IKLAN

Dimaz Ankaa Wijaya
Peneliti pada Blockchain Research Joint Lab Universitas Monash, Australia


Dulu di sekolah dasar, saya diajarkan bahwa musyawarah mufakat adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Tak hanya berupa teori, praktik-praktik musyawarah di lingkungan masyarakat pun kental. Lihat saja bagaimana hampir di setiap rukun tetangga (RT) di penjuru Indonesia melaksanakan pertemuan bulanan untuk membahas topik-topik menyangkut lingkungan mereka, mulai dari yang sederhana sampai yang pelik.

Meskipun perangkat pimpinan RT tersedia, seluruh masukan dari anggota RT tentu akan didengarkan, dan jika cukup baik, maka akan menjadi kesepakatan bersama. Itulah contoh konsensus terdesentralisasi. Semua anggota memiliki peluang yang sama untuk mengemukakan pendapat, dan semua pendapat memiliki peluang yang sama untuk diambil sebagai keputusan.

Jika musyawarah tingkat RT dapat dilakukan dengan baik, biasanya tidak dengan tingkat yang lebih tinggi, seperti rukun wilayah (RW) yang beranggotakan hingga puluhan RT. Meskipun semua warga biasanya mendapatkan undangan rapat RW, saya yakin tidak semua akan datang. Jika pun datang, keputusan yang diambil dalam pertemuan tersebut biasanya akan dilakukan dalam kelompok yang terbatas. Mengapa? Karena jumlah peserta pertemuan berbanding lurus dengan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai mufakat. Demikian juga dengan ekosistem mata uang kripto.

Sejak tahun 2014, isu skalabilitas digulirkan. Berbagai “perubahan” dilakukan terhadap sistem Bitcoin, yang pada akhirnya membelah diri menjadi dua mata uang terpisah, Bitcoin dan Bitcoin Cash. Tidak hanya itu, problem skalabilitas juga memicu munculnya solusi-solusi lain yang mengklaim memiliki skalabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan Bitcoin yang hanya mampu melayani 7 transaksi per detik. Mayoritas proyek-proyek berskala tinggi akan membandingkan diri dengan jaringan Visa yang dianggap memiliki kapasitas terbesar di dunia, yakni 56 ribu transaksi perdetik pada waktu-waktu tersibuknya.

Proyek-proyek berkapasitas besar menonjolkan kemampuannya melayani ribuan, puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu transaksi perdetik, misalnya red belly blockchain yang dikembangkan peneliti dari Universitas Sydney. Namun tentu saja ada komponen penting yang harus mereka korbankan: desentralisasi.

Memang, Satoshi telah meramalkan bahwa di masa depan, sistem yang ia kembangkan akan dijalankan oleh server-server raksasa. Ternyata, ramalannya datang jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan sebelumnya, mengingat begitu besarnya dana penelitian yang telah ditanamkan untuk pengembangan teknologi blockchain, yang tidak hanya dilakukan oleh kalangan universitas saja tetapi juga institusi-institusi berorientasi profit.

Skalabilitas dalam sistem blockchain memerlukan konfirmasi mendekati instan untuk transaksi-transaksi baru yang terkirim ke dalam jaringan. Kecepatan yang begitu tinggi ini hanya dapat dilayani oleh server-server yang memiliki jaringan berkapasitas tinggi dengan konfigurasi CPU, RAM, dan media penyimpanan yang jauh di atas komputer rumahan.

Tron (TRX) misalnya. Sistem kloningan Ethereum ini menuntut spesifikasi 64 core CPU, 64 GB RAM, 20 TB solid state disk (SSD), serta bandwidth hingg 500 MBps untuk menjalankan fullnode. Saya sudah mencoba untuk menjalankan fullnode Tron dalam sebuah virtual machine dengan 2 core CPU dan 8 GB RAM dan 1 TB rotating disk. Hasilnya? Fullnode Tron saya tidak pernah berhasil tersinkronisasi dengan jaringan, bahkan ketinggalan hingga 100 ribu blok! Luar biasa!

Desentralisasi dalam industrialisasi dan globalisasi barangkali sudah tidak lagi relevan. Seperti halnya dewan perwakilan rakyat yang idenya diadopsi dari para pemikir-pemikir era lampau untuk meningkatkan efisiensi musyawarah dan dalam waktu yang sama mencapai skalabilitas yang diinginkan. Di masa depan, produk-produk mata uang kripto berkecepatan tinggi akan menggantikan produk-produk lama yang lambat dan inefisien, di mana tidak semua orang dapat berpartisipasi di dalam sistem, kecuali menjadi pengguna. Sementara pemilik rente (baik lama maupun baru) akan menjadi penguasanya.

Wahai, Satoshi benarkah ini sistem yang engkau idam-idamkan? []

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini