TikTok Dibatasi? Teknologi Blockchain dan IPFS Bisa Atasi

TikTok dihentikan penggunaannya di Hong Kong pada Jumat lalu. Sedangkan di Amerika Serikat diperdebatkan apakah akan memberlakukan hal serupa. Ketika itu terjadi, teknologi bisa jadi alat untuk mengatasi.

Aplikasi media sosial TikTok menghentikan layanannya di Hong Kong, setelah Pemerintah Tiongkok membuat hukum baru yang membatasi informasi. Tetapi, teknologi blockchain plus IPFS (Interplanetary File System) dianggap mampu “mengakali” pembatasan itu.

TikTok yang memiliki 800 juta pengguna di seluruh dunia ditarik dari App Store dan Google Play Store, sehingga tak dapat diakses di Hong Kong, demi menghindari hukum Tiongkok yang bisa memberi sanksi kepada siapapun yang mengunggah konten anti-Tiongkok.

Langkah tersebut diambil, sebab pihak berwenang kini berhak meminta data pengguna dari platform seperti TikTok, dan memenjarakan pegawai jika tidak bekerjasama dengan aparat. Perusahaan teknologi lain seperti Google, Facebook dan Twitter, yang semuanya beroperasi di Hong Kong, sedang mengkaji hukum baru itu.

Demi mengakali hukum ketat tersebut, platform media sosial bisa menggunakan IPFS. IPFS adalah protokol peer-to-peer untuk berbagi berkas dan penyimpanan situs yang berjalan di atas jaringan ribuan komputer.

Data situs berbasis IPFS disimpan oleh pengguna lain, sehingga tidak bisa dipadam oleh satu pihak, seperti pemerintah suatu negara. IPFS menggunakan arsitektur terdistribusi yang mirip blockchain, tetapi merupakan teknologi berbeda. Aplikasi blockchain bisa memanfaatkan IPFS agar semakin tahan terhadap sensor.

Pendiri Everipedia, Sam Kazemian, mengatakan teknologi IPFS bisa berguna bagi platform media sosial dan pencipta konten. Everipedia sendiri menyimpan semua artikel di IPFS, yang berarti situs itu relatif sulit dipadamkan dibanding dengan situs biasa yang sentralistik.

Semua hash artikel disimpan dalam blockchain, sehingga jika situs itu padam, pengguna lain masih bisa mengakses informasi untuk membangun ulang data situs tersebut.

Kazeman menjelaskan IPFS adalah salah satu teknologi terbaik untuk mencegah keberpihakan perusahaan atau pemerintah, sebab informasi dan layanan pada protokol tersebut tersedia bagi semua orang.

“Jika konten TikTok ada di IPFS, hukum pembatasan informasi Hong Kong tidak akan efektif,” tambah Kazemian.

Selama datanya disimpan di berbagai simpul IPFS, orang akan memiliki informasi yang dibutuhkan untuk membangun ulang TikTok jika situsnya dipadamkan.

Jika TikTok goyah dan menyerahkan data pengguna kepada pemerintah Tiongkok, maka metadata dalam blockchain bisa digunakan pengembang lain untuk membuat versi baru platform tersebut.

Willian LeGate, CEO Prediqt, anak perusahaan Everipedia yang berfungsi sebagai platform menegaskan IPFS bisa membantu.

IPFS dan teknologi blockchain bisa menghadirkan era baru ketahanan sensor, memberikan kekuatan kepada rakyat kecil, jelasnya.

Namun, William tak menampik, bahwa IPFS saat ini terkesan terlalu futuristik. Tetapi, di saat pemerintah AS pun mempertimbangkan memadamkan TikTok, teknologi ini bisa terdorong untuk semakin digunakan.

“Saya yakin semua hukum dan polarisasi dalam masyarakat sekarang adalah katalis bagus bagi adopsi IPFS dan teknologi blockchain lain,” pungkas Kazemian. [decrypt.co/ed]

Terkini

Warta Korporat

Terkait