Skandal Rp54 Triliun OneCoin Segera Difilmkan oleh New Regency Television

1700
Ruja Ignatova Pendiri dan CEO Onecoin masih buron.

Tak lama lagi dunia akan menikmati film drama televisi tentang skandal Rp54 Triliun OneCoin. Rumah produksi New Regency Television asal Inggris memenangkan hak tayangnya, setelah bersaing dengan 20th Century TV dan A24.

IKLAN

Skandal Skema Ponzi Rp54 Triliun OneCoin pimpinan Ruja Ignatova rupanya menarik perhatian sejumlah rumah produksi kelas dunia.

Rumah produksi New Regency Television asal Inggris baru-baru ini mengumumkan kemenangannya mendapatkan hak tayangnya dari Lembaga Penyiaran Publik Inggris, BBC (British Broadcasting).

Materi film itu didasarkan dari program podcast “The Missing Cryptoqueen” yang ditayangkan di website BBC sepanjang September-November 2019.

Podcast, karya Jamie Bartlett dan Georgia Catt itu telah diunduh lebih dari 3,5 juta kali dalam 4 bulan.

Pihak New Regency Television saat ini sedang mencari penulis dan sutradara yang tepat untuk produksi film itu. Direncanakan film drama itu akan ditayangkan dalam sejumlah episode.

Rubin dari New Regency Television mengatakan, serial The Missing Cryptoqueen akan dibuat dengan sangat menarik. Setiap episode, yang ditayangkan setiap minggu, akan menghadirkan detail-detail yang luar biasa, laksana drama yang mencekam.

“Saya harus akui Jamie dan Georgia sangat cerdas menangkap cerita tentang sisi gelap dari perubahan teknologi yang cepat, dan bagaimana banyak orang bisa ditipu. Ini adalah kisah yang sangat penting agar publik tersadarkan. Kami sangat bersemangat menghidupkannya di layar televisi,” katanya.

BERITA TERKAIT  Apakah Penambangan Bitcoin Semakin Sentralistik daripada Sebelumnya?

Ratu Kripto Sedunia
Julukan “Cryptoqueen” itu ditujukan pada Dr. Ruja Ignatova, pimpinan proyek kripto OneCoin yang didirikannya pada tahun 2014 silam. Kala itu Ignatova ingin Onecoin ingin menyaingi kedigdayaan Bitcoin sebagai Raja Aset Kripto sedunia.

Ratusan investor dari 175 negara pun dia ajak bergabung di Onecoin. Belakangan diketahui model pemasarannya ternyata menggunakan skema Ponzi. Dan tak ada sama sekali menggunakan teknologi blockchain seperti yang dijanjikannya.

Korban-korban pun angkat suara dan melaporkan kasus itu. Lantas, perempuan berparas ayu lulusan Oxford itu pun menghilang sejak Oktober 2017 dan kini jadi buruan FBI.

Menjelang akhir tahun lalu, para petinggi Onecoin diciduk satu per satu dan situs-situs terkait Onecoin disita. Sejumlah situs sempat masih bisa diakses, tetapi sebagian besar sudah diblokir.

BERITA TERKAIT  20 Persen Generasi Milenial Kaya Inggris Berinvestasi di Aset Kripto, Di Antaranya Bitcoin

Gereja Diduga Terlibat
Selain Cairns di Australia, skema Ponzi Onecoin juga menyebar di kota Auckland, New Zealand, terutama di Gereja Samoan. Pihak berwenang saat ini sedang menyelidiki Samoa Worship Centre terkait hubungannya dengan Onecoin. Dikabarkan, petinggi Onecoin menjual produk Onecoin senilai puluhan ribu dolar kepada anggota gereja tersebut.

Sejumlah laporan mengungkap Gereja Samoan Independent Seventh Day Adventist (SISDAC) dan pusat ibadah terkait digunakan untuk menjual paket Onecoin. Menurut pastor Avele Tanielu, gereja dan organisasinya tidak ada hubungan apa-apa dengan operasi Onecoin. SISDAC sedang membantu pihak berwenang, dan menyatakan gereja mereka tidak melanggar hukum pencucian uang apapun.

Seorang mantan pengacara AS, Mark Scott, diduga juga terlibat di Onecoin. Saat ini ia sedang mempersiapkan pembelaan menghadapi dugaan pencucian uang hasil Onecoin senilai US$400 juta.

Saudara kandung Ignatova, Konstantin Ignatov mengaku bersalah atas penipuan dan pencucian uang sehubungan dengan skema OneCoin. Konstantin ditangkap di Bandara Internasional Los Angeles pada Maret 2019 lalu. [Deadline/Red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO