Sejumlah Tantangan yang Dihadapi Blockchain Publik

161

Preethi Kasireddy, CEO TruStory menguraikan sejumlah tantangan teknis yang dihadapi blockchain publik, sehingga teknologi itu tidak praktis untuk penggunaan massal saat ini.

IKLAN

Hambatan tersebut, di antaranya adalah skalabilitas terbatas, privasi terbatas, tidak adanya verifikasi kontrak formal, keterbatasan penyimpanan, ancaman komputer kuantum dan masalah lainnya.

Soal skalabilitas, blockchain hanya mampu memroses jumlah transaksi yang sangat terbatas. Waktu transaksi juga lamban, di mana waktu konfirmasi blok Bitcoin misalnua adalah 10 menit sedangkan Ethereum 14 detik. Kasireddy mengatakan harus ada mekanisme untuk membatasi jumlah simpul (node) yang memvalidasi setiap transaksi tanpa mengorbankan jaminan setiap transaksi valid dan asli.

Beberapa solusi skalabilitas blockchain adalah saluran pembayaran off-chain seperti Raiden Network dan Lightning Network, sharding, komputasi off-chain dan Directed Acrylic Graph.

Soal privasi, memang pengguna blockchain dapat menjaga identitasnya selama pseudonim tidak terkait dengan pengguna tersebut. Tetapi dengan perangkat tertentu, koneksi itu dapat terungkap sehingga identitas pengguna terbongkar. Sebab itu, mengunggah data bisnis penting kepada blockchain di mana peretas, pesaing atau pihak lain dapat melihat informasi tersebut sangat tidak menarik bagi perusahaan-perusahaan.

Solusi yang dapat dipakai adalah menggunakan alamat Elliptic Curve Diffie-Hellman-Merkle (ECDHM), mixer, kripto privasi seperti Monero, zero-knowledge proof, penyamaran kode, oracle serta Trusted Execution Environment.

Soal verifikasi formal, kontrak pintar tidak dapat diutak-atik, yang berarti pengguna tidak bisa mengubah atau meralatnya jika sudah dijalankan di jaringan Ethereum. Tetapi membuat kontrak pintar yang bebas galat (error) sangat susah, terlepas dari keahlian pengembang.

Berdasarkan hal tersebut, membangun solusi verifikasi formal bagi Ethereum sangat sulit, sebab verifikasi formal dalam matematika berarti bukti matematis telah diperiksa oleh komputer memakai landasan aksioma dalam matematika. Kasireddy menegaskan, belum banyak solusi bagi permasalahan ini dan dibutuhkan lebih banyak penelitian di bidang ini.

Soal penyimpanan, sebagian besar aplikasi yang dibangun di atas blockchain publik membutuhkan solusi penyimpanan. Tetapi penyimpanan data mengakibatkan biaya yang besar bagi jaringan desentralistik di mana setiap simpul menyimpan semakin banyak data sampai tak terhingga. Sebab itu, penyimpanan masih menjadi hambatan besar bagi aplikasi dunia nyata.

Solusinya adalah, alih-alih setiap simpul menyimpan semua data, ada serangkaian simpul yang berbagi atau mendistribusikan data di antara mereka. Contoh proyek yang menjalankan metode tersebut adalah Swarm, Storj, IPFS, Descent dan lain-lain.

Terakhir soal ancaman komputer kuantum, Kasireddy berpendapat, kenyataannya sebagian besar algoritma public key dapat dipecahkan oleh komputer kuantum yang cukup besar. Sangat penting bagi pengembang blockchain untuk merancang sifat-sifat blockchain yang tahan kuantum.

Saat ini, solusi kriptografi kuantum terpusat pada enam pendekatan berbeda: kriptografi berbasis lattice, kriptografi multivariasi, kriptografi berbasis hash, kriptografi berbasis kode, kriptografi supersingular elliptic curve isogeny dan sistem symmetric key quantum resistance.

Tentunya masih banyak permasalahan lain dan solusi lain bagi blockchain publik. Sebab itu, dibutuhkan lebih banyak periset dan pengembang untuk memajukan kekuatan teknologi blockchain. [medium.com/@preethikasireddy/ed]

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini