Ulasan Khusus, Mencicipi Blockchain Vexanium

1765
Danny Baskara, CEO Vexanium.

Mencicipi blockchain Vexanium sebenarnya terkesan cukup istimewa. Bukan saja karena ia dibuat oleh anak bangsa, tetapi juga cermin keberanian mengeksekusi, tak sekadar bermain dengan ide dan konsep. Tapi, Vexanium kelak bisa jadi biasa-biasa saja, tanpa kemampuan pemasaran yang mumpuni.


OLEH: Vinsensius Sitepu
Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id

Mengikuti dan menulis seputar teknologi informasi sejak tahun 2000, saya percaya bahwa ide-ide oleh sejumlah perusahaan lebih miskin nilainya daripada tahapan mengeksekusi ide itu sendiri.

Jadi, daripada terlalu banyak ide dan “rencana-rencini terperinci”, eksekusi adalah segalanya. Sebab, informasi yang berlimpah di Internet, membuat orang lebih mudah membuat ide, termasuk teknologi blockchain yang luar biasa ini.

Tapi, tidak semua orang bisa mengeksekusi ide itu menjadi konkret dan dapat dicicipi, termasuk langkah “pemasaran” berskala luas guna menegaskan eksekusinya.

Persuaan saya dengan blockchain
Ketika pada tahun 2014 saya mengenal Bitcoin sebagai bentuk “mata uang baru”, praktis saya tak punya teman diskusi soal itu. Jujur saja, kala itu saya tak tahu apa itu blockchain, yang kelak dipahami sebagai teknologi yang luar biasa, bagian sangat mendasar pada Bitcoin.

Pun saya sempat curiga Bitcoin adalah bagian terpadu di Skema Ponzi MMM asal rusia yang terkenal itu, sebab tahun 2014 adalah awal MMM memberikan imbalan dalam bentuk Bitcoin, tak hanya rupiah.

Tapi, karena saya gemar mengikuti perkembangan teknologi informasi, Internet banyak membantu saya berkomunikasi dengan banyak orang yang berkecimpung soal Bitcoin.

Saya banyak belajar dari Oscar Darmawan (Pendiri Indodax, dulu Bitcoin Indonesia), Dimaz Ankaa Wijaya (Peneliti Blockchain di Monash University), Danny Baskara (Pendiri Vexanium, dulu masih menumpang di Blockchain Achain), Merlina Li (Pendiri Senarai), Danny Taniwan dan Christopher Tahir (Cryptowatch) dan banyak lagi.

Belakangan saya kenal banyak pegiat lainnya, sebut saja Teguh Harmanda (Tokocrypto), Gabriel Rey (Triv), ada juga Robby (Rekeningku.com).

Sebagai sebuah kesatuan, mereka adalah bagian dari ekosistem blockchain dan aset kripto Indonesia yang sedang tumbuh, dengan segala macam “dinamikanya”. Tanda petik ganda itu Anda pasti tahu apa maksudnya.

Peran Blockchain Vexanium
Dalam perjalanannya, bagi saya teknologi blockchain ibarat sebuah cangkul untuk berkebun. Akses untuk membuat “cangkul blockchain” kian terbuka lebar, hingga mendorong siapa saja untuk membuatnya, tak terkecuali Vexanium besutan Danny Baskara dan kawan-kawan.

BERITA TERKAIT  Teknologi Blockchain Akan Distandarisasi pada Tahun 2021

Pada tahun 2019, mereka memutuskan “meninggalkan” blockchain Achain, yang sejak 2018 mereka gunakan menerbitkan aset kripto VEX dan cukup popular di Indodax.

Saya ada seorang “saksi hidup” giat promosi awal Vexanium di Hong Kong kala itu. Memang tak istimewa, tapi menonjol, sebab hanya Danny dan kawan-kawan adalah orang Indonesia yang masuk ke ranah blockchain di ajang itu. Syukurlah white wine saya kurang memabukkan, hingga saya sempat menyalami Danny kala itu.

Ketika Vexanium memutuskan membuat blockchain sendiri, saya punya “kewajiban profesi” sebagai jurnalis untuk mengikuti perjalanannya. Sebab, sebuah perusahaan membuat blockchain sendiri adalah keputusan besar. Bukan hanya biayanya tidak murah, tetapi ada tantangan baru yang menghadang, yakni soal “pemasaran” agar penggunaannya kian masif.

Seperti yang singgung di atas, membuat satu sistem blockchain saat ini sangatlah mudah dan ke depan kian murah, mengingat kode sumbernya terbuka. Hanya saja kustomisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan akan berdampak pada biaya, karena Anda harus menggaji sejumlah programmer dan developer khusus.

Jadi, secara teknologi, blockchain hari ini lebih mirip dengan sistem operasi komputer “open source” Linux buatan Linus Torvalds yang terkenal itu. Anda bisa membuat sistem operasi apapun menggunakan “core” Linux, lalu membuat label “merek” terhadapnya. Saat ini “merek Linux” ada ribuan jumlahnya, tapi hanya selusin yang popular.

Memang saat ini sumber daya manusia untuk membuat blockchain yang berdaya guna masih terbilang langka, apalagi untuk urusan “smart contract“, satu fitur inti di dalamnya, misalnya untuk membuat aplikasi desentralistik (dApp).

Tapi, saya meramalkan sumber daya manusia khususnya programmer, developer, desainer grafis user interface (UI) dan user experience (UX) di sektor blockchain akan melimpah. Akan semakin mudah membuat sebuah dApp, karena template dan contohnya banyak tersedia.

BERITA TERKAIT  Wacana Blockchain antara Warner Music dan Bekraf

Pemasaran adalah Aspek Sentral
Ketika kita berada di situasi itu, maka ide-ide dan konsep tidaklah berguna, tanpa tahap eksekusi yang lebih bernilai. Di tahap eksekusi, ketika bisnis berjalan, tantangan berikutnya adalah pemasaran untuk mengajak orang sebanyak-banyaknya menggunakan blockchain yang sudah tersedia.

Maksud saya adalah, apa guna blockchain sebagai satu sistem peranti lunak yang berdaya guna akibat eksekusi itu, kalau tidak dibarengi promosi yang keren?

Jadi, ke depan yang dianggap bernilai bukanlah keberhasilan Anda membuat teknologi blockchain yang bagus, tetapi seberapa banyak orang yang menggunakannya.

Sebagai perbandingan saat ini, blockchain Ethereum, EOS dan Tron masih mendominasi untuk urusan dApp. Karena apa? Karena di balik Ethereum ada entitas yang mempromosikannya secara sistematis dan struktural, tidak hanya berjalan dan bawa lentera plus “brosur” seadanya.

Memang volume transaksi tertinggi penggunaan dApp di masih-masing blockchain itu adalah ketegori “permainan judi” dan “collectible items” yang unik. Tapi, ini mungkin berubah di masa depan.

Pola seperti itu, memang tak salah diadopsi, alih-alih ditiru oleh pengembang dApp yang mengggunakan blockchain Vexanium. Sebagai sebuah awal permulaan saya pikir tidak keliru. Sebut saja “testing the water” untuk menunjukkan “kami ada karena keunggulan Vexanium”.

dApp under Vexanium
Berdasarkan data dari Dapp.com, saat ini ada 9 dApp yang menggunakan blockchain Vexanium, yaitu VDice, NameBid, Trusti, Crazy Dog, Vexanium Avatar, Dograce, Fishwar Lite Game, VexToken Creator dan FlyDice. Sembilan dApp itu bisa Anda cicipi langsung.

Mencicipi itu semua dalam beberapa jam, saya menemui rasa “candu” khususnya ketika bermain balapan anjing ala Dograce. Saking candunya, aset kripto VEX saya habis kurang dari 30 menit.

Alur transaksi di blockchain Vexanium. Sumber: Vexanium.

Cara menggunakannya pun cukup mudah, saya memberi taruhan VEX ataupun token CDOG pada anjing yang saya andalkan. Kalau menang saya mendapatkan imbalan juga berupa kedua aset kripto itu.

BERITA TERKAIT  Harga Turun Jadi Momentum untuk Beli

Tentu jenis permainan ini biasa saja, kalau tanpa blockchain. Tak menggunakan blockchain, transaksi aset di permainan tak pernah transparan. Karena Anda tak bisa memastikan bahwa pihak lawan benar-benar mendapatkan aset kripto. Dalam konteks itu, alur aset kripto VEX dan token Dograce bisa Anda lihat langsung di blockchain explorer Vexanium.

Membayangkan Trusti
Namun bagi saya, Trusti lebih menonjol, karena lebih luas skala penggunaannya. Trusti fokus pada cara sertifikasi data digital. Anda cukup mengunggah file digital apapun di platform Trusti.

File itu disimpan di IPFS (Interplanetary File System), lalu hasil hash-nya direkam ke blockchain Vexanium. Hasil akhirnya, file itu bisa diverifikasi keabsahannya menggunakan aplikasi mobile.

Bayangkan file itu adalah file digital izajah perguruan tinggi. Alih-alih pihak universitas menyimpannya ke server biasa yang sentralistik, izajah disimpan di IPFS yang desentralistik. Jadi, lebih aman dan sumber dayanya bisa jalan terus, jikalau satu server padam.

Penerapan seperti ini sudah dibuat oleh Kementerian Pendidikan Malaysia yang menggunakan blockchain NEM sejak tahun lalu, termasuk oleh MIT di Amerika Serikat dengan blockchain berbeda.

Dan mengingat hakikat blockchain adalah permanent alias kekal, maka ijazah itu secara mendasar tak dapat dihapus, sehingga tingkat keakurasiannya lebih tinggi dan terpercaya.

Kami dua kali membahas Trusti di media ini di awal-awal pembuatannya, karya Damos Hanggara, anak Yogyakarta.

Bayangkan pula sistem Trusti kelak digunakan oleh notaris. Surat tanah yang berwujud kertas itu, setelah dipindai menjadi file gambar, bisa disimpan di Trusti dan kekal abadi selamanya dan bisa diakses kapan saja.

Pun kalau mau lebih canggih, semua isi surat tanah dibuat menggunakan “smart contract” lalu disimpan ke blockchain Vexanium.

Tak Terbatas
Jadi, ekspolorasi blockchain di masa depan akan majemuk, karena hakikat blockchain jelas tanpa batas. Selama Anda punya ide dan berani mengeksekusi, blockchain adalah jawabannya. Dari situlah tantangan berubah menjadi “rantangan” agar Anda bisa terus makan. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO