Catat! Senin, 30 November 2020, adalah hari yang amat bersejarah bagi Bitcoin, karena sukses menembus rekor tertinggi sepanjang masa, yakni US$19.862 (lebih dari Rp281 juta). Berikut kilas balik singkat Bitcoin, menempa sejumlah simpul waktu yang penting.

Pada 11 Desember 2017 silam, berdasarkan data dari Bitstamp via Tradingview, harga Bitcoin berada di US$19.670 per BTC. Itulah dianggap sebagai rekor harga tertinggi sepanjang masa dan Senin kemarin sudah dilampaui, walaupun di Coinmarketcap tercatat rekor tertinggi adalah lebih dari US$20.000, satu angka psikologis memberikan rasa percaya diri yang kuat.

Hore! Akhirnya Harga Bitcoin Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Setelah 11 Desember 2017, harga aset kripto nomor wahid sedunia itu ambrol besar ke US$3.122, tertekan hebat sebesar 84,12 persen dalam skala harian (daily), yang dicapai pada 15 Desember 2018. Hingga detik ini, itulah pula harga terendah Bitcoin sepanjang masa.

Kejatuhan maha epik itu langsung mengundang banyak pelaku ekonomi dan keuangan tradisional, di antaranya JP Morgan hingga Warren Buffett mencap Bitcoin sebagai aset tak berguna, disebut mirip investasi bubble ala Tulip Mania tahun 1636-1637 di Belanda.

Di saat yang sama para penghayat aset kripto, khususnya Bitcoin, terus menerus menangkal itu sebagai narasi yang keliru besar. Kalangan yang tak percaya Bitcoin dicap tidak memahami asas “kelas aset baru itu”.

Singkat cerita, dari US$3.122, Bitcoin justru meroket ke US$13.878 pada 26 Juni 2018. Pasar pun happy menolak lupa harga tertinggi sebelumnya.

Namun apes! Bitcoin malah ambruk lagi hingga US$3.835 pada 13 Maret 2020. Di hari itu, kurang dari 24 jam, Bitcoin hancur 50 persen, dari US$7.988.78 menjadi US$3.850.00. Di hari yang sama pula, ia malah langsung melenting menjadi US$5.967.

Lambat laun harga itu rupanya menjadi penopang kuat menuju 26 Juli 2020, ketika berhasil masuk ke tingkat psikologis, yakni US$10.000.

Seterusnya, di antara lonjakan harga yang cukup hebat, Bitcoin berlanjut melompat, percaya diri melewati semua harga psikologis. Bulan November 2020 adalah bulan di mana Bitcoin meroket sangat hebat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, dimulai dari US$13.760 per BTC pada awal bulan.

Pada November 2020 pula tercipta peristiwa apik, yakni harga emas malah melempem 22 persen sejak awal tahun, termasuk dolar AS yang merana minus 4 persen. Sedangkan Bitcoin melenggang ke atas, memberikan cuan lebih dari 100 persen!

Narasi, Skenario dan Konsensus
Sejak Maret 2020 itulah, ibarat di panggung musik, “irama orkes” mulai dimainkan bahwa Bitcoin adalah penyelamat ambruknya ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Pembela Bitcoin tampaknya mendapatkan lahan sangat strategis untuk menembakkan skenario bahwa krisis 2020 ini sama, bahkan lebih parah dibandingkan krisis ekonomi tahun 2008, tahun lahirnya Bitcoin dari tangan si misterius Satoshi Nakamoto.

Satoshi Nakamoto: Volume Transaksi Bitcoin Mungkin Tak Akan Ada

Pandemi COVID-19 memang jelas-jelas membawa malapetakan besar bagi ekonomi dunia dan memaksa banyak bank sentral menambah pasokan fiat money ke ekonomi. Pemerintah di banyak negara pun melepas beragam stimulus demi penyelamatan.

IMF pun yakin pertumbuhan ekonomi global anjlok 4 persen sekaligus mengajak penghuni planet Bumi ini melakukan “global reset“, mulai dari soal moneter, pendidikan hingga teknologi.

Kekhawatiran datangnya inflasi yang sangat buruk pun bermunculan, campur aduk dengan skenario berlebihan soal akan datangnya hiperinflasi di rumah Paman Sam. Ramalan harga Bitcoin pun datang dari segala penjuru, bisa tembus US$100 ribu hingga US$1 juta per BTC.

Setidaknya narasi inflasi dan kenaikan Bitcoin mulai dimainkan sangat hebat oleh Paul Tudor Jones pada 7 Mei 2020.

Pendiri Tudor Investment Corporation itu tegas mengatakan bahwa dia bertaruh untuk membeli Bitcoin untuk melawan inflasi buruk yang mungkin tiba di masa depan akibat kebijakan bank sentral yang menambah jumlah uang ke dalam pasar.

Sosok Paul Tudor Jones, Pengusaha AS yang Bertaruh Beli Bitcoin untuk Lawan Inflasi

Paul mengatakan, sejak Februari 2020 saja ada sekitar, US$3,9 triliun uang baru di ekonomi oleh Bank Sentral AS (The Fed). Angka itu setara dengan 6,6 persen dari output ekonomi global.

“Bitcoin mengingatkan saya pada emas ketika saya pertama kali masuk ke bisnis [investasi] ini pada tahun 1976. Strategi terbaik memaksimalkan laba adalah dengan memiliki kuda tercepat. Jika saya dipaksa untuk memperkirakan, taruhan saya adalah Bitcoin,” katanya seperti dilansir dari Bloomberg, berdasarkan paparan Paul kepada para investor perusahaannya. 

Sontak kabar itu mendorong trader dan banyak investor langsung membeli Bitcoin, sehingga membuat harga Bitcoin naik cepat menjadi US$10 ribu pada pagi harinya, Jumat (8 Mei 2020).

Apa yang dimaksudkan Paul bahwa ia mengingat Bitcoin sama seperti emas pada tahun 1976 adalah kali pertama emas masuk di pasar berjangka (futures). Kala itu Amerika Serikat sedang mengalami inflasi parah.

Bitcoin Tembus US$10 Ribu (Rp150 Juta) untuk Kali Pertama Sejak Februari 2020

Dan sepertinya, skenario mencapai konsensus itu tampaknya berhasil dan menjadi tegas ketika raksasa PayPal memutuskan membuka layanan jual-beli aset kripto, termasuk Bitcoin di aplikasinya. Itu diumumkan kepada dunia pada 21 Oktober 2020.

Ketika itu harga Bitcoin masih berada di kisaran US$12.300 per BTC, lalu cepat melejit ke US$13.184 pada Kamis, 22 Oktober 2020.

Sebelumnya, ada Square, perusahaan publik yang dipimpin oleh Jack Dorsey, memutuskan membeli Bitcoin senilai US$50 juta (setara dengan Rp738 miliar). Hal itu diumumkan melalui keterangan resminya, Kamis (8 Oktober 2020).

Dan satu lagi momen terkuat adalah ketika perusahaan publik lain, yakni MicroStrategy pimpinan Michael Saylor mengumumkan membeli Bitcoin jauh lebih banyak daripada Square, yakni mencapai 21.454 BTC senilai US$250 juta atau setara dengan Rp3,6 triliun.

Menakar Kajian JP Morgan: Bitcoin Diminati Milenial, Emas Disukai yang Lebih Tua

Langkah besar itu sangat-sangat bermakna, karena di balik MicroSrategy ada perusahaan asset management raksasa, yakni BlackRock sebagai salah satu pemegang saham terbesar. Belakangan pada 20 November 2020, BlackRock muncul naik ke panggung untuk ke sekian kalinya, dan mengatakan bahwa Bitcoin kelak bisa menggantikan emas.

“Investasi kami di Bitcoin adalah bagian dari strategi alokasi modal baru kami. Itu diharapkan memaksimalkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham kami,” kata Michael J. Saylor CEO MicroStrategy, Selasa (11 Agustus 2020) dalam keterangan resminya di situs perusahaan.

Kata Saylor, investasi itu mencerminkan keyakinan perusahaannya bahwa Bitcoin sebagai aset kripto yang paling banyak diadopsi di dunia, adalah penyimpan nilai yang dapat diandalkan dan aset investasi yang menarik dengan potensi apresiasi jangka panjang yang lebih banyak daripada menyimpan uang tunai.

Harus diakui bahwa orkestrasi, narasi dan skenario hebat yang dimainkan selama ini sangat-sangat efektif demi mencapai konsensus betapa Bitcoin itu sangat bernilai, berperan setara dengan emas sebagai store-of-value.
Bukan berarti cara itu keliru, sehingga seolah-olah tak alamiah. Hanya saja, ketika Bitcoin secara teknologi memang sangat unik (objek digital dibuat menjadi langka dalam kurun waktu tertentu) dan kali pertama ada dalam sejarah Homo sapiens, perlu “penanganan” yang sistematis dan masif agar masyarakat sadar.

Toh, kalau memang situasi ekonomi dunia ini baik-baik saja dan emas bisa dipastikan benar-benar sangat langka, Satoshi Nakamoto tak perlu berletih-letih menciptakan Bitcoin dan manusia tidak perlu pula menikmatinya sebagai kelas aset baru yang menarik.

Tapi, di atas itu semua perlu diperhatikan ancaman berikutnya terhadap sistem Bitcoin akibat perkembangan komputasi kuantum di masa depan.
Biarlah tahun ini kita nikmati dulu apa yang ada, karena Bitcoin terbukti berjaya. Dengan capaian harga tertinggi baru itu kita akan menapaki lonjakan baru yang mungkin serupa, sembari mencicipi gurihnya harga-harga tinggi. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO