Rabu, 22 Mei 2019

Kata Bung Dimaz

Meskipun saat ini sudah ada peningkatan efisiensi dengan mengembangkan paradigma konsensus baru, tetap saja blockchain plus konsensus menghasilkan sistem yang amat sulit mengungguli kinerja perangkat basis data tradisional. Barangkali, setelah kita pahami bahwa konsensus bisa menjadi “duri dalam daging” sistem blockchain, di masa depan blockchain berbasis otoritas tunggal akan menjadi lebih tenar daripada blockchain berkonsensus.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ICO berkontribusi dalam gembosnya harga Bitcoin dan Ethereum. Miliaran dollar uang fiat yang disuntikkan seluruh manusia pecinta Bitcoin di muka bumi ke pasar Bitcoin dan Ethereum, yang kemudian dikumpulkan oleh para inisiator ICO pada akhirnya akan dijual kembali ke pasar mata uang kripto dan menarik uang fiat yang susah payah Anda semua kumpulkan. Pada akhirnya, ICO membuat suplai Bitcoin dan Ethereum di pasaran terlalu banyak dan membanting harga kembali ke bumi.
Solusi termudah yang tentu saja paling saya sarankan adalah menggandakan kunci. Seperti halnya ketika Anda kehilangan kunci mobil, Anda masih bisa mengakses mobil Anda manakala Anda pulang ke rumah dan mengambil kunci cadangan mobil Anda. Permasalahan pun hilang seketika. Potensi kehilangan kunci mobil tidak akan membuat Anda jera menikmati berkendara dalam mobil favorit Anda, bukan?
Dalam artikel-artikel sebelumnya telah dibahas tentang sistem Tron secara garis besar, begitu pula model konsensus voting perwakilan, delegated Proof-of-Stake (dPoS), yang ada dalam Tron, serta dua jenis token yang ada dalam Tron, di mana masing-masing memiliki keunggulan dan manfaat yang berbeda. Artikel kali ini membahas bagaimana sumber daya sistem Tron dapat dikelola dengan lebih baik. Pengelolaan sumber daya Tron yang baik tentu saja akan memberikan manfaat terbaik bagi pemilik token TRX maupun para pengguna Tron untuk berbagai keperluan.
PoW amatlah popular seiring makin terkenalnya bitcoin, sementara PoS hadir setelah berbagai kritik dan kecaman dialamatkan kepada para penambang bitcoin yang haus akan energi listrik. Lantas, apakah PoS adalah solusi?
Hadirnya mesin ASIC bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menyebabkan ketidakadilan karena pemodal bintang lima akan mendominasi sekaligus mengeliminasi para penambang kaki lima. Di sisi lain, mesin ASIC membantu peningkatan keamanan sistem dengan mereduksi potensi serangan hingga hampir mustahil dilakukan.
Di masa depan kita bakal melihat kawin silang antara teknologi blockchain yang aman dengan cloud computing yang efisien. Blockchain dirancang sedemikian sehingga masing-masing node akan melakukan penghitungan yang berbeda-beda dan mengirim hasilnya ke blockchain pusat yang dikelola oleh beberapa node saja.
Di masa depan, produk-produk mata uang kripto berkecepatan tinggi akan menggantikan produk-produk lama yang lambat dan inefisien, di mana tidak semua orang dapat berpartisipasi di dalam sistem, kecuali menjadi pengguna. Sementara pemilik rente (baik lama maupun baru) akan menjadi penguasanya.
Vitalik Buterin kerap dibanding-bandingkan dengan Satoshi Nakamoto, yang dipicu oleh kesuksesan Ethereum yang kini menguntit tepat di belakang Bitcoin di dalam daftar mata uang kripto paling bernilai di dunia. Tentu saja, ide tentang smart contract yang ditanam ke dalam mata uang kripto Ethereum membuat produk ini amat berjaya.
Keamanan siber yang semakin menjadi isu penting belakangan ini juga dapat memantik teknologi blockchain untuk dapat diterapkan di semua sektor ekonomi. Informasi transaksi keuangan mendapat jaminan ketersediaan (availability) dan integritas (integrity), tanpa adanya satu titik kelemahan (single point of failure). Jika menilik potensi solusi yang ditawarkan oleh teknologi blockchain, jika memang tidak dapat menyelesaikan persoalan kemiskinan, maka keamanan siber dunia barangkali akan bermasa depan cerah!