Warga Inggris Memilih Berjudi dan Investasi Kripto di Tengah Inflasi yang Memburuk

Di tengah inflasi yang melanda, warga Inggris memilih untuk berjudi dan investasi kripto guna memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Inflasi yang melanda negeri Ratu Elizabeth tersebut membuat biaya hidup di sana memburuk, yang memicu langkah para penduduk untuk menyelami pasar kripto.

Memang, pasar kripto yang memiliki volatilitas tinggi telah memberikan ruang untuk mencari keuntungan dalam waktu yang singkat.

Terlebih, beberapa bursa kripto menyediakan layanan penggunaan leverage dalam perdagangan margin, yang memungkinkan orang-orang bermodal minim untuk meraih keuntungan yang besar.

Tentu saja, risiko yang membayangi akan semakin besar. Namun, tetap ada banyak sekali orang yang belum dapat memahami dan menyadarinya. Aset kripto belum diperlakukan layaknya aset investasi.

Berjudi dan Investasi Kripto Karena Inflasi

Berdasarkan laporan badan amal terkait perjudian di Inggris, GamCare, yang diterima oleh Reuters, ada banyak keluhan kekalahan dalam perjudian kripto yang diterima.

Badan amal tersebut pun melaporkan bahwa, ada lebih banyak orang yang kembali berjudi di kripto setelah menerima bantuan dari mereka. Itu karena tuntutan biaya hidup yang melonjak.

Sekadar informasi, tingkat inflasi di Inggris termasuk tujuh terbesar, di 9,1 persen pada bulan Mei. Bahkan, bank sentral Inggris pun telah memperingatkan inflasi akan melebihi 11 persen pada bulan Oktober.

Ini memberi pukulan kuat pada banyak warga Inggris, yang harus lebih ekstra keras dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Berdasarkan survei dari YouGov, bersama dengan GamCare, ada lebih dari 4.000 orang yang telah disurvei. Dan diketahui, 46 persen di antaranya merasa khawatir mengenai situasi keuangan mereka.

Selain itu, lebih dari setengah responden mengatakan bahwa mereka telah investasi dan berjudi di kripto selama 12 bulan terakhir. Nahasnya, sebagian dari mereka justru berakhir dengan kehilangan uang.

“Penasihat saluran bantuan kami mendengar bahwa biaya hidup memengaruhi perilaku perjudian orang, terutama para penjudi yang telah pulih,” kata Anna Hemmings, Kepala Eksekutif di GamCare.

Selain itu, tim GamCare juga telah mendengar lebih banyak orang yang mencari bantuan terkait perdagangan aset digital.

Menariknya, badan amal tersebut mengungkapkan ada 43 persen penjudi yang bermasalah di kripto, namun sebagian besarnya masih ingin kembali menaruh uang untuk mengejar kerugian.

Tentu saja, melibatkan emosi di setiap investasi, termasuk di aset kripto, tidak akan berakhir baik. Semua butuh perencanaan yang matang, termasuk dalam urusan manajemen risiko. [st]

spot_img

Terkini

Terkait