Lima Perusahaan Blockchain Keren Versi Forbes

616

Seiring terpuruknya harga Bitcoin yang longsor dari US$19 ribu hingga menjadi US$4 ribu, banyak pihak merasa skeptis terhadap penerapan blockchain, yaitu teknologi yang mentenagai kripto dengan cara merekam transaksi tanpa ada otoritas terpusat. Janji-janji fantastis menjadi isapan jempol belaka ketika berhadapan dengan realita dan regulasi.

Kendati demikian, kondisi tersebut menyisakan perusahaan-perusahaan blockchain dengan tim yang hebat dan penghasilan yang nyata serta pendanaan yang kuat dari investor besar. Forbes memperkirakan, perusahaan-perusahaan tersebut akan mulai bekerjasama untuk berkompetisi dengan pemain industri keuangan tradisional. Berikut adalah beberapa perusahaan blockchain keren berdasarkan laporan Forbes dalam The Most Innovative Fintech Companies In 2019.

Axoni (US$59 juta), yang berbasis di New York, menggunakan kontrak pintar (smart contract) untuk mengefisienkan operasional pasar keuangan derivatif. Teknologi distributed ledger Axoni memungkinkan pemangku kepentingan melihat pembayaran, perhitungan dan informasi penting lainnya secara real time, sehingga menaikkan efisiensi dan menurunkan resiko. Perusahaan yang menerima pendanaan dari Goldman Sachs ini, sudah mulai menyelesaikan transaksi valas (valuta asing) menggunakan blockchain.

Bitfury (US$150 juta), yang berbasis di Amsterdam, merupakan perusahaan layanan blockchain yang awalnya membuat perangkat penambangan Bitcoin. Dengan CEO Valery Vavilov, seorang ilmuwan komputer, Bitfury meluncurkan blockchain-nya sendiri dan peranti lunak untuk membantu penegak hukum melacak kegiatan ilegal menggunakan Bitcoin.

Circle (US246 juta), yang berbasis di Boston, masuk ke bisnis bursa kripto tahun lalu ketika membeli Poloniex. Kini, perusahaan ini menawarkan layanan perdagangan, investasi dan pembayaran kripto. Bersama Coinbase, Circle meluncurkan stablecoin bernama USDC yang menggunakan blockchain Ethereum dan dipatok terhadap dolar AS. Circle memiliki 8 juta pelanggan di 100 negara, dan USDC menjadi salah satu kripto terbesar dengan kapitalisasi pasar mencapai US$335 juta.

Coinbase (US$525 juta), yang berbasis di San Fransisco, tumbuh dari perusahaan penyedia dompet Bitcoin dan bursa ritel, menjadi kustodian kripto dan platform perdagangan institusi yang profesional. Coinbase menerima pendanaan dari Andreesen Horowitz, modal ventura yang didirikan co-founder Netscape. Di bawah pimpinan Brian Armstrong sebagai CEO, Coinbase membeli Earn.com, sebuah layanan di mana penggunanya membayar Bitcoin untuk berkonsultasi dengan pakar.

Gemini (-), yang berbasis di New York, didirikan oleh saudara kembar Winklevoss yang sudah banyak malang melintang di dunia startup. Gemini adalah bursa kripto yang berlisensi sebagai kustodian kripto di kota New York. Kini Gemini memiliki lisensi untuk beroperasi di 49 negara bagian Amerika Serikat, dan mempekerjakan 200 pegawai. Winklevoss bersaudara termasuk salah satu kelompok yang berjuang untuk mendapatkan persetujuan Bitcoin ETF dari Otoritas Jasa Keuangan AS.

Ripple (US$94 juta), yang berbasis di San Fransisco, memiliki token XRP yang menduduki tiga kripto terbesar menurut kapitalisasi pasar. Jaringan pembayaran global Ripple bercita-cita mengalahkan SWIFT, platform komunikasi antarbank yang saat ini menghubungkan hampir semua bank besar di dunia. Ripple juga meluncurkan layanan yang membantu bisnis-bisnis melakukan pembayaran antar negara menggunakan XRP. Perusahaan ini memiliki Jed McCaleb sebagai salah satu pendirinya, dan dipimpin oleh Brad Garlinghouse. [forbes.com/ed]

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini