‘Tutorial’ Membangkrutkan Perusahaan Ala Sam Bankman-Fried

Lebih dari sepekan pasca keruntuhan kerajaan bisnis kripto Sam Bankman-Fried nan dramatis, sejumlah pertanyaan masih berkelindan di benak banyak orang. Terutama yang paling menggelitik: bagaimana SBF membangkrutkan perusahaan miliknya sendiri?

Ada yang coba membandingkannya dengan epos kejatuhan manusia ke dalam dosa, yakni merujuk SBF sebagai Adam dan Caroline Ellison sebagai Hawa. Terlepas kecocokan ironi itu, investigasi Forbes menelusuri—laiknya tutorial, bagi yang ingin mencobanya—dan menemukan lima kecerobohan SBF hingga meruntuhkan jaringan kusut perusahan crypto miliknya.

Banting Setir dari Arbitrase ke Taruhan Berisiko Tinggi

Bankman-Fried dianggap sebagai ‘saudagar’ yang sangat baik ketika dia memulai Alameda pada tahun 2018, dan dia berfokus pada perbedaan harga dalam mata uang kripto di pasar yang berbeda, alias aribitrase. 

Namun tahun berikutnya, dia mengalihkan fokus utamanya untuk meluncurkan platform perdagangan kripto FTX. Dia membawa bersamanya ke FTX rekan-rekannya di Alameda, Gary Wang dan Nishad Singh, yang merupakan beberapa orang paling berbakat di perusahaan perdagangan.

IKLAN

Setelah harga Bitcoin mulai meningkat tajam pada musim gugur tahun 2020, Alameda beralih dari fokus awalnya untuk membuat taruhan netral pasar berkecepatan tinggi yang tidak bergantung pada prediksi apakah cryptocurrency akan naik atau turun. 

Sejumlah trader percaya Alameda mengubah strateginya karena kehilangan daya saing, karena perusahaan yang lebih berpengalaman seperti Jump menggenjot bisnis perdagangan crypto.

Dua petinggi Alameda saat itu, Caroline Ellison dan Sam Trabucco mengamini perubahan tersebut. Sebagaimana lazimnya, melakukan long berarti bertaruh bahwa harga akan naik.

Namun, baik Ellison dan Trabucco hanya memiliki pengalaman perdagangan beberapa tahun di pasar konvensional sebelum bergabung dengan Bankman-Fried untuk berurusan dengan crypto. Dalam pengamatan para investor, semua itu hanya pengetahuan dan pengalaman yang dangkal untuk digunakan.

Dan itu terbukti ketika banyak pertaruhan long Alameda mungkin mengalami kerugian besar mulai Mei 2022, setelah keruntuhan dramatis stablecoin TerraUSD dan saudaranya cryptocurrency LUNA mempertajam penurunan di pasar crypto.

“Apa yang membuat Anda menjadi pahlawan di pasar bullish membunuh Anda di pasar bearish,” kata Marina Gurevich, Chief Operating Officer Wintermute yang berbasis di London, salah satu perusahaan crypto trading paling aktif di dunia. 

Bankman-Fried sendiri mengakui dalam percakapan Twitter dengan reporter Vox bahwa sekitar waktu kehancuran LUNA, banyak pengaruh berisiko menumpuk dalam bisnisnya.

Mengambil Terlalu Banyak Leverage

Selain mengambil pertaruhan berisiko besar, Alameda kemungkinan besar mengambil terlalu banyak Leverage, utang yang dapat memperbesar kemenangan dan kekalahan. 

Petinggi Alameda sendiri menggunakan sebagian besar mata uang kripto yang tidak likuid—termasuk token FTX sendiri, FTT, dan yang terkait, Serum—sebagai jaminan untuk mengambil pinjaman.

Misalnya, Bankman-Fried membantu menginkubasi pembuatan Serum, yang dirilis pada tahun 2020. Serum memiliki suplai koin yang rendah, awalnya hanya 10 persen yang dapat diperdagangkan secara bebas, sementara 90 persen lainnya ‘dikurung’ selama bertahun-tahun.

FTX Punya SERUM Crypto US$2,2 Milyar, Begini Nasibnya Sekarang

Namun secara teknis, SBF berasumsi bahwa, jika suplai serum yang beredar bernilai US$1 miliar, maka nilai pasar dari semua kripto itu adalah US$10 miliar. Dia memperkirakan bisa mendapatkan pinjaman berdasarkan penilaian yang lebih tinggi dari itu. 

Bankman-Fried menjalankan buku pedoman ini dengan aset digital lainnya juga, yang kemudian dikenal sebagai “koin Sam” bagi orang dalam industri, tulis investor crypto Jason Choi.

Choi menyimpulkan baru-baru ini dalam sebuah cuitan: “Ini kemungkinan bagaimana Alameda/FTX membuat lubang multi-miliar dolar, yakni Alameda menjanjikan jaminan tidak likuid untuk meminjam uang untuk membiayai taruhan, yang disebut margin, karena pasar turun tahun ini.”

Menginvestasikan Uang Pinjaman di Pemain Kripto Lain

Dalam jajak wawancara dan investigasi Forbes, mendapati bahwa Alameda mengambil pinjaman untuk mendanai taruhan investasi ventura. 

Menurut firma PitchBook, Alameda melakukan lebih dari 150 investasi di seluruh industri crypto, termasuk penambang Bitcoin Genesis Digital Mining dan sekarang crypto broker yang sudah bangkrut, Voyager Digital. 

Nahasnya, ketika pasar crypto jatuh, pemberi pinjaman dilaporkan berusaha menarik kembali dana yang diikat dalam investasi tidak likuid ini. 

Eksekutif FTX dan Alameda kemudian mengambil langkah yang patut dipertanyakan untuk mencoba membayar kembali sebagian dari pinjaman Alameda tersebut menggunakan dana pelanggan FTX, Wall Street Journal melaporkan.

Meminjam untuk Pengeluaran Besar Lainnya

Keuangan klaster perusahaan Bankman-Fried begitu kompleks dan terjerat sehingga sebagian besar tetap menjadi misteri—bahkan bagi para pengacara, penyelidik keuangan, dan veteran kebangkrutan yang telah mengambil alih, yakni John J. Ray III. 

Tetapi menurut pengajuan pengadilan kebangkrutan, eksekutif FTX juga mengambil pinjaman miliaran dolar dari Alameda untuk mendanai segala sesuatu mulai dari kontribusi politik hingga pembelian oelh Bankman-Fried sebesar US$650 juta dari 7,6 persen saham Robinhood. 

Tidak jelas bagaimana pinjaman ini juga menambah kerugian Alameda di atas segalanya. Alameda sendiri memiliki kewajiban luar biasa sebesar US$5,1 miliar menurut pengajuan kebangkrutan Bab 11 di Pengadilan Delaware.

Kontrol dan Laporan Keuangan Abal-abal

Kontributor terakhir—dan mungkin substansial—untuk kerugian Alameda: Perusahaan Bankman—Fried memiliki sistem pencatatan dan akuntansi yang buruk. 

Setoran pelanggan FTX tidak dilacak, menurut pengajuan kebangkrutan, sehingga tidak jelas dalam proses kebangkrutan apa yang terhutang kepada pelanggan. 

Contoh dari kebingungan ini: neraca FTX yang bocor menunjukkan kewajiban sebesar US$8,8 miliar, sedangkan pengajuan kasus kebangkrutan Delaware pada hari Kamis hanya menunjukkan US$6,4 miliar. 

Tidak jelas apa yang menyebabkan perbedaan tersebut, tetapi terlepas dari itu, jumlahnya masih terus berubah. 

Setelah ditunjuk sebagai likuidator FTX, John J Ray III mendapati borok penyebab runtuhnya bursa kripto yang pernah jadi terbesar di dunia itu. Dalam temuannya, laporan keuangan yang ngawur termasuk penyebab FTX pantas bangkrut.

John Ray, yang pernah menangani hal serupa dalam skandal Enron, mengatakan skandal yang terjadi di dalam FTX bahkan lebih parah daripada Enron. Demikian dikutip The Telegraph.

“Tidak pernah dalam karir saya, saya melihat kegagalan total kontrol perusahaan dan tidak adanya informasi keuangan yang dapat dipercaya di FTX,” demikian tercantum dalam laporan Ray ke pengadilan di AS.

Ray mengatakan, perusahaan FTX dijalankan oleh secuil individu yang tidak berpengalaman.

“Grup FTX tidak menyimpan pembukuan dan catatan yang sesuai, atau kontrol keamanan, sehubungan dengan aset digitalnya,” lanjut Ray dalam laporannya.

Selain itu, Grup FTX diduga menggunakan dana perusahaan untuk membeli rumah, barang pribadi, dan aset lainnya untuk pemilik dan sejumah penasihatnya. Informasi keuangan rahasia, termasuk private key dompet kripto yang melindungi dana pengguna, dibagikan melalui di medium komunikasi yang tidak aman, seperti lewat akun e-mail pribadi.

Atas dasar temuan ini, Ray mendesak pengadilan untuk tidak bergantung pada laporan keuangan yang dibuat oleh mantan CEO Sam Bankman-Fried.

Seperti diberitakan sebelumnya, FTX, yang berbasis di penthouse mewah Bahama, mengajukan perlindungan kebangkrutan di AS. FTX diduga menyelewengkan dana pengguna FTX. 

Sumber Bloomberg menyebutkan, para petinggi Alameda mengetahui bahwa dana kiriman dari FTX merupakan dana milik pengguna crypto exchange itu.

Padahal Sam Bankman-Fried pada tahun lalu menyatakan, pengelolaan dana antara kedua perusahaan itu terpisah. [ab]

spot_img
spot_img

Terkini

Warta Korporat

Terkait