61 persen dari 42 pakar dan pengamat kripto dalam satu jajak pendapat belum lama ini, memproyeksikan harga Bitcoin (BTC) pada akhir tahun 2021 bisa mencapai US$66.284 atau setara dengan Rp960 juta.

“Mayoritas panelis (61 persen) mengatakan Bitcoin saat ini ‘undervalued‘ dan rata-rata panelis memperkirakan Bitcoin akan berakhir pada 2021 dengan harga US$66.284 per BTC. Ini 28 persen lebih tinggi dari prediksi pada Desember 2020. Tetapi 30 persen lebih rendah pada April 2021,” sebut situs Finder yang menggelar jajak pendapat itu, Kamis (15/7/2021).

Untuk pertanyaan serupa, 24 persen menyatakan harga Bitcoin masuk kategori “overvalued” alias terlalu tinggi, sehingga perlu terkoreksi.

US$160.000 per BTC

CEO Morpher Martin Frohler, yang paling bullish di antara para responden, memberikan prediksi akhir tahun sebesar US$160.000 per BTC dan mengatakan peningkatan adopsi akan mendorong harga ke depan.

“Adopsi oleh perusahaan dan investor institusional yang dikaitkan dengan kebijakan moneter yang longgar dan inflasi fiat money yang tinggi akan mendorong Bitcoin ke angka US$60 ribuan sebelum akhir tahun ini,” jelas Frohler.

Imbuh Frohler lagi, berkat siklus Halving (tahun 2024) kita akan melihat peningkatan adopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah oleh negara-negara berkembang.

“Dan pada tahun 2030, saya memprakirakan Bitcoin akan menggantikan emas sebagai aset cadangan global,”tegasnya.

Faktor Halving juga disebutkan oleh CEO CoinSmart Justin Hartzman, yang memberikan prediksi harga akhir tahun 2021 sebesar US$60.000.

Bitcoin Ambruk, Emas Naik Daun

“Saya sepakat Halving berikutnya akan mendorong harga BTC dan adopsinya lebih besar,” kata Hartzman.

Sekadar informasi, Halving III dimulai sejak 12 Mei 2020 lalu, di mana BTC baru setiap 10 menit (rata-rata) adalah 6,25 BTC. Pada Halving IV (sekitar pertengahan 2024), pasokan akan berkurang separuh menjadi 3,125 BTC.

Halving akan mekanisme baku yang sudah diprogram oleh Satoshi Nakamoto di BitcoinCore sejak dia dirancang pada tahun 2008 dan meluncur resmi pada tahun 2009. Periodenya adalah setiap 210.000 block (setara 4 tahun).

Tak Semuanya Bersikap Bullish

Namun tidak semua orang bersikap bullish. Dosen senior Universitas Canberra John Hawkins, yang termasuk yang paling bearish dan memberikan prediksi akhir tahun sebesar US$20.000. Ini mengembalikan harga Bitcoin seperti Desember 2017 sebagai puncak pasca Halving II.

“Saya berasumsi El Salvador mengadopsinya sebagai alat pembayaran yang sah untuk sementara waktu. Tetapi setelah harganya turun banyak, mereka dapat menghapus status legal tender,” kata Hawkins.

Ia mengkhawatirkan undang-undang Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah di El Salvador bisa saja dihapus, karena harga Bitcoin terus tergerus.

Relatif Sideways

Harga Bitcoin memang sempat tergerus lebih dari 55 persen dari puncak tertingginya (13 April 2021) US$64.800 atau setara dengan Rp939 juta.

Kini berada di kisaran US$31 ribuan per BTC, kripto nomor wahid itu praktis bergerak sideways sejak pertengahan Mei 2021.

Pada time-frame mingguan, harga Bitcoin memang jelas-jelas terus tergerus. Faktor psikologis lainnya tentu aja akibat kebijakan Tiongkok yang menutup tambang Bitcoin di negeri itu.

Walaupun sebagian penambang hijrah ke luar negeri, untuk mencapai hash rate “yang normal”, perlu waktu lama.

Di waktu yang sama perubahan peta dominasi pertambangan, dipastikan tak dikuasai Tiongkok lagi.

Amerika Serikat melihat itu sebagai peluang besar mengambil posisi, sebagai pusat penambangan Bitcoin terbesar di dunia. [red]

Protected with blockchain timestamps

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO