Harga Bitcoin US$40 Ribu, Cetak Rekor Baru Lagi, Pengkritik: Sangat Tak Normal

Tepat pukul 01:09 WIB, Jumat (8/1/2021), Bitcoin mencetak rekor baru lagi, yakni US$40.000 per BTC atau setara dengan Rp560 juta! Namun, para pengkritik bilang, ini sangat tak normal!

Ketika berita ini ditulis pada dini hari tadi, terpantau di Tradingview, harga memuncak di US$40.349,64, lalu sempat terkoreksi ke US$36.386,18, kemudian rebound cepat ke US$38.784,31.

Kenaikan hingga US$40 ribu itu memastikan kapitalisasi pasar aset kripto secara keseluruhan mencapai lebih dari US$1 triliun. Dan ini terjadi untuk kali pertama sepanjang sejarah.

Dengan kenaikan baru itu pula, maka sejak awal tahun 2021 ini saja Bitcoin sudah melejit lebih dari 40 persen. Sedangkan selama setahun terakhir naik sekitar 400 persen.

Beberapa jam sebelum kenaikan besar itu, Chamath Palihapitiya dari Social Capital meramalkan harga Bitcoin akan terus menguat, bahkan setelah reli besar-besaran ini.

“Mungkin akan menjadi US$100 ribu, lalu US$150 ribu, lalu US$200.000. Kapankah itu, saya tidak tahu. Mungkin seja 5-10 tahun lagi. Tapi yang pasti akan menuju ke sana,” kata Palihapitiya kepada CNBC.

Palihapitiya beralasan, bahwa penguatan harga Bitcoin dilatarbelakangi oleh ketidakpercayaan rakyat kepada pemimpin pemerintahan.

Nouriel Roubini: Bitcoin Tak Punya Nilai Fundamental

“Mereka tak bisa diandalkan seperti sebelumnya. Jadi, untuk berjaga-jaga, kami benar-benar perlu memiliki jaminan bahwa uang kami bisa diakses secara langsung sekaligus nilainya terjaga,” katanya, mengacu pada Bitcoin sebagai bentuk uang yang tidak dikendalikan langsung oleh pemerintah dan mampu terjaga dari gempuran pelemahan nilai mata uang fiat.

Kapitalisasi pasar total aset kripto menjulang menjadi US$1 triliun untuk kali pertama sepanjang sejarah. Sumber: Coinmarketcap.com.

Era kebangkitan Bitcoin yang sangat masif ini, sangat terkait erat dengan pandangan positif oleh sejumlah investor besar. Paul Tudor Jones misalnya jauh sebelum Halving ke-3, Mei 2020 sudah membeli Bitcoin.

Tokoh lain misalnya, Michael Saylor CEO MicroStrategy yang memutuskan membeli Bitcoin dalam jumlah besar hingga bernilai triliunan rupiah dengan kurs saat ini.

Nama besar lainnya, PayPal dan Fidelity Investment, yang notabene lahir dari rahim keuangan tradisional, juga ikut merangsek masuk ke Bitcoin.

Ramalan terbaru dari JPMorgan mencoba meyakinkan publik, bahwa harga Bitcoin bisa mencapai US$146 ribu per BTC (Rp2 milyar). Hal itu bisa dicapai dalam jangka panjang, bersaing dengan emas.

JPMorgan: Harga Bitcoin Bisa Rp2 Milyar per BTC

Sangat Tak Normal
Tapi, tentu saja tak semua setuju dengan narasi penguatan Bitcoin versus inflasi. Ekonom dari Rosenberg Research misalnya menyebut Bitcoin sebagai bubble.

“Pergerakan parabolik Bitcoin dalam periode waktu yang sangat singkat, menurut saya untuk alasan apapun, sangat tidak normal,” kata Rosenberg kepada CNBC awal bulan ini.

Lalu, seorang “tokoh oposisi” lainnya adalah Profesor Nouriel Roubini dari NYU Stern School of Business. Ia berkali-kali mengatakan, bahwa Bitcoin tidak memiliki nilai fundamental dan harganya dimanipulasi. Terakhir, pernyataan senada ia sampaikan pada 5 Desember 2020 lalu. [red]

Terkini

Warta Korporat

Terkait