konferensi blockchain batal digelar akibat wabah Virus Corona yang semakin mengkhawatirkan. Pagi hari ini, misalnya, Redaksi menerima surat elektronik dari tim penyelenggara konferensi blockchain Token2049 dan AsiaCrypto. Mereka menegaskan membatalkan kedua acara tersebut akibat meluasnya dampak Virus Corona.

IKLAN

Sedianya acara kedua acara itu akan digelar pada medio Maret 2020 ini di Hong Kong. Tim penyelenggara menyebutkan tanggal dialihkan ke 7-8 Oktober 2020 dan 5-11 Oktober 2020. Padahal kedua acara bertaraf internasional yang didukung oleh Blockchainmedia.id itu, tergolong bergengsi dan setiap tahun digelar.

“Selama beberapa pekan terakhir, kami telah memantau secara cermat perkembangan wabah Virus Corona. Kendati pemerintah Hong Kong cukup baik mengendalikan situasi itu, tetapi ketidakpastian tetaplah ada. Untuk itu kami memutuskan untuk membatalkan acara Token2049 hingga 7-8 Oktober 2020 dan AsiaCrypto Week hingga 5-11 Oktober 2020,” jelas tim penyelenggara kepada BlockchainMedia.

Gelaran lain pun bernasib serupa, seperti perusahaan DeFiner yang membatalkan road show di 10 kota, seperti yang dilansir dari Bloomberg.

Redaksi juga menerima kabar serupa dari tim penyelenggara acara Money Asia 20/20. Mereka bilang, acara yang sedianya digelar di Singapura pada 24-26 Maret 2020 itu diundur ke 25–27 August 2020.

Tambang Bitcoin juga terdampak kendati masih kecil. Tambang Bitcoin milik BTC.com pekan lalu ditutup paksa oleh polisi setempat di Mongolia Dalam, Tiongkok. Polisi beralasan penutupan itu guna meredam penyebaran lebih luas Virus Corona, karena adanya kegiatan karyawan.

BERITA TERKAIT  Percepat Tokenisasi Aset, eToro Akuisisi Firmo

Di sektor bisnis berbeda misalnya, sejumlah pabrik tertentu di Tiongkok, kegiatan produksinya juga dihentikan. MicroBTC sebagai produsen peranti keras tambang Bitcoin juga menunda pengiriman produk mereka.

“Dampak wabah Virus Corona memang sangat terasa, tetapi itu adalah bagian dari situasi normal yang baru di masa mendatang,” kata Dave Balter, Kepala Peneliti di Flipside Crypto kepada Bloomberg.

Hingga malam ini, 10 Februari 2020, total kasus wabah itu mencapai 40.574 jiwa di seluruh dunia. Sekitar 40.196 kasus terjadi di Tiongkok, selebihnya terjadi 27 negara lain. Total kematian mencapai 910 jiwa dan pulih sekitar 3.578 jiwa. [Bloomberg/red]

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini