CEO Triv: Karena Derivative Market, Jumlah Unit Bitcoin Kini “Tak Terbatas”

CEO bursa kripto Triv Pro, Gabriel Rey menyebutkan, bahwa jumlah unit Bitcoin kini menjadi “tak terbatas” sebagai akibat dari semakin maraknya pasar turunan (derivative market), seperti produk kontrak berjangka (futures contract) dan options yang bernilai Bitcoin.

Pasokan beredar (circulating supply) Bitcoin saat ini adalah 18.055.337 BTC dari pasokan total (total supply) Bitcoin yang kelak hanya 21 juta unit. Bitcoin dirancang agar jumlahnya selalu langka. Itulah sebabnya setiap 210.000 block (setara periode 4 tahun) pasokannya dipangkas hingga 50 persen.

Jikalau saat ini per 10 menit tercipta 12,5 BTC yang baru, maka pada Mei/Juni, hanya 6,25 per 10 menit dan seterusnya seperti itu. Inilah yang disebut sebagai Bitcoin Reward Halving (pengurangan jumlah imbalan Bitcoin kepada para penambang, sekaligus menambah pasokan Bitcoin ke dalam pasar).

Dengan circulating supply Bitcoin saat ini adalah 18.055.337 BTC, maka Bitcoin yang belum ditambang adalah 2.944.663. Bitcoin Reward Halving sebelumnya (tahap kedua) jatuh pada 9 Juli 2016. Beberapa bukan kemudian, harga Bitcoin pun melambung hingga US$20.000 pada Desember 2017, sebagai puncak tertinggi sepanjang masa.

“Begitulah Bitcoin dirancang, agar semakin langka jumlahnya, yang secara matematis meniru kelangkaan emas. Dan ketika pembelian terhadapnya meningkat, maka harganya juga meningkat sebagai akibat dari value (nilai) yang dimilikinya dibandingkan dengan sistem uang fiat (dolar AS, rupiah dan lain-lain) atau jenis aset investasi lainnya. Nah, masalahnya kini semakin banyak bermunculan pasar turunan (derivative market) yang membuat pasokan total unit Bitcoin menjadi ‘tak terbatas’, sebab di pasar jenis itu, aset yang diperdagangkan bukanlah aset asli, hanya harga kontraknya. Ibarat Anda membeli sekilo apel dan punya struk pembayarannya. Nah, Anda bisa menjual dan membeli harga di struk itu saja dalam jangka waktu tertentu, bukan apel aslinya. Harga apel dan imbal hasilnya pun bisa melebihi perdagangan apel aslinya,” kata Rey.

Rey tak menampik, bahwa saat ini ruang lingkup derivative market Bitcoin memang masih kecil, seperti yang dilakukan oleh CME (Chicago Merchantile Exchanges). Tetapi, pengelola bursa kripto biasa, yang dulunya hanya menyediakan spot market (pasar dengan Bitcoin asli), kini malah ikut-ikutan menawarkan pasar turunan, seperti produk kontrak berjangka (futures contract) dan perpetual swap.

Derivative market memang bukanlah hal baru. Hadir sejak tahun 1970-an yang dipelopori oleh CME, emas dan minyak paling banyak diperdagangkan di pasar seperti ini, sehingga mampu menekan harga emas asli dalam periode cukup panjang, karena bukan emas aslinya diperdagangkan. Trader hanya berspekulasi terhadap harga kontraknya saja dan mendapatkan cuan darinya, bahkan bisa melebihi kalau jual-beli emas yang asli,” tegas Rey.

Rey mengkhawatirkan dampak pasar turunan itu terhadap pasar Bitcoin yang asli (spot market). Mengingat di pasar turunan tidak ada Bitcoin asli yang diperdagangkan, maka jumlah Bitcoin itu menjadi “tak terbatas”, dengan harga yang berbeda dan cuan yang berbeda pula.

“Saya sebenarnya was-was, karena ini bisa menekan harga Bitcoin secara global. Orang-orang akan lebih banyak berspekulasi, memperdagangkan Bitcoin di derivative market itu. Memang ada pasar kontrak berjangka dengan final settlement Bitcoin asli seperti ICE/Bakkt. Tetapi, saya memprakirakan, daya tarik Bitcoin akan lebih banyak pula di pasar kontrak berjangka yang tidak seperti Bakkt itu,” tambahnya. [vins]

Terkini

Warta Korporat

Terkait